Pakai Ritual, Tak Perlu SE MDA Bali
Ngadegang Bendesa Adat Sibetan Setiap 25 Tahun
Sebelum dilakukan serah terima jabatan dari Bendesa Adat Sibetan kepada sang anak atau keturunannya, terlebih dahulu Bendesa Adat Sibetan itu melakukan ritual bertapa selama 42 hari.
AMLAPURA, NusaBali
Tradisi unik dan langka terjadi di Bali. Antara lain, upacara Ngadegang Bendesa Adat Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, digelar setiap 25 tahun sekali. Ngadegang Bendesa ini tidak seperti pada umumnya yang mengacu Perda Nomor 4 tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, dan Surat Edaran MDA Provinsi Bali Nomor 006/SE.Bali/VII/2020. Puncak Karya Usaba Bangkak nanti pada Purnama Kawulu, Sukra Wage Kuningan, Jumat (22/1), sebelumnya digelar tahun 2002.
Calon Bendesa Adat Sibetan datangnya dari seserodan (turunan keluarga) dari keluarga Bendesa Adat Sibetan sebelumnya sehingga jabatan ini disandang turun-temurun. Jabatan penyarikan Desa Adat Sibetan juga sama.
Serah terima jabatan Bendesa Adat Sibetan dilakukan satu rangkaian dengan Karya Usaba Bangkak di Pura Bangkak, Banjar Mumbul, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, setiap 25 tahun sekali. Puncaknya bertepatan pada Purnama Kawulu.
Sebelum dilakukan serah terima jabatan dari Bendesa Adat Sibetan kepada sang anak atau keturunannya, terlebih dahulu Bendesa Adat Sibetan itu melakukan ritual bertapa selama 42 hari. Bendesa ini bergelar Jro Berata di Pura Paibon miliknya.
Selama di Pura Paibon, tak seorang warga diperkenankan menemuinya termasuk keluarganya. Begitu juga Jro Berata dilarang ditemui oleh siapa pun, Arealnya benar-benar disterilkan dan dikeramatkan untuk mempertahankan khusyuknya aktivitas semedi dijalankan selama 42 hari itu. Dia hanya boleh ditemani oleh Jro Mangku atau gadis kecil yang belum menstruasi. Gadis ini bertugas membawa makanan, dupa, dan aneka bunga.
Makanan yang dibawakannya, tanpa daging ayam dan babi, seperti suguhan untuk sang sulinggih. Meski demikian pelayan ini tetap tak diperkenankan bertemu Jro Berata, dan sebaliknya. Suguhan ditaruh di tempat yang telah ditentukan. Kemudian para pelayan itu membunyikan bel berupa kulkul pertanda suguhan sudah siap. Setelah pelayan pergi, Jro Berata menyantapnya. Giliran Jro Berata membunyikan bel itu, pertanda telah selesai makan. Tujuannya, agar sisa suguhan tersebut dirapikan dan diambil. Begitu seterusnya.
Kegiatan selama di Pura Paibon, Jro Berata setiap pagi dan sore melakukan pamuspaan, juga di pura tersebut dibikinkan palinggih sanggah, untuk pengayengan Ida Batara Surya. Setiap lima hari sekali, bertepatan hari Kliwon, Jro Berata semedi ke Pura Telaga Tista, di Banjar Abiantihing Kelod, Desa Adat Sibetan, sekitar 6 kilometer dari Pura Paibon ke arah utara. Dia melakukan upacara masucian memanfaatkan air yang langsung keluar dari mata air. Saat itu pula mengenakan busana serba putih, lanjut muspa dan malukat. Ritual ini dijalaninya pukul 23.00 Wita.
Perjalanan menuju Pura Telaga Tista itu dilakukan sendirian di tengah malam, melintasi jalan setapak. Hal ini guna menghindari bertemu warga setempat. Kemudian malam hari itu juga pamuspaan dilanjutkan ke Pura Bangkak, juga melintasi jalan setapak tanpa menggunakan alas kaki. Jalur yang dilewati Banjar Adat Jungutan, Banjar Yeh Bunga, Pura Telaga Tista, Banjar Adat Taman kemudian kembali ke Pura Paibon, sehingga terhitung PP (pergi pulang) sejauh 12 kilometer. Selama perjalanan, kedua tangannya dicakupkan dalam sikap mamusti dengan menghunus keris pusaka.
Selama perjalanan spiritual oleh Jro Berata ke Pura Telaga Tista dan Pura Bangkak pada tengah malam itu tetap diawasi sejumlah pecalang. Hanya saja dari kejauhan sekitar 200 meter di belakang Jro Berata. Hal itu dilakukan agar saat itu tidak ada warga lalulalang melintas dan menghindari bertemu Jro Berata. Diyakini juga, selama perjalanan tersebut Jro Berata dikawal ratusan makhluk gaib untuk menunjuk jalan.
Perjalanan tengah malam menuju Mata Air Telaga Tista itu, merupakan perjalanan menuju pusat air, sebagai sumber kasucian itu sendiri. Sumber-sumber air itu diyakini sebagai pusat kehidupan, juga bertujuan untuk menghanyutkan kotoran dunia.
Dalam Kitab Jnanasiddhanta di sana ada konsep yoga dewa langit, yakni dewanbarayoga, sebuah jalan yang menghadirkan pencaharian yang begitu terjal.
Perjalanan menuju air dalam konteks sublimasi diri lebih dimaknai perjalanan tiada henti, menuju ke pusat diri, ke pusat nadi, menyelam di kedalaman lautan pikiran yang maha luas.
Sehari jelang puncak Usaba Bangkak, tiba gilirannya Jro Berata untuk menyembelih Jro Gede (istilah kerbau bertanduk emas), persembahan dari Puri Karangasem.
Sebelum disembelih gunakan keris pusaka secara simbolis, terlebih dahulu Jro Gede yang selama ini yang dipelihara di sekitar Pura Paibon, dimandikan ke Telaga Tista, sebanyak tiga kali. Setelah Jro Gede (kerbau bertanduk emas) tiba di Pura Bale Agung, Jro Berata juga tiba di Pura Puseh, disambut upacara banten pamendak disaksikan sejumlah prajuru desa adat. Setelah Jro Gede disemblih menggunakan keris pusaka yang dipegangnya, dilanjutkan Jro Gede itu dipotong digunakan banten bayang-bayang.
Banten bayang-bayang itulah, diarak warga dari Pura Bale Agung, menuju Tulaktanggul, Banjar Kreteg, dan Banjar Mantri, keliling tiga kali selanjutnya menuju Pura Bangkak.
Di Pura Bangkak itulah prosesi upacara Karya Usaba Bangkak dilanjutkan sampai tuntas. Di akhir acara, Jro Berata mewariskan jabatannya kepada sang anak sebagai Bendesa Adat Sibetan. Bertindak sebagai Bendesa Adat Sibetan saat ini yang nanti jadi Jro Berata adalah I Wayan Subadra, sedangkan yang mewarisi jabatan Bendesa Adat Sibetan adalah sang anak, I Wayan Subrata.
Sejak itu masa jabatannya bendesa berakhir, selanjutnya dipegang sang anak selama 25 tahun. Giliran selanjutnya yang jadi Jro Berata, wajib bertapa 42 hari adalah Penyarikan Desa Adat Sibetan I Made Mastiawan, untuk mewariskan jabatan Penyarikan Desa Adat Sibetan kepada sang anak.
"Setelah jabatan Bendesa Adat Sibetan resmi diterima sang anak, berlanjut upacara majaya-jaya. Jadi jabatan Bendesa Adat Sibetan, masa berlakunya 25 tahun, pergantiannya setiap puncak Karya Usaba Bangkak," jelas Penyarikan Desa Adat Sibetan I Made Mastiawan, kepada NusaBali, belum alma ini, di Amlapura.
Kelian Kerta Desa, Desa Adat Sibetan I Wayan Geredeg juga mengatakan demikian. "Memang awig-awig dan dresta yang mengatur seperti itu, jabatan Bendesa Adat Sibetan dan penyarikan, mengacu seserodan," jelasnya.7nantra
Komentar