nusabali

I Gede Tilem Pastika, Putra Mendiang Patih Agung Sugita Lanjutkan Legacy Ayahanda

  • www.nusabali.com-i-gede-tilem-pastika-putra-mendiang-patih-agung-sugita-lanjutkan-legacy-ayahanda

I Gede Tilem Pastika mengaku bukan peran Patih Agung yang diwarisinya karena dia merasa kurang klop dengan watak tersebut. Tetapi semangat almarhum ayahanda yang dijaganya.

DENPASAR, NusaBali - Seniman sekaligus guru besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus (IGB) Sugriwa Denpasar Prof Dr Drs I Wayan Sugita MSi yang dikenal dengan peran ikonik Patih Agung di drama gong, baru saja berpulang. Legacy (warisan) yang ditinggalkannya kini dilanjutkan putra sulungnya I Gede Tilem Pastika.
Kepergian Prof Sugita meninggalkan seorang istri, Ni Wayan Sukasih. Dua anak yakni sang putra sulung, Tilem, dan seorang putri Ni Kadek Yuni Gitasih. Di antara putra-putrinya, Tilem lah yang mengikuti jejak mendiang di dunia seni. Sedangkan, sang adik menempuh jalan berbeda di birokrasi sebagai lulusan IPDN.

“Sejak dini saya sudah diarahkan untuk terjun ke dunia seni pertunjukan, walaupun tidak fokus ke drama gong. Tetapi, beberapa kali saya terlibat langsung baik itu memainkan peran ataupun jadi orang di balik layar,” beber Tilem ketika ditemui di Denpasar, Kamis (8/1/2026).

Tilem sejak dini memandang sang ayah sebagai role model. Dia ditempa berkesenian sejak dini dan ikut menemani ayahanda pentas ke berbagai daerah. Sampai akhirnya, dia menyeriusi dunia seni dengan menempuh pendidikan di bidang Seni Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali sampai jenjang magister.

Kini, Tilem yang juga dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Fakultas Dharma Acarya UHN IGB Sugriwa adalah mahasiswa program studi Doktor Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Semuanya menjadi bekal yang disiapkan untuk meneruskan legacy yang telah dibangun mendiang Prof Sugita.

Meski begitu, Tilem menilai, tokoh antagonis Patih Agung merupakan kekhasan peran drama gong yang telah melekat pada sosok sang ayah. Dia tidak akan memaksakan menjaga legacy itu dengan cara ikut memerankan Patih Agung. Sebab, Tilem mengaku kurang klop dengan watak tersebut.

“Bapak sempat bilang, ‘Tidak usah kamu copy-paste. Seberapa jauh kamu bisa, bahkan kalau bisa lebih dikembangkan lagi.’ Karena latar saya dengan bapak berbeda. Bapak itu sastra dan budaya Hindu, saya murni di akademisi kesenian. Tapi, saya bisa masuk dengan peran Raja Buduh,” ungkapnya.

I Wayan Sugita (almarhum) selaku Patih Agung.-IST 

Akademisi dan seniman asal Banjar Bukit Batu, Kelurahan Samplangan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar ini menegaskan akan melanjutkan nilai-nilai yang diwariskan Prof Sugita. Nilai-nilai tersebut seperti beryadnya, bersosial, dan menebar senyum melalui kesenian. “Bukan peran Patih Agung-nya, tetapi semangatnya yang akan saya warisi,” lanjut Tilem.

Selain meninggalkan istri, anak, dan cucu, kepergian Prof Sugita juga meninggalkan komunitas seni yang dirintisnya sejak 2004. Ketika drama gong mulai surut awal milenium, Prof Sugita beradaptasi dengan mendirikan Sekaa Demen Ulian Tresna (Sekdut) Bali.

Melalui komunitas itu, mendiang bertransformasi ke bondres dengan peran Balian Pengeng. Kemudian, menggeluti seni tari topeng sampai menggagas wayang drama gong. Namun, DNA drama gong yang diwarisinya dari sang ayah, I Ketut Merta alias Patih Arya Barak, tidak pernah ditinggalkan—begitu pula peran Patih Agung.

Tilem menegaskan, komunitas Sekdut tetap akan berjalan sepeninggal sang pendiri. Di samping itu, ananda Prof Sugita kelahiran 3 April 1992 ini telah merintis Sekdut Bali Performing Art Community (Sekdut Junior) yang diisi seniman muda. Sekdut Junior berfokus pada pengembangan seni pertunjukan eksperimental.

“Sudah pasti lanjut karena di sini ada sekaa yang dirintis bapak, kemudian saya dan teman-teman yang lebih muda mengembangkan Sekdut Junior yang juga besutan bapak,” jelas Tilem. 

Meski Patih Agung-nya Prof Sugita tiada dua, Tilem tetap berupaya melanjutkan legacy sang ayah dengan menjaga nilai-nilai dan komunitas yang telah dibangun tetap hidup. 

DIberitakan sebelumnya, Prof Dr Drs I Wayan Sugita MSi berpulang pada Rabu (7/1/2026) pukul 19.30 WITA di RSUD Wangaya, Denpasar. Tilem menuturkan bahwa sang ayah berpulang pasca-didiagnosa mengalami infeksi paru. Sebelumnya, mendiang sempat dilarikan ke RSUD Wangaya setelah kondisi kebugarannya menurun pada Senin (22/12/2025) lalu. “Saya kira jantungnya kumat karena punya riwayat jantung koroner sejak 1998 dan sudah pasang ring enam. Jantung aman, tetapi gulanya naik dan divonis stroke motorik setengah badan bagian kiri,” beber Tilem ketika ditemui di rumah duka, Jalan Lembu Sura, Desa Ubung Kaja, Denpasar, Kamis (8/1/2026) siang.

Tilem mengungkapkan bahwa sang ayah sempat mengeluh batuk sebelum kondisinya drop pada 22 Desember 2025 lalu. Bahkan, Senin pagi kala itu, mendiang sempat membimbing mahasiswa pascasarjana. Sorenya, mendiang jalan santai bersama sahabat di Taman Kota Lumintang. “Sempat jalan satu putaran. Setelah itu, kata temannya, bapak mulai tidak fokus. Diajak ngobrol tidak menyahut. Matanya kosong. Kemudian bapak didudukkan dan mengeluh tidak enak badan. Akhirnya dipanggilkan ambulans oleh teman-temannya,” kata Tilem.

Dalam kondisi stroke, mendiang lantas dirawat beberapa hari di RSUD Wangaya, Denpasar—dan muncul indikasi adanya infeksi paru. Hal tersebut diakibatkan saraf menelan sudah tidak berfungsi sehingga dahak sukar dikeluarkan. Dahak tersebut lantas masuk ke paru-paru. “Pada 2 Januari itu sudah bisa pulih dalam artian kesadaran tetap, gula, tensi, dan napas stabil sehingga diizinkan pulang. Tetapi, secara motorik bapak belum bisa bergerak maupun duduk karena setengah kiri lumpuh,” jelas Tilem.

Mendiang lantas dirawat keluarga di rumah dengan prosedur fisioterapi bagi penderita stroke tetap berjalan. Pada Rabu (7/1/2026), keluarga melakukan kontrol ke RSUD Wangaya dan kembali pulang. Namun, kondisi mendiang tiba-tiba menurun ketika kembali ke rumah sekitar pukul 14.00 WITA. Khawatir dengan kondisi mendiang, Tilem dan keluarga melarikan lagi sang ayahanda ke IGD RSUD Wangaya, Rabu sekitar pukul 16.30 WITA. Dokter menyatakan mendiang mengalami penyumbatan rongga napas karena tertutup lendir dahak.

“Dilakukan intubasi, kemudian bapak dinyatakan henti napas namun masih ada nadi. Setelah itu, dinyatakan henti jantung kemudian bapak dinyatakan meninggal pukul 19.30,” tutur Tilem. 7 rat

Komentar