Tapel Leak Ulu Kambing Karya Seniman Muda Bangli Curi Perhatian
GIANYAR, NusaBali.com – Sebuah tapel dengan visual menyeramkan berbentuk kepala kambing mencuri perhatian pecinta seni tradisi Bali. Karya bertema Leak Ulu Kambing itu merupakan buah tangan seniman muda asal Kabupaten Bangli, I Putu Agus Dika Pratama, 18, yang mengekspresikan kisah pengeleakan melalui sentuhan seni tapel ogoh-ogoh.
Dika, pemuda asal Banjar Selat Peken, Susut, Bangli, menuturkan ide karyanya berangkat dari pengamatan sederhana terhadap hewan ternak kambing. Dari sana, ia teringat kisah-kisah pengeleakan yang hidup dalam tradisi Bali, lalu memvisualisasikannya ke dalam bentuk tapel dengan karakter kepala kambing yang terkesan magis dan menyeramkan.
“Tema tapel yang saya buat Leak Ulu Kambing. Saya ingin mengemas cerita pengeleakan itu ke dalam karya seni tapel,” ujar Dika.
Tapel tersebut dibuat dengan anggaran relatif minim, sekitar Rp300 ribu dari awal hingga akhir pengerjaan. Ukurannya sekitar 20 sentimeter ke samping dan 30 sentimeter ke bawah. Meski demikian, Dika mengakui proses pembuatannya cukup menantang, terutama pada pembentukan ekspresi wajah.
“Saat ini tren tapel cenderung realis, jadi kesesuaian bentuk, warna, detail, hingga finishing harus benar-benar matang,” katanya. Menurutnya, justru pada tahap ekspresi itulah karakter karya diuji.
Dika bukan pendatang baru di dunia lomba seni tapel. Ia sebelumnya pernah mengikuti sejumlah lomba di Tampaksiring, Tedung, dan Bangli. Dari pengalaman tersebut, ia sempat meraih juara harapan dalam lomba tapel tingkat Kabupaten Bangli, yang semakin memotivasinya untuk terus berkarya.
Karya tapel Leak Ulu Kambing tersebut kemudian ditampilkan dalam ajang Angkling Festival ke-2 Tahun 2025 yang digelar oleh Sekaa Teruna (ST) Cita Muda Mekar, Banjar Angkling, Desa Bakbakan, Gianyar. Karya Dika mengikuti kategori Lomba Tapel Ogoh-ogoh yang berlangsung pada 28 Desember 2025.
Mengikuti ajang tersebut, Dika mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga. Ia menilai Angkling Festival berlangsung meriah dengan jumlah peserta yang cukup banyak, sehingga membuka ruang belajar dan bertukar gagasan antarseniman tapel. “Saya jadi lebih banyak mendapat ilmu dan bisa terus berbenah agar karya ke depan lebih baik lagi,” ujarnya.
Menurut Dika, perbedaan gaya dalam seni tapel merupakan hal wajar. Ia menegaskan bahwa karya yang tidak sepenuhnya realis bukan berarti keliru. “Seni itu relatif. Setiap seniman punya karakter dan ciri khas masing-masing. Semua orang berhak memvisualisasikan karya seninya sendiri,” katanya.
Ia pun berharap ke depan, event-event lomba kesenian seperti lomba tapel dan ogoh-ogoh mini semakin berkembang dan mendapat perhatian lebih dari pemerintah kabupaten maupun kota. “Selain menjaga tradisi, lomba seperti ini juga memberi kontribusi positif bagi banyak aspek,” ujarnya.
Sebagai informasi, Angkling Festival ke-2 digelar pada 27–30 Desember 2025 dengan mengusung tema Praja Bawa Ikang Dresta, yang bermakna membangun kewibawaan tanah kelahiran melalui pewarisan tradisi.
Festival ini menghadirkan Lomba Mewarnai dan Menggambar tingkat TK–SD (27 Desember), Lomba Tapel Ogoh-ogoh (28 Desember), serta Lomba Tari Rangda Superstar (30 Desember), yang seluruhnya dipusatkan di Banjar Angkling, Bakbakan, Gianyar. *m03
Komentar