nusabali

Ogoh-Ogoh Gerenceng Tafsir Air dan Rwa Bhineda di Kasanga Festival 2026

  • www.nusabali.com-ogoh-ogoh-gerenceng-tafsir-air-dan-rwa-bhineda-di-kasanga-festival-2026

DENPASAR, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Gerenceng, Banjar Gerenceng, Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, mulai mematangkan garapan ogoh-ogoh untuk menyambut Tahun Baru Caka 1948 yang dirangkaikan dengan Kasanga Festival 2026. Pada tahun ini, ST Gerenceng mengusung tiga tokoh karakter ogoh-ogoh yang terinspirasi dari tema air dan refleksi fenomena banjir yang sempat melanda Bali.

Ketua ST Gerenceng Anak Agung Ngurah Airlangga Putra Utara, mengatakan kepengurusan yang baru dilantik tetap optimistis menuntaskan garapan ogoh-ogoh meski proses dimulai relatif terlambat. Pembuatan ogoh-ogoh baru dimulai pada 4 Januari 2026, lantaran sebelumnya ST Gerenceng fokus pada rangkaian perayaan hari ulang tahun ST.

“Kami baru mulai. Meski waktunya mepet, kami tetap optimistis bisa finish dan ikut berpartisipasi dalam lomba ogoh-ogoh Kasanga Festival 2026,” ujar Airlangga, alumni Universitas Udayana jurusan hukum, saat ditemui di Banjar Gerenceng.

Pada karya tahun ini, ST Gerenceng menampilkan tiga tokoh karakter yang terdiri atas sosok Tonya sebagai penunggu sungai serta dua tokoh manusia. Ketiga tokoh tersebut dirangkai dalam satu alur cerita yang merefleksikan tema air sekaligus fenomena banjir sebagai cermin kehidupan. Airlangga menjelaskan, konsep tersebut dipadukan dengan nilai-nilai filosofis Hindu Bali, terutama ajaran Rwa Bhineda tentang keseimbangan dua hal yang berbeda namun saling melengkapi.
“Manusia hidup berdampingan dengan alam. Dari situ kami mengaitkan tema air dengan Rwa Bhineda, Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha, Tri Rna, hingga Panca Yadnya. Semua itu menjadi landasan filosofis agar karya ini tidak sekadar visual, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri,” jelasnya.

Dari sisi anggaran, ST Gerenceng mengalokasikan dana sekitar Rp20 juta. Dengan anggaran yang terbatas, mereka tetap bertekad mengikuti lomba ogoh-ogoh di tingkat Kota Denpasar maupun Desa Pemecutan Kaja. Menurut Airlangga, keterbatasan dana justru dijadikan ruang belajar bagi generasi muda ST untuk berkarya dan berproses bersama.

“Bagi kami, ogoh-ogoh bukan hanya soal lomba, tetapi juga wadah pembelajaran dan regenerasi. Kami ingin adik-adik ST punya ruang untuk belajar berkesenian dan bekerja sama,” katanya.

Dalam proses pembuatannya, ST Gerenceng memilih menggunakan ulatan bambu sebagai bahan utama. Selain untuk menekan biaya, pilihan ini juga menekankan semangat gotong royong serta kearifan lokal dalam berkarya ogoh-ogoh.

Airlangga berharap rangkaian perayaan Caka 1948 dan pelaksanaan Kasanga Festival 2026 dapat berjalan lancar serta menjadi daya tarik tersendiri ke depan. Ia menilai, tema yang jelas dan kontekstual seperti air dapat memberi arah yang lebih kuat bagi kreativitas ogoh-ogoh sekaligus mengajak masyarakat merenungkan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. *m03

Komentar