nusabali

Nelayan di Tabanan Diimbau Waspada

Gelombang Tinggi dan Cuaca Tak Menentu

  • www.nusabali.com-nelayan-di-tabanan-diimbau-waspada

TABANAN, NusaBali - Para nelayan di Kabupaten Tabanan dan sekitarnya diimbau meningkatkan kewaspadaan saat melaut menyusul potensi gelombang tinggi dan cuaca laut yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir. Nelayan juga diminta rutin memantau prakiraan cuaca harian karena perubahan kondisi di laut dapat terjadi dengan cepat.

Imbauan tersebut disampaikan Ketua Peguyuban Nelayan Bali, I Ketut Arsana Yasa, Kamis (8/1). Dia mengatakan, saat ini Bali memasuki bulan ketujuh dalam perhitungan kalender Bali yang ditandai cuaca labil, berupa hujan disertai angin kencang ringan. Memasuki bulan kedelapan, kondisi cuaca diperkirakan akan didominasi angin kencang yang berpotensi memicu badai.

“Kecepatan angin pada pagi hari berkisar 10 hingga 16 kilometer per jam, dengan hembusan angin bisa mencapai 24 sampai 30 kilometer per jam. Kondisi ini semakin berbahaya jika disertai mendung,” ujar Arsana.

Selain angin kencang dan gelombang tinggi, potensi hujan deras juga masih terjadi dan hampir merata di seluruh wilayah Bali. Karena itu, nelayan diminta tidak mengabaikan informasi cuaca sebelum melaut demi keselamatan bersama.

Untuk mengurangi risiko, nelayan disarankan tidak melaut lebih dari tiga mil laut atau sekitar 5,5 kilometer dari bibir pantai. “Cuaca sekarang berubah setiap hari. Yang paling relevan dan akurat adalah melihat perkiraan cuaca H-1 sebelum melaut,” tegasnya.

Di tengah kondisi cuaca yang belum stabil, Arsana menyebut hasil tangkapan nelayan justru mulai melimpah. Sejumlah komoditas bernilai tinggi seperti lobster serta ikan komersial ekspor, di antaranya ikan layur, kapasan, dan dorang, mulai banyak didapatkan.

Dari sisi harga, ikan dorang saat ini menjadi primadona dengan harga mencapai Rp280 ribu per kilogram. Ikan layur juga mengalami kenaikan harga menjadi sekitar Rp100 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

Sementara lobster dijual di kisaran Rp325 ribu hingga Rp350 ribu per kilogram. “Jenis tangkapan ini sudah mulai banyak sejak Oktober dan diperkirakan berlangsung hingga April,” ujarnya.

Kondisi tersebut memberi angin segar bagi nelayan, meski tetap diiringi kewaspadaan tinggi menghadapi cuaca laut yang belum sepenuhnya bersahabat. des

Komentar