nusabali

Spirit Caka 1948, Ogoh-Ogoh Ramah Lingkungan Tumbuh dari Abian Nangka

  • www.nusabali.com-spirit-caka-1948-ogoh-ogoh-ramah-lingkungan-tumbuh-dari-abian-nangka

DENPASAR, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Tunjung Mekar, Banjar Abian Nangka Kelod, Jalan Noja, Kesiman Petilan, Denpasar Timur, menyiapkan karya ogoh-ogoh untuk menyambut Tahun Baru Caka 1948. Penggarapan ogoh-ogoh ini sekaligus menjadi penanda kebangkitan ST Tunjung Mekar di bawah kepengurusan baru.

Ketua Panitia ST Tunjung Mekar, Surya Natasara, 21, mengatakan proses pembuatan ogoh-ogoh telah dimulai sejak 16 Desember 2025. Meski dengan anggaran terbatas, pihaknya tetap berkomitmen menghadirkan karya terbaik. 

“Untuk tahun 2026 ini kami menganggarkan dana kurang lebih Rp20 juta. Rencananya akan menampilkan dua hingga tiga tokoh karakter, Astungkara jika waktu memungkinkan akan kami maksimalkan,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).

Dalam penggarapan ogoh-ogoh Caka 1948 ini, ST Tunjung Mekar tetap konsisten menggunakan bahan ramah lingkungan. Menurut Surya, penggunaan bahan ulatan seperti bambu, rotan, kertas, dan material alami lainnya bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi bagian dari kesadaran kolektif menjaga lingkungan.

“Tahun 2026 ini juga menjadi momentum satu dekade sejak ogoh-ogoh di Denpasar sepenuhnya beralih ke bahan ulatan. Kalau di 2015 masih banyak bagian seperti tapel, jari tangan, dan kaki menggunakan gabus, pada 2016 sudah mulai serentak full ulatan. Spirit itu yang ingin kami jaga,” jelasnya.

Pada Kasanga Festival Tahun Caka 1948, ST Tunjung Mekar memastikan diri ikut ambil bagian dalam lomba ogoh-ogoh tingkat Kota Denpasar yang diselenggarakan Yowana Kota Denpasar. Namun, Surya menegaskan, keikutsertaan mereka bukan semata mengejar prestasi.

“Bagi kami, ogoh-ogoh adalah ruang ekspresi seni untuk mencerminkan Denpasar sebagai kota berbudaya dan kreatif. Ini juga bentuk implementasi spirit Atma Kerthi, tema Provinsi Bali 2026, melalui penguatan sumber daya manusia lokal dan pengelolaan sumber daya alam tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan,” ujarnya.

Terkait perkembangan teknologi, Surya mengakui sentuhan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), mulai memberi warna baru dalam proses kreatif ogoh-ogoh. ST Tunjung Mekar pun berupaya beradaptasi tanpa meninggalkan pakem seni tradisi Bali.

“Dengan perkembangan zaman, karya ogoh-ogoh juga mengalami perubahan. Dari yang dulu terlihat kaku, sekarang mulai lebih realistis. Ini juga menjadi ajang comeback kami setelah beberapa tahun absen dari lomba di Kota Denpasar,” katanya.

Surya menambahkan, dimulainya proses pembuatan lebih awal juga menjadi strategi untuk mematangkan konsep dan pengerjaan. Selain itu, penggunaan bahan ramah lingkungan dinilai mampu menghidupkan kembali material bekas agar memiliki nilai guna dan nilai seni.

“Harapan kami, Caka 1948 menjadi momentum perenungan dan perubahan ke arah yang lebih baik. Setelah berbagai peristiwa di tahun 2025, mulai dari bencana alam hingga persoalan sosial, ogoh-ogoh ini kami niatkan sebagai simbol kebangkitan, kesadaran, dan refleksi bersama,” pungkasnya. *m03

Komentar