nusabali

Prabowo: Kritik Boleh, Fitnah Tak Bagus

  • www.nusabali.com-prabowo-kritik-boleh-fitnah-tak-bagus

Prabowo menegaskan, bahwa dirinya memilih untuk memaafkan pihak-pihak tersebut karena lebih mengutamakan persatuan dibandingkan perpecahan

JAKARTA, NusaBali
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan, bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik konstruktif. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak berujung menjadi fitnah, karena perbuatan tersebut dilarang oleh semua agama. Hal itu diungkapkan Prabowo saat memberi sambutan dalam Perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor, Senayan, Jakarta, Senin malam (5/1).

“Silakan koreksi, silakan kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah, saya yakin di agama Kristen begitu juga,” ujar Prabowo dalam keterangan yang diterima, Selasa (6/1). 

Prabowo menyampaikan hal tersebut, sebagai respons atas dinamika yang berkembang belakangan ini, terutama di ranah media sosial. Ia menilai, media sosial sejatinya memiliki dampak positif, namun tidak jarang dimanfaatkan untuk menggiring opini publik tanpa bisa dibuktikan kebenarannya. Hal itu, lanjutnya, justru hanya memicu kegaduhan. Melihat situasi tersebut, ia kembali mengingatkan bahwa kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kecurigaan, dan kebencian bisa merusak Indonesia sebagai bangsa yang besar. “Banyak pakar itu bicara asal bicara. Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikiran Prabowo Subianto. Kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast,” kelakarnya. 

Kendati demikian, Prabowo menegaskan, bahwa dirinya memilih untuk memaafkan pihak-pihak tersebut karena lebih mengutamakan persatuan dibandingkan perpecahan. Ia pun, merujuk pada ajaran dalam Alkitab yang menekankan pentingnya sikap saling mengampuni. “Di ajaran Nasrani harus memaafkan. Forgive us our trespasses as we forgive those who trespass against us. Jadi saya sebenernya selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan, saya ingin persatuan daripada perpecahan,” pungkasnya.

Prabowo menegaskan, bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik konstruktif dari masyarakat. Menurutnya, kritik justru penting untuk membantu pemerintah mengevaluasi kebijakan yang telah dijalankan. Bagi Prabowo, wajar bila seseorang merasa tidak nyaman saat menerima kritik atau koreksi. Namun bagi dirinya, kritik justru menjadi pengingat dan bentuk perlindungan dalam menjalankan tugas sebagai kepala negara. “Kalau dikritik, malah kita harus bersyukur kalau saya dikoreksi. Saya dibantu, saya diamankan,” tutur Prabowo. 

Ia kemudian mencontohkan satu peristiwa, di mana kritik masyarakat membuatnya mengevaluasi kembali langkah yang diambilnya. Kala itu, Prabowo menegaskan bahwa ia berusaha mencerna dan menyikapi kritik tersebut seobjektif mungkin. “Kritik, koreksi adalah menyelamatkan. Jadi saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak ‘Prabowo mau hidupkan lagi militerisme’. Saya koreksi lagi, apa benar? Saya panggil ahli hukum untuk mengkaji mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” lanjut mantan Danjen Kopassus ini.

Namun, ia menegaskan bahwa kritik jangan sampai kebablasan menjadi fitnah. Sebab menurutnya, kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, perpecahan, dan kebencian hanya akan merusak persatuan bangsa. Terlebih, semua agama melarang umatnya untuk melakukan tindakan tersebut. Di sisi lain, ia juga mengakui adanya kritik yang bernada sinis dan bertujuan menjatuhkan pemerintah. Kendati begitu, Prabowo menegaskan bahwa dirinya memilih menjawab hal tersebut dengan kerja dan bukti nyata. “Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja,” jelas Prabowo. k22

Komentar