Puluhan Bencana Terjadi Selama Nataru
BPBD Buleleng Siaga Hadapi Puncak Musim Hujan
SINGARAJA, NusaBali - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng mencatat sebanyak 27 kejadian bencana terjadi selama pelaksanaan Posko Kesiapsiagaan Bencana Natal dan Tahun Baru (Nataru) 16 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Bencana tersebut tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng I Gede Suyasa, dikonfirmasi Selasa (6/1), mengatakan jenis bencana yang terjadi didominasi pohon tumbang dan tanah longsor. Selain itu, BPBD juga menangani kejadian cuaca ekstrem hingga kebakaran. “Dari 27 kejadian itu, terdapat dua bangunan mengalami rusak sedang dan 11 bangunan rusak ringan,” ujar Suyasa.
Suyasa menyebutkan, kejadian longsor dan pohon tumbang masih berpotensi terjadi mengingat saat ini Buleleng memasuki puncak musim hujan. Berdasarkan informasi dari BMKG, periode Desember hingga Februari merupakan puncak musim hujan secara umum di wilayah Buleleng.
BPBD Buleleng pun terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Denpasar, jika ada peringatan dini cuaca ekstrem. Info resmi dari BMKG terkait potensi pergerakan siklon juga diupdate setiap saat. Terutama jika kecepatan angin berpotensi mencapai 65 kilometer per jam.
Sementara itu, dari evaluasi penanganan bencana selama Posko Nataru, disebut Suyasa berjalan lancar. Respons masyarakat dinilai sangat baik karena cepat melaporkan kejadian bencana. Penanganan di lapangan juga didukung oleh berbagai pihak, mulai dari TNI/Polri, pemerintah desa, hingga relawan.
Ia mencontohkan, pernah terjadi tiga kejadian bencana secara bersamaan di wilayah Sangket, Alasangker, dan Sambangan. Namun berkat koordinasi yang baik, seluruh kejadian tersebut dapat ditangani dalam waktu sekitar 30 menit sebelum tim berpindah ke lokasi lain.
Untuk mendukung kesiapsiagaan, BPBD Buleleng setiap tahun menambah peralatan penanggulangan bencana. Pada tahun 2025, BPBD telah mengadakan 19 unit gergaji mesin (chainsaw). Ke depan, pada perubahan anggaran 2026, BPBD berencana menambah chainsaw berukuran lebih besar serta peralatan pendukung lainnya.
“Peralatan sementara cukup, tapi kita tetap perlu cadangan untuk antisipasi kejadian skala besar. Mesin bisa saja rusak sewaktu-waktu,” jelas pejabat asal Tejakula ini.
Selain peralatan berat, BPBD juga menyiapkan peralatan sederhana seperti cangkul dan sekop untuk kegiatan gotong royong bersama warga. Sementara untuk penanganan yang membutuhkan alat berat dan pemangkasan pohon, BPBD terus berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas PUTR.7 lik
Komentar