Kelola Sampah Residu, SMPN 5 Abiansemal Mandiri Bangun Incinerator Sederhana Minim Asap
Masih Tahap Trial and Error, Perlu Pendampingan Uji Kelayakan
MANGUPURA, NusaBali.com – SMPN 5 Abiansemal di Banjar Dirgahayu, Desa Adat Gerih, Desa/Kecamatan Abiansemal mungkin satu dari sedikit sekolah di Badung yang berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis sumber. Bahkan, sampah residu pun sedang diupayakan dikelola sekolah secara mandiri.
SMP negeri termuda di Kecamatan Abiansemal ini selama dua tahun terakhir menggalakkan pengelolaan sampah kepada warga sekolah. Sampah organik diolah melalui lima teba modern dan 10 lubang biopori, sementara sampah plastik dipilah dan dikerjasamakan dengan Yellow Garden Community.
“Incinerator ini kami bangun untuk mengelola sampah yang susah diolah yaitu residu seperti pulpen, tisu, hingga sampah pembungkus makanan yang kotor seperti kertas minyak,” beber Kepala SMPN 5 Abiansemal I Made Suardana ketika ditemui, Selasa (6/1/2026).
Kata Suardana, sampah residu yang dihasilkan sekolah sejatinya tidak banyak yakni satu kantong polybag sampah atau lebih sedikit dalam sebulan. Sampah residu ini menyusun sekitar 5 persen atau lebih sedikit dari keseluruhan limbah sekolah yang dihasilkan selama sebulan.
Kepala Sekolah (Kasek) asal Banjar Juwet, Desa/Kecamatan Abiansemal ini menuturkan Spancab membangun incinerator dengan berguru dari tutorial YouTube. Meski begitu, pengembangan lebih lanjut secara mandiri dilakukan sekolah menyesuaikan tantangan yang dihadapi.
“Incinerator kami ini terdiri dari tungku pembakaran tertutup berukuran kurang lebih 2 x 1 meter. Di dalamnya ada blower untuk menjaga api dan mendorong asap ke cerobong yang terhubung blower penghisap asap,” tutur Suardana.
Cerobong tersebut tidak dialirkan ke udara lepas, melainkan ke dalam buis berisi air yang terbetonisasi dan kedap air. Ketika asap mengalir ke cerobong, mesin pemompa menyemprotkan air ke dalam cerobong sehingga kandungan dalam asap pembakaran larut ke dalam air.
“Buis penampung limbah itu kami beton sedemikian rupa agar tidak merembes dan mencemari lingkungan. Tentu, incinerator ini belum sempurna dan terus kami lakukan trial and error,” jelas Suardana.
Saat ini, incinerator sederhana ini maksimal dioperasikan dua kali sebulan ketika jumlah sampah residu sudah ideal untuk melakukan pembakaran. Suardana mengakui incinerator Spancab belum sempurna dan perlu pengecekan kelayakan serta kadar polutannya—meski sudah minim asap.
“Kami berencana mengecek apakah sudah layak atau belum, tetapi kurang paham harus ke mana kami bawa—apakah itu DLHK atau bagaimana. Sebab, kami ingin mengetahui secara riil dampak lingkungannya,” tegas Suardana.
Sementara itu, incinerator sederhana ini bakal terus dikembangkan. Upaya ini demi menjaga semangat sekolah untuk menyelesaikan sampah sekolah di sekolah, terutama yang dapat dikelola mandiri seperti sampah organik dan kini sampah residu.
Kasek Suardana juga berharap, apa yang dilakukan sekolah dapat menjadi edukasi pengelolaan sampah bagi 1.000 lebih warga Spancab. Ia yakin, siswa akan terinspirasi meneruskan upaya serupa di rumah jika apa yang dilakukan di sekolah berdampak nyata. *rat
Setelah berhasil mengelola sampah organik dan sampah lain yang bernilai ekonomi karena dapat didaur ulang, kini sekolah berjuluk Spancab itu sedang menggarap alat pembakaran limbah padat minim asap atau disebut incinerator. Incinerator ini dibangun secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi sederhana.
“Incinerator ini kami bangun untuk mengelola sampah yang susah diolah yaitu residu seperti pulpen, tisu, hingga sampah pembungkus makanan yang kotor seperti kertas minyak,” beber Kepala SMPN 5 Abiansemal I Made Suardana ketika ditemui, Selasa (6/1/2026).
Kata Suardana, sampah residu yang dihasilkan sekolah sejatinya tidak banyak yakni satu kantong polybag sampah atau lebih sedikit dalam sebulan. Sampah residu ini menyusun sekitar 5 persen atau lebih sedikit dari keseluruhan limbah sekolah yang dihasilkan selama sebulan.
Kepala Sekolah (Kasek) asal Banjar Juwet, Desa/Kecamatan Abiansemal ini menuturkan Spancab membangun incinerator dengan berguru dari tutorial YouTube. Meski begitu, pengembangan lebih lanjut secara mandiri dilakukan sekolah menyesuaikan tantangan yang dihadapi.
“Incinerator kami ini terdiri dari tungku pembakaran tertutup berukuran kurang lebih 2 x 1 meter. Di dalamnya ada blower untuk menjaga api dan mendorong asap ke cerobong yang terhubung blower penghisap asap,” tutur Suardana.
Cerobong tersebut tidak dialirkan ke udara lepas, melainkan ke dalam buis berisi air yang terbetonisasi dan kedap air. Ketika asap mengalir ke cerobong, mesin pemompa menyemprotkan air ke dalam cerobong sehingga kandungan dalam asap pembakaran larut ke dalam air.
“Buis penampung limbah itu kami beton sedemikian rupa agar tidak merembes dan mencemari lingkungan. Tentu, incinerator ini belum sempurna dan terus kami lakukan trial and error,” jelas Suardana.
Saat ini, incinerator sederhana ini maksimal dioperasikan dua kali sebulan ketika jumlah sampah residu sudah ideal untuk melakukan pembakaran. Suardana mengakui incinerator Spancab belum sempurna dan perlu pengecekan kelayakan serta kadar polutannya—meski sudah minim asap.
“Kami berencana mengecek apakah sudah layak atau belum, tetapi kurang paham harus ke mana kami bawa—apakah itu DLHK atau bagaimana. Sebab, kami ingin mengetahui secara riil dampak lingkungannya,” tegas Suardana.
Sementara itu, incinerator sederhana ini bakal terus dikembangkan. Upaya ini demi menjaga semangat sekolah untuk menyelesaikan sampah sekolah di sekolah, terutama yang dapat dikelola mandiri seperti sampah organik dan kini sampah residu.
Kasek Suardana juga berharap, apa yang dilakukan sekolah dapat menjadi edukasi pengelolaan sampah bagi 1.000 lebih warga Spancab. Ia yakin, siswa akan terinspirasi meneruskan upaya serupa di rumah jika apa yang dilakukan di sekolah berdampak nyata. *rat
Komentar