nusabali

Krisis Chip Memori, Harga Perangkat IT Diprediksi Terus Meningkat

  • www.nusabali.com-krisis-chip-memori-harga-perangkat-it-diprediksi-terus-meningkat

DENPASAR, NusaBali - Harga perangkat teknologi informasi (IT) diperkirakan terus mengalami kenaikan, terdorong oleh pembaruan spesifikasi tahunan sekaligus lonjakan permintaan data center AI yang memicu krisis chip memori.

Chairman Asosiasi Profesional IT Bali, I Wayan Eka Putra Kunindra Jaya, Senin (5/1) mengatakan, harga RAM dan SSD—komponen utama PC dan laptop—belakangan meningkat hingga 100 persen. Dampaknya terasa pada laptop, PC, dan smartphone. Riset pasar memprediksi harga rata-rata smartphone global akan naik sekitar 6,9 persen tahun ini, terutama akibat tekanan biaya chip. 

Menurut Eka, hampir seluruh perangkat IT ke depan akan terintegrasi dengan fitur AI. Teknologi Large Language Model (LLM) kini dapat digunakan lintas perangkat, bergantung pada kebiasaan dan tingkat pemahaman pengguna. “Meskipun ada tren peningkatan perangkat dengan RAM 4GB, idealnya smartphone masa kini berkapasitas 6–8 GB untuk mendukung aktivitas multitasking dan layanan berbasis AI,” jelasnya.

Meski demikian, perangkat kerja bagi profesional IT saat ini belum diwajibkan memiliki fitur AI khusus. Layanan AI seperti ChatGPT, Gemini, ataupun Copilot, masih bisa diakses melalui perangkat konvensional. Tren industri perangkat keras kini mulai mengarah pada penggunaan prosesor dengan Neural Processing Unit (NPU), yang dirancang untuk mempercepat komputasi AI dan machine learning.

Eka menegaskan, pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak menggerus peran profesional IT, melainkan justru menambah kebutuhan tenaga ahli di bidang ini. Proyeksi 2026 menunjukkan permintaan profesional IT akan meningkat seiring transformasi digital yang makin masif.

“Fondasi disiplin ilmu IT tetap menjadi modal utama di era AI. Kehadiran AI bukan ancaman, tetapi peluang, asalkan profesional IT terus memperbarui keterampilan sesuai kebutuhan industri,” ujar Eka. Beberapa kompetensi yang diperkirakan makin dibutuhkan pada 2026 antara lain AI Engineer, Data Analyst, Data Scientist, Machine Learning Engineer, Cloud Engineer, dan Cyber Security Analyst. Akses pembelajaran digital dan daring yang semakin luas mempermudah profesional IT untuk memperbarui pengetahuan dibandingkan 10–15 tahun lalu.

“Materi AI, cloud, hingga keamanan siber kini bisa diakses secara daring, sehingga update kompetensi seharusnya bukan lagi kendala,” tambahnya. Dengan dinamika tersebut, profesional IT diharapkan tidak hanya mengikuti tren teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan AI sebagai alat pendukung produktivitas. “AI akan menjadi mitra kerja, dan profesional IT yang adaptif justru akan semakin relevan dan dibutuhkan,” tutup Eka. 7may

Komentar