Ekonomi Bali 2026 Diproyeksikan Tumbuh 6,2 Persen
Didukung Pariwisata Berkualitas dan Investasi
BI juga mencermati sejumlah tantangan struktural yang perlu diantisipasi, seperti ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata, isu overtourism, alih fungsi lahan pertanian, serta kesenjangan inklusi keuangan dan digital.
DENPASAR, NusaBali
Perekonomian Provinsi Bali pada 2026 diproyeksikan terus tumbuh kuat dan berdaya tahan di tengah tantangan global yang masih berlanjut. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bali memprakirakan pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026 berada di kisaran 5,4 hingga 6,2 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi sejumlah tahun sebelumnya.
Deputy Director Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bali Muhamad Shiroth, Jumat (2/1) menyampaikan, prospek positif tersebut ditopang oleh investasi yang solid, daya beli masyarakat yang tetap terjaga, peningkatan sektor pertanian, serta akselerasi pariwisata berkualitas. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Bali ke depan.
Secara nasional, perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja yang relatif baik meski dihadapkan pada perlambatan ekonomi global, tingginya suku bunga negara maju, serta meningkatnya risiko sistem keuangan global. Kondisi ini turut memengaruhi Bali, namun fundamental ekonomi Bali dinilai tetap kuat berkat dukungan konsumsi rumah tangga, investasi, dan sektor pariwisata .
Dari sisi inflasi, BI memproyeksikan inflasi Bali pada 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ± 1 persen. Pengendalian inflasi didukung oleh kelancaran distribusi pangan, kecukupan pasokan komoditas utama, serta sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) .
Sementara itu, penyaluran kredit di Bali pada 2026 diperkirakan tumbuh di kisaran 8-12 persen, seiring kebijakan pro-growth, penguatan ekosistem pembiayaan mikro, serta berbagai program pemerintah yang mendorong likuiditas dan aktivitas ekonomi. Pangsa kredit UMKM yang cukup besar di Bali diharapkan semakin memperkuat ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
Per Oktober 2025, pertumbuhan kredit di Bali 5,95 persen yoy, yang mana 42,40 persen pangsa pasarnya merupakan UMKM. Sedangkan rasio Non Performing Loan (NPL) 1,24 persen.
BI juga mencermati sejumlah tantangan struktural yang perlu diantisipasi, seperti ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata, isu overtourism, alih fungsi lahan pertanian, serta kesenjangan inklusi keuangan dan digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, strategi ke depan agar diarahkan pada penguatan sektor unggulan di luar pariwisata, akselerasi pariwisata berkualitas, pengendalian inflasi, perluasan pembiayaan inklusif, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran .
Menurutnya, dengan sinergi kebijakan yang kuat dan transformasi ekonomi yang berkelanjutan, perekonomian Bali pada 2026 diharapkan tidak hanya tumbuh lebih tinggi, tetapi juga semakin tangguh dan inklusif. 7 may
Komentar