nusabali

Perlu Pendampingan Kesehatan Jiwa Berkelanjutan

  • www.nusabali.com-perlu-pendampingan-kesehatan-jiwa-berkelanjutan

DENPASAR, NusaBali - Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana SpKJ menyebut kejadian bunuh diri (ulah pati) yang kembali terjadi di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Badung adalah peristiwa yang sangat memprihatinkan dan menyentuh nurani semua orang.

Prof Cok Jaya menegaskan bahwa bunuh diri bukanlah persoalan lokasi semata, bukan pula kegagalan adat, agama, atau keluarga. 

“Dalam ilmu psikiatri, bunuh diri hampir selalu berakar pada penderitaan psikologis yang mendalam seperti rasa putus asa, beban hidup yang terasa tak tertanggungkan, dan keyakinan keliru bahwa penderitaan yang dihadapi tidak ada lagi jalan keluar,” ujarnya. 

Prof Cok Jaya menjelaskan, penderitaan yang mendorong seseorang hingga nekat bunuh diri umumnya bukan keinginan untuk mati, melainkan keinginan yang sangat kuat untuk mengakhiri rasa sakit batin yang dirasakan sudah tidak tertahankan. Orang tersebut biasanya mengalami akumulasi penderitaan psikologis seperti rasa putus asa yang berkepanjangan, perasaan hampa dan lelah menjalani hidup, keyakinan bahwa masa depan tidak akan membaik, serta rasa menjadi beban bagi keluarga atau orang lain. 

Foto: Pesan WhatsApp yang ditemukan di ponsel pelaku aksi ulahpati. -IST

“Sering kali penderitaan ini diperberat oleh kehilangan makna hidup, kegagalan yang dipersepsikan sebagai aib, tekanan ekonomi, konflik relasi yang tidak kunjung selesai, penyakit kronis, atau kesepian emosional yang dalam meskipun secara sosial tampak baik-baik saja,” jelasnya.  

Dalam banyak kasus, lanjutnya, terdapat gangguan kesehatan jiwa seperti depresi, kecemasan berat, atau penyalahgunaan zat yang tidak tertangani, sehingga cara berpikir menjadi menyempit dan dipenuhi distorsi, seolah tidak ada jalan keluar selain mengakhiri hidup. Pada saat krisis, keputusan bunuh diri juga dapat terjadi secara impulsif, dalam kondisi emosi yang memuncak dan kemampuan menimbang yang sangat menurun. 

Prof Cok Jaya mengatakan, upaya pemasangan pagar dan pelaksanaan upacara adat yang sudah dilakukan selama ini merupakan langkah yang patut dihargai, karena menunjukkan kepedulian kolektif. Namun, intervensi fisik dan spiritual saja tidak cukup jika tidak disertai pendampingan kesehatan jiwa yang berkelanjutan dan mudah diakses. “Peristiwa ini hendaknya tidak kita lihat sebagai kegagalan satu pihak, melainkan sebagai pengingat bahwa kesehatan mental harus menjadi tanggung jawab bersama baik oleh negara, tenaga kesehatan, tokoh adat, tokoh agama, keluarga, dan masyarakat. Yang kita hadapi adalah manusia yang harus kita tangani secara manusiawi juga,” tandasnya. 7 adi

Komentar