Proyeksi BI: Ekonomi Bali Berpeluang Tumbuh hingga 6,2 Persen pada 2026
DENPASAR, NusaBali.com – Perekonomian Provinsi Bali pada tahun 2026 diproyeksikan terus tumbuh kuat dan berdaya tahan di tengah tantangan global yang masih berlanjut. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bali memprakirakan pertumbuhan ekonomi Bali berada di kisaran 5,4–6,2 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian sejumlah tahun sebelumnya.
Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Bali konsisten di atas 5 persen. Pada Triwulan I tumbuh 5,52% (yoy), Triwulan II tumbuh 5,95%, dan Triwulan III tumbuh 5,88%.
Secara nasional, perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja relatif baik meskipun dibayangi perlambatan ekonomi global, tingginya suku bunga di negara maju, serta meningkatnya risiko sistem keuangan global. Kondisi tersebut turut memengaruhi Bali, namun fundamental ekonomi daerah ini dinilai tetap kuat, terutama ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan sektor pariwisata.
Dari sisi stabilitas harga, BI memproyeksikan inflasi Bali pada 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ± 1 persen. Pengendalian inflasi didukung kelancaran distribusi pangan, kecukupan pasokan komoditas utama, serta sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Sementara itu, penyaluran kredit di Bali pada 2026 diperkirakan tumbuh di kisaran 8–12 persen. Pertumbuhan ini didorong kebijakan pro-growth, penguatan ekosistem pembiayaan mikro, serta berbagai program pemerintah yang mendorong likuiditas dan aktivitas ekonomi. Pangsa kredit UMKM yang relatif besar di Bali diharapkan semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Per Oktober 2025, pertumbuhan kredit di Bali tercatat sebesar 5,95 persen secara tahunan (year on year), dengan pangsa kredit UMKM mencapai 42,40 persen. Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih terjaga rendah di level 1,24 persen.
Meski demikian, Bank Indonesia juga mencermati sejumlah tantangan struktural yang perlu diantisipasi, seperti ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata, isu overtourism, alih fungsi lahan pertanian, serta kesenjangan inklusi keuangan dan digital.
Deputy Director Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bali Muhamad Shiroth, Jumat (2/1/2026), mengatakan prospek positif tersebut ditopang oleh investasi yang tetap solid, daya beli masyarakat yang terjaga, penguatan sektor pertanian, serta akselerasi pariwisata berkualitas.
Sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Bali ke depan.
Secara nasional, perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja relatif baik meskipun dibayangi perlambatan ekonomi global, tingginya suku bunga di negara maju, serta meningkatnya risiko sistem keuangan global. Kondisi tersebut turut memengaruhi Bali, namun fundamental ekonomi daerah ini dinilai tetap kuat, terutama ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan sektor pariwisata.
Dari sisi stabilitas harga, BI memproyeksikan inflasi Bali pada 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ± 1 persen. Pengendalian inflasi didukung kelancaran distribusi pangan, kecukupan pasokan komoditas utama, serta sinergi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Sementara itu, penyaluran kredit di Bali pada 2026 diperkirakan tumbuh di kisaran 8–12 persen. Pertumbuhan ini didorong kebijakan pro-growth, penguatan ekosistem pembiayaan mikro, serta berbagai program pemerintah yang mendorong likuiditas dan aktivitas ekonomi. Pangsa kredit UMKM yang relatif besar di Bali diharapkan semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Per Oktober 2025, pertumbuhan kredit di Bali tercatat sebesar 5,95 persen secara tahunan (year on year), dengan pangsa kredit UMKM mencapai 42,40 persen. Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih terjaga rendah di level 1,24 persen.
Meski demikian, Bank Indonesia juga mencermati sejumlah tantangan struktural yang perlu diantisipasi, seperti ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata, isu overtourism, alih fungsi lahan pertanian, serta kesenjangan inklusi keuangan dan digital.
Untuk menjawab tantangan tersebut, strategi ke depan diarahkan pada penguatan sektor unggulan di luar pariwisata, percepatan pariwisata berkualitas, pengendalian inflasi, perluasan pembiayaan inklusif, serta akselerasi digitalisasi sistem pembayaran.
Dengan sinergi kebijakan yang kuat dan transformasi ekonomi yang berkelanjutan, BI optimistis perekonomian Bali pada 2026 tidak hanya tumbuh lebih tinggi, tetapi juga semakin tangguh dan inklusif. *may
Dengan sinergi kebijakan yang kuat dan transformasi ekonomi yang berkelanjutan, BI optimistis perekonomian Bali pada 2026 tidak hanya tumbuh lebih tinggi, tetapi juga semakin tangguh dan inklusif. *may
Komentar