Melihat Persiapan Natal Bernuansa Bali di Tuka, Umat Katolik Gelar Mapatung hingga Pasang Penjor
Katolik
Gerejah Paroki Tritunggal Mahakudus
Katolik Bali
Budaya Bali
Tradisi Bali
Mapatung
Penjor
Natal
MANGUPURA, NusaBali.com – Suasana menjelang Hari Natal di Banjar Tuka, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung tampak berbeda dari perayaan kelahiran Yesus Kristus pada umumnya, Rabu (24/12/2025).
Umat Katolik di Tuka yang merupakan suku Bali mempunyai tradisi tersendiri ketika menyambut Hari Natal. Peringatan hari kelahiran Yesus Kristus ini disambut selayaknya suku Bali lain di Tuka yang beragama Hindu ketika menyambut Hari Raya Galungan.
Kebetulan momen Hari Raya Galungan dan Hari Natal tahun ini sangat pas. Umat Hindu di Tuka baru saja selesai melaksanakan rangkaian Galungan yang ditandai dengan rahina Buda Kliwon Pegatuwakan, Rabu pagi, sedangkan malam Natal datang pada Rabu malam.
Ketua Pamaksan Katolik Tuka Petrus Nyoman Mardiana, 53, menuturkan sebanyak 133 kepala keluarga di Banjar Tuka merupakan umat Katolik. Katolik sendiri merupakan agama mayoritas di banjar setempat—dan diyakini sebagai wilayah pertama yang menerima kekatolikan di Pulau Dewata yakni tahun 1937.
“Setiap menjelang Natal tanggal 24 Desember ini, kami di Tuka biasanya bareng-bareng potong babi pagi hari. Habis itu ngejot. Sorenya kami pasang penjor di lebuh dan Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka,” ungkap Mardiana ketika ditemui di sela persiapan Natal, Rabu pagi.
Mardiana menjelaskan, sehari sebelum Natal tidak ubahnya seperti umat Hindu Bali melaksanakan panampahan Galungan. Warga berkelompok menyembelih babi atau disebut mapatung. Kemudian, daging babi tersebut diolah jadi berbagai hidangan khas Bali—disebut mebat—seperti sate lilit, lawar, dan lain-lain.
Usai mebat, warga lantas memasang penjor di depan rumah seperti yang dilakukan Gabriel Wayan Wirianta, 73, Rabu pagi. Ketika umat Hindu di Tuka melepas penjor di hari Buda Kliwon Pegatuwakan ini, umat Katolik menyusul memasang penjor yang masih segar.
Penjor yang dipasang umat Katolik pun hampir sama dengan penjor milik umat Hindu. Ada komponen menur, plawa/ambu, kolong-kolong, hingga sampian yang menggantung. Hanya saja yang membedakan adalah penjor untuk menyambut Natal ini tidak ada komponen sanggah.
“Tradisi seperti ini sudah ada dari saya kecil ketika saya mulai punya ingatan,” ujar Wirianta ketika ditemui di sela memasang penjor bersama cucu di depan rumahnya di tepi Jalan Raya Tuka, Rabu pagi.
Penjor-penjor yang didirikan umat Katolik ini pun berderet di sepanjang Jalan Raya Tuka. Penjor-penjor ini menjadi simbol keberagaman di Banjar Tuka ketika penjor Natal ini berderet selang-seling dengan penjor Galungan yang belum dilepas umat Hindu.
Setelah persiapan di rumah masing-masing rampung, sekitar 14.00 WITA umat lantas beranjak ke Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus untuk kerja bakti. Kata Mardiana, mereka juga memasang penjor, umbul-umbul, dan ider-ider di gereja, ada pula hiasan bernuansa gebogan.
“Bagi kami di Katolik, penjor ini merupakan hiasan untuk memeriahkan Natal. Sedangkan, tradisi mapatung itu kan kebersamaan—melambangkan kebersamaan kami dalam memuji Tuhan Yesus,” tegas Mardiana.
Lebih lanjut, Mardiana menjelaskan penjor dan mapatung merupakan budaya yang sudah menjadi identitas orang Bali. Budaya, kata dia, patut dilestarikan. Selain itu, kebudayaan leluhur yang masih dipegang umat Katolik di Tuka ini juga menjadi sarana silaturahmi antarwarga tanpa memandang perbedaan.
“Seperti ngejot misalnya, saya sendiri ketika Natal seperti ini masih ngejot ke keluarga saya yang beragama Hindu. Menunya sate lilit, lawar daun belimbing, lawar klungah, jaja begina, jaja uli. Dulu ada tape, kalau sekarang ada bolunya,” tandas Mardiana. *rat
Kebetulan momen Hari Raya Galungan dan Hari Natal tahun ini sangat pas. Umat Hindu di Tuka baru saja selesai melaksanakan rangkaian Galungan yang ditandai dengan rahina Buda Kliwon Pegatuwakan, Rabu pagi, sedangkan malam Natal datang pada Rabu malam.
Ketua Pamaksan Katolik Tuka Petrus Nyoman Mardiana, 53, menuturkan sebanyak 133 kepala keluarga di Banjar Tuka merupakan umat Katolik. Katolik sendiri merupakan agama mayoritas di banjar setempat—dan diyakini sebagai wilayah pertama yang menerima kekatolikan di Pulau Dewata yakni tahun 1937.
“Setiap menjelang Natal tanggal 24 Desember ini, kami di Tuka biasanya bareng-bareng potong babi pagi hari. Habis itu ngejot. Sorenya kami pasang penjor di lebuh dan Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka,” ungkap Mardiana ketika ditemui di sela persiapan Natal, Rabu pagi.
Mardiana menjelaskan, sehari sebelum Natal tidak ubahnya seperti umat Hindu Bali melaksanakan panampahan Galungan. Warga berkelompok menyembelih babi atau disebut mapatung. Kemudian, daging babi tersebut diolah jadi berbagai hidangan khas Bali—disebut mebat—seperti sate lilit, lawar, dan lain-lain.
Usai mebat, warga lantas memasang penjor di depan rumah seperti yang dilakukan Gabriel Wayan Wirianta, 73, Rabu pagi. Ketika umat Hindu di Tuka melepas penjor di hari Buda Kliwon Pegatuwakan ini, umat Katolik menyusul memasang penjor yang masih segar.
Penjor yang dipasang umat Katolik pun hampir sama dengan penjor milik umat Hindu. Ada komponen menur, plawa/ambu, kolong-kolong, hingga sampian yang menggantung. Hanya saja yang membedakan adalah penjor untuk menyambut Natal ini tidak ada komponen sanggah.
“Tradisi seperti ini sudah ada dari saya kecil ketika saya mulai punya ingatan,” ujar Wirianta ketika ditemui di sela memasang penjor bersama cucu di depan rumahnya di tepi Jalan Raya Tuka, Rabu pagi.
Penjor-penjor yang didirikan umat Katolik ini pun berderet di sepanjang Jalan Raya Tuka. Penjor-penjor ini menjadi simbol keberagaman di Banjar Tuka ketika penjor Natal ini berderet selang-seling dengan penjor Galungan yang belum dilepas umat Hindu.
Setelah persiapan di rumah masing-masing rampung, sekitar 14.00 WITA umat lantas beranjak ke Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus untuk kerja bakti. Kata Mardiana, mereka juga memasang penjor, umbul-umbul, dan ider-ider di gereja, ada pula hiasan bernuansa gebogan.
“Bagi kami di Katolik, penjor ini merupakan hiasan untuk memeriahkan Natal. Sedangkan, tradisi mapatung itu kan kebersamaan—melambangkan kebersamaan kami dalam memuji Tuhan Yesus,” tegas Mardiana.
Lebih lanjut, Mardiana menjelaskan penjor dan mapatung merupakan budaya yang sudah menjadi identitas orang Bali. Budaya, kata dia, patut dilestarikan. Selain itu, kebudayaan leluhur yang masih dipegang umat Katolik di Tuka ini juga menjadi sarana silaturahmi antarwarga tanpa memandang perbedaan.
“Seperti ngejot misalnya, saya sendiri ketika Natal seperti ini masih ngejot ke keluarga saya yang beragama Hindu. Menunya sate lilit, lawar daun belimbing, lawar klungah, jaja begina, jaja uli. Dulu ada tape, kalau sekarang ada bolunya,” tandas Mardiana. *rat
Komentar