Enam Karakter, Satu Napas Alam: Ogoh-ogoh Werdhi Sesana Angkat Spirit Pemuliaan Air
Kasanga Festival 2026
Ogoh-ogoh
ST Werdhi Sasana
Desa Tegal Harum
Ramah Lingkungan
Banjar Bhuana Merta
DENPASAR, NusaBali.com — Sekaa Teruna (ST) Werdhi Sesana, Banjar Bhuana Merta, Desa Tegal Harum, Jalan Gunung Batok, Denpasar Barat, menyiapkan enam karakter ogoh-ogoh untuk menyambut Tahun Baru Caka 1948/2026. ST Werdhi Sesana berkomitmen menggunakan bahan ramah lingkungan dan pesan pemuliaan air, sejalan dengan tema Kasanga Festival 2026.
Arsitek ogoh-ogoh ST Werdhi Sesana, Kadek Guna Mantha (25), mengatakan proses pengerjaan dimulai awal Desember 2025. “Pada November bertepatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan, sehingga kami memilih mulai Desember agar pengerjaan berjalan fokus dan bertahap,” ujarnya.
Untuk garapan tahun ini, ST Werdhi Sesana menganggarkan dana sekitar Rp60 juta. Enam tokoh karakter ditampilkan dengan material utama rotan, bambu, koran, serta bahan lain yang ramah lingkungan. “Kami konsisten tanpa gabus dan spon. Ulatan bambu kembali menjadi pilihan karena lebih selaras dengan alam,” kata Guna.
Antusiasme menyambut Kesanga Festival 2026, lanjutnya, juga didorong tantangan tema yang diangkat, yakni pemuliaan air sebagai sumber kesejahteraan dan kehidupan. “Melalui ogoh-ogoh, kami ingin menyampaikan pesan harmoni alam. Tema ini sejalan dengan semangat Atma Kerthi Tahun 2026, yang menempatkan air sebagai unsur penting bagi keberlanjutan semesta,” ujarnya.
Menanggapi perkembangan teknologi, Guna menilai kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu tanpa menggerus nilai tradisi. “Teknologi bisa membantu proses, namun literasi dan budaya membaca tetap harus diperkuat agar tidak terlena pada keinstanan,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi konsistensi penggunaan bahan ramah lingkungan yang kembali menguat sejak 2015. Menurutnya, selain mengurangi polusi, pemilihan material alam menuntut kreativitas lebih tinggi. “Namun langkah kecil juga penting—menanam pohon dan menjaga lingkungan setiap hari,” tambahnya.
Melalui karya ogoh-ogoh Caka 1948 ini, ST Werdhi Sesana berharap terjadi peralihan nilai dari Jagat Kerthi menuju Atma Kerthi—bukan hanya pada wacana, tetapi terwujud dalam praktik berkesenian yang menghidupkan kembali taksu budaya Bali. *m03
Komentar