nusabali

Mengolah Simbol dan Rasa, Ogoh-Ogoh ST Tunas Ambara Siap Tampil di Kasanga Festival 2026

  • www.nusabali.com-mengolah-simbol-dan-rasa-ogoh-ogoh-st-tunas-ambara-siap-tampil-di-kasanga-festival-2026

DENPASAR, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Tunas Ambara, Banjar Ambengan, Pedungan, Denpasar Selatan, tengah mempersiapkan ogoh-ogoh dengan menghadirkan enam tokoh karakter dalam rangka menyambut Tahun Baru Caka 1948/2026 dan ajang Kasanga Festival 2026.

Arsitek ogoh-ogoh ST Tunas Ambara, Agus Bhawa Widyantara, mengungkapkan keterlibatannya dalam dunia ogoh-ogoh telah dimulai sejak 2015. Saat itu, karya yang digarapnya sempat dua kali masuk nominasi delapan besar di tingkat kecamatan se-Kota Denpasar.

“Setelah beberapa tahun beristirahat, pada Caka 1948 ini saya kembali dipercaya menjadi arsitek ogoh-ogoh,” ujar Agus Bhawa.

Proses pengerjaan ogoh-ogoh ST Tunas Ambara dimulai sejak pertengahan November 2025. Hingga saat ini, progres pengerjaan telah mencapai sekitar 50 persen, dengan tiga dari enam karakter utama telah rampung.

“Kami targetkan akhir Desember sudah selesai tahap utama, lalu Januari–Februari masuk ke tahap penyempurnaan hingga siap dinilai,” jelasnya.

Enam tokoh yang ditampilkan menggabungkan representasi tokoh hewan, manusia, dan dewa, yang dirangkai dalam satu kesatuan cerita dan filosofi.

Dari sisi pendanaan, ST Tunas Ambara mengalokasikan anggaran sekitar Rp40–50 juta, mengacu pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya. 

“Kami siap mengikuti lomba, tapi tidak ingin memaksakan diri. Yang terpenting adalah bagaimana kemampuan sumber daya manusia lokal bisa dimaksimalkan, bukan sekadar besar anggaran,” tegas Agus Bhawa.

Menurutnya, kualitas karya ogoh-ogoh tidak semata ditentukan oleh besarnya dana, melainkan oleh konsep, eksekusi, dan kekompakan tim.

Agus Bhawa berharap, penyelenggaraan Kasanga Festival ke depan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi nilai-nilai filosofis Hindu Bali. “Melalui ogoh-ogoh, kami ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam semesta, khususnya air. Seni bisa menjadi media yang efektif untuk mengajak masyarakat berkarya sekaligus memahami makna filosofi di baliknya,” pungkasnya. *m03

Komentar