nusabali

Bali Reforestation Festival XVIII Tanam 3.000 Pohon

  • www.nusabali.com-bali-reforestation-festival-xviii-tanam-3000-pohon

DENPASAR, NusaBali - Ajang Bali Reforestation Festival (BRF) XVIII melaksanakan agenda penanaman 3.000 pohon di Yeh Mampeh, Blok Bukit Payang, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang, Kintamani, Kabupaten Bangli, Minggu (14/12).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya rehabilitasi kawasan hulu yang memiliki peran penting bagi keseimbangan lingkungan Bali.

Pelaksanaan BRF XVIII merupakan hasil kolaborasi antara Balai KSDA Bali, Yayasan Bali Hijau Lestari (YBHL), dan Asia Green Forest Network (AGFN) Japan. 

Adapun pohon yang ditanam pada kegiatan ini terdiri dari jenis ampupu, beringin, dan cemara gunung. Jenis-jenis tersebut dipilih karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi kawasan Gunung Batur serta berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan kawasan hulu. Penanaman dilakukan pada lokasi-lokasi yang telah ditetapkan sebagai area rehabilitasi di dalam kawasan TWA Gunung Batur Bukit Payang.

Kegiatan ini diikuti oleh 305 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari komunitas lingkungan, mahasiswa, institusi pendidikan, dunia usaha, tenaga kesehatan, hingga relawan lintas profesi. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap upaya rehabilitasi kawasan konservasi.

Sejumlah komunitas dan institusi yang terlibat antara lain Mapala Cakra Buana Politeknik Negeri Bali, Fakultas Bahasa Asing Universitas Mahasaraswati, Siswa Pecinta Alam Provinsi Bali, RS Bhakti Rahayu, masyarakat mitra Balai KSDA Bali, PMI Kabupaten Bangli, serta komunitas Orang Indonesia (OI), dan relawan peduli lingkungan lainnya. 

Kepala Balai KSDA Bali Ratna Hendratmoko, mengatakan salah satu indikator keberhasilan dalam kegiatan penanaman bukan hanya soal jumlah pohon yang ditanam, tetapi ketika mampu menginspirasi dan memberikan dorongan kepada publik serta masyarakat luas, sehingga di masa datang dapat menjadi gerakan bersama. Menanam bukan sekadar aktivitas, melainkan gaya hidup dan menjadi sebuah kebanggaan.

Balai KSDA Bali berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh kolaborasi yang berkelanjutan dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi, khususnya di kawasan hulu yang memiliki fungsi strategis bagi keberlanjutan lingkungan Bali.

“Konservasi bukan hanya milik Balai KSDA Bali, melainkan milik bersama. Kami mohon dukungan seluruh pihak untuk konservasi alam di Bali, dan jangan sangsikan bahwa Balai KSDA Bali merupakan garda terdepan dalam upaya konservasi alam di Bali,” ujar Hendratmoko. 

Selain penanaman pohon, BRF XVIII juga menjadi sarana edukasi dan penguatan jejaring antarpemangku kepentingan. Kawasan Kintamani dengan karakter lahan berbatu dan berpasir dinilai sebagai lokasi yang memerlukan perhatian berkelanjutan dalam upaya rehabilitasi kawasan hutan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari social movement yang diinisiasi oleh YBHL bersama Balai KSDA Bali sebagai bentuk komitmen kami dalam mendukung upaya konservasi alam. YBHL bersama para relawan siap berkontribusi dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan di Provinsi Bali. Ke depan, gerakan ini tidak hanya difokuskan di kawasan TWA Gunung Batur Bukit Payang, tetapi juga akan dilaksanakan ke kawasan konservasi lainnya, seperti TWA Danau Buyan–Tamblingan serta wilayah lain yang memiliki potensi konservasi,” kata Ketua YBHL I Nyoman Gede Bayu Wiratama Suwedia. 7 adi

Komentar