24 Investor Asing Berminat Garap PSEL Denpasar Raya
Uji Coca, TPST Kesiman Kertalangu Olah 14 Ton Sampah Sehari
DENPASAR, NusaBali - Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy Denpasar Raya untuk penanganan sampah wilayah Denpasar dan Badung memasuki tahap strategis.
Sebanyak 24 investor asing sudah menyatakan minat untuk terlibat dalam pembangunan proyek jangka panjang tersebut.
Wakil Walikota (Wawali) Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Minggu (14/12) mengungkapkan proses sosialisasi awal pembangunan PSEL rencananya digelar pada 9 Desember lalu. Namun agenda tersebut ditunda karena Gubernur Bali masih memiliki agenda lain. Sosialisasi dijadwalkan ulang setelah 14 Desember dan akan dilaksanakan di balai banjar wilayah terdampak. “Masyarakat sudah sepakat dan setuju dengan penundaan jadwal,” ujarnya.
Dia menegaskan bahwa tahapan pembangunan PSEL sudah berada di jalur yang tepat. Pemerintah pusat dikatakan telah menyiapkan pendanaan lebih dari Rp3 triliun. Sementara penentuan investor pemenang akan dilakukan melalui mekanisme di tingkat pusat. “Ada 24 investor dari luar negeri mulai dari China, Eropa hingga Finlandia yang menyatakan siap berinvestasi. Kami pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota tinggal menunggu siapa yang ditetapkan sebagai pemenang,” jelasnya.
PSEL Denpasar Raya dirancang mampu mengolah semua jenis sampah, termasuk sampah eksisting di TPA Suwung. Teknologi yang akan digunakan disebut mampu melakukan pembakaran pada suhu di atas 1.000 derajat Celsius, sehingga seluruh sampah dapat diproses untuk menghasilkan energi listrik. Wawali Arya Wibawa menyebut suplai sampah dari timbunan lama TPA Suwung juga direncanakan dikirim secara bertahap untuk memastikan kapasitas operasi PSEL tetap optimal. “Ini proyek besar. Awal tahun 2026 sudah ditargetkan groundbreaking,” katanya. Dengan adanya PSEL, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar berharap dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah regional sekaligus mengurangi ketergantungan pada landfill konvensional. Proyek ini juga menjadi salah satu upaya strategis dalam menjawab tantangan penanganan sampah yang terus meningkat.
Sementara itu Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kesiman Kertalangu, Denpasar, yang sempat lama tidak beroperasi, kini kembali difungsikan sebagai Pusat Daur Ulang (PDU). Pada tahap uji coba, fasilitas ini baru mampu mengolah sekitar 14 ton sampah per hari. Aktivitas pengolahan sampah sudah berjalan. Pekerja melakukan pemilahan secara manual untuk memisahkan sampah organik dan nonorganik sebelum masuk ke mesin pencacah. Sampah yang diolah meliputi kayu dan ranting hasil perompesan, sampah organik, serta sampah plastik yang dicacah.
Mandor PDU Kesiman Kertalangu, I Gusti Ngurah Giri Putra, menjelaskan uji coba pengoperasian mesin pencacah kayu dan ranting telah dimulai sejak 21 Oktober 2025. “Ranting-ranting hasil perompesan dikirim ke sini untuk uji coba mesin. Dalam sehari bisa diselesaikan sekitar 6 ton,” ujarnya. Lalu sejak 8 November 2025, dilakukan uji coba pencacahan sampah organik dan nonorganik dengan kapasitas sekitar 8 ton per hari. Menurut Giri Putra, jumlah tersebut masih bergantung pada kondisi sampah yang masuk.
“Kalau sampah sudah terpilah, prosesnya lebih cepat. Kalau belum, kami lakukan pemilahan di sini. Sampah yang diolah sementara ini berasal dari Kota Denpasar dan dibawa oleh DLHK,” jelasnya. Ke depan, kapasitas pengolahan akan ditingkatkan secara bertahap seiring pemetaan kemampuan dan ketahanan mesin. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah nonorganik saat ini masih sebatas dicacah.
“Mesin paving block belum dioperasikan. Jika nanti sudah beroperasi, hasil cacahan nonorganik akan diolah menjadi paving block,” tambahnya. Saat ini, hasil cacahan kayu dan kompos masih menumpuk di area PDU karena belum dilakukan distribusi. Dari sisi sarana, PDU Kesiman Kertalangu dilengkapi tiga mesin pencacah sampah organik, satu mesin pencacah plastik, satu mesin pencacah kayu dan ranting, serta satu mesin paving block yang masih dalam tahap persiapan operasional.
Selain fokus pada pengolahan, pengelola juga berupaya memastikan proses tidak menimbulkan bau. Hal ini dilakukan karena sebagian masyarakat sekitar masih menyatakan keberatan terhadap aktivitas pengolahan sampah di lokasi tersebut. “Kami menjaga agar tidak ada bau. Kalau nanti masyarakat sudah setuju, kemungkinan sampah dari Denpasar Timur bisa didrop ke sini,” paparnya. Sementara itu, TPST Tahura Ngurah Rai saat ini masih dalam tahap pemasangan mesin dan ditargetkan segera beroperasi.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menegaskan Pemkot Denpasar terus mempercepat kesiapan seluruh fasilitas pengolahan sampah, terutama menjelang penutupan TPA Suwung. “Atas arahan Bapak Wali Kota, kami juga melakukan pemetaan lokasi untuk kemungkinan penambahan mesin. Di Tahura dan Kertalangu masih tersedia ruang untuk meningkatkan kapasitas,” ujarnya. Selain pembangunan dan optimalisasi infrastruktur, Pemkot Denpasar juga menyiapkan integrasi sistem pengelolaan sampah dengan melibatkan 338 bank sampah yang tersebar di seluruh wilayah kota, termasuk di pasar tradisional. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber sehingga beban pengolahan di PDU dapat dikurangi secara bertahap. 7 mis
Komentar