nusabali

Warga Pemuteran, Buleleng, Berjuang Pulihkan Hutan Mangrove

Satgas Lingkungan Siapkan 2 Lokasi Rehabilitas Prioritas

  • www.nusabali.com-warga-pemuteran-buleleng-berjuang-pulihkan-hutan-mangrove

Area dengan kerusakan sedang, Teluk Kucacil, akan dijadikan hutan mangrove. Sementara titik abrasi berat, seperti di Teluk Ser, diprioritaskan sebagai lokasi penanaman ulang.

SINGARAJA, NusaBali
Kerusakan hutan mangrove yang sudah terjadi sejak tahun 1970 mulai memukul balik warga Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Abrasi yang kian parah dan menurunnya kualitas lingkungan membuat masyarakat setempat, melalui Satuan Tugas (Satgas) Lingkungan Desa Pemuteran, bergerak memulihkan kembali hutan mangrove yang rusak.

Ketua Satgas Lingkungan Made Gunaksa, mengemukakan wilayah seluas sekitar 15 hektare yang kini gersang dulunya merupakan hutan mangrove lebat. Pembabatan terjadi seiring pertumbuhan penduduk pada era 1970-an. Dampaknya baru terasa dalam satu dekade terakhir, terutama di kawasan pesisir. “Abrasi di beberapa titik sangat tinggi. Ini yang memicu kami memulai rehabilitasi mangrove,” ujar Gunaksa, Rabu (10/12).

Satgas Lingkungan kini menyiapkan dua lokasi rehabilitasi prioritas. Area dengan kerusakan sedang di Teluk Kucacil akan disulap menjadi hutan mangrove. Sementara titik abrasi berat, seperti di Teluk Ser atau Romantic Beach, diprioritaskan sebagai lokasi penanaman ulang. “Kalau ada bantuan bibit, kami fokuskan dulu ke titik yang abrasi tinggi di Teluk Ser,” kata Gunaksa.

Upaya rehabilitasi mangrove di Pemuteran bukan tanpa hambatan. Sejak memulai kembali pada 2015, beberapa percobaan penanaman berakhir gagal. Kondisi kontur pesisir yang unik membuat tidak semua jenis mangrove bisa tumbuh. Setelah melakukan percobaan berulang, Satgas Lingkungan menemukan jenis yang paling sesuai, yakni Rhizophora, dengan teknik penanaman rumpun berjarak. “Percobaan ketiga sebelum Covid–19 baru menunjukkan hasil. Dari 5.000 pohon yang ditanam, kini bertahan 1,5 persen. Untuk mangrove, hidup 3 persen saja sudah dianggap sukses,” jelasnya.

Kesulitan utama berasal dari cuaca ekstrem dan kiriman sampah saat musim hujan. Gunaksa mengaku cukup khawatir pada periode Maret–Juli, ketika kondisi laut berubah cepat dan tekanan ekologis meningkat. “Tantangan terberat cuaca dan sampah. Kalau ada yang mati, kami sulam lagi. Itu tugas kami,” kata Gunaksa.

Saat ini Satgas Lingkungan memiliki 25 anggota dan relawan yang aktif melakukan monitoring rutin. Mereka memastikan bibit yang masih hidup tetap terjaga, sekaligus melakukan penanaman susulan. Dukungan bibit didapat dari kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Buleleng dan Provinsi Bali, termasuk dalam kegiatan Festival Pemuteran baru-baru ini yang menanam 100 bibit mangrove tambahan.

Gunaksa menekankan, keberadaan mangrove sangat vital bagi Pemuteran. Selain mereduksi abrasi, mangrove meningkatkan kualitas udara, sekaligus menjadi habitat burung, ikan, udang, hingga kepiting. “Kita butuh mangrove bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk masa depan Pemuteran,” tegasnya. 7 k23

Komentar