Subak Spirit Talk 2025: Napak Toya Bangun Kesadaran Menjaga Sumber Air
DENPASAR, NusaBali.com—Komunitas Kita Poleng menggelar kegiatan Subak Spirit Talk 2025 bertema Napak Toya: Kesucian Air dan Kesadaran Manusia di Rumah Tanjung Bungkak (RTB), Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, Jumat (12/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara lintas latar belakang untuk membangun kesadaran publik, khususnya generasi muda, akan pentingnya menjaga sumber air di Bali.
Diskusi ini menghadirkan vokalis Navicula Gede Robi, Founder Petani Muda Keren (PMK) Agung Wedhatama, pegiat literasi Luh Yesi Candrika, serta dimoderatori Sandrina Malakiano.
Acara dibuka dengan penampilan teatrikal Wayang Ental yang dipimpin I Gusti Darma Putra. Pertunjukan dari Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Badung, tersebut memadukan tradisi dan pendekatan kontemporer dengan menjadikan ental atau lontar sebagai medium utama penciptaan estetika dan dramaturgi. Wayang Ental dikenal memiliki mobilitas tinggi dan telah tampil di berbagai panggung nasional maupun internasional, termasuk di Quanzhou dan Singapura.
Selain itu, acara juga dimeriahkan penampilan performatif dari I Gusti Ayu Laksmi. Aktris, penyanyi, dan penari yang telah mengharumkan Bali di kancah nasional ini membawakan karya bertajuk monolog jiwa, nyanyian air. Penataan visual acara, termasuk tata cahaya dan motion graphic, digarap oleh John McGarity, Nur Setyanto, dan Ansen Pundy.
Agung Wedhatama mengapresiasi penyelenggaraan Subak Spirit Talk sebagai ruang penting untuk memperkuat kesadaran ekologis. Menurutnya, gerakan semacam ini perlu terus diperbanyak agar semakin banyak komunitas dan relawan terlibat dalam upaya pelestarian sumber daya alam Bali.
“Kita membutuhkan lebih banyak kegiatan seperti ini untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya menjaga hutan, catur danu, serta sumber air di Bali,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa ketersediaan air di wilayah perkotaan dan kawasan wisata seperti Denpasar, Nusa Dua, Seminyak, Kuta, Jimbaran, hingga Canggu sangat bergantung pada kawasan hulu, seperti Danau Tamblingan, Batur, Buyan, dan Beratan. Keberadaan danau-danau tersebut, kata dia, tidak terlepas dari kelestarian hutan di kawasan pegunungan suci seperti Gunung Agung, Batukaru, Lesung, dan Gunung Sanghyang.
“Sumber air itu ada karena hutannya terjaga. Bukan karena ada air lalu tumbuh pohon, tetapi karena ada pohonlah air bisa keluar,” tegasnya.
Agung juga menyebut tema Napak Toya relevan dengan upaya yang dilakukan PMK, mengingat air merupakan elemen fundamental dalam pertanian dan sistem subak. Tantangan pertanian Bali saat ini, menurutnya, tidak hanya berkurangnya lahan hijau, tetapi juga ketersediaan air.
“PMK berupaya menjaga pertanian dan sumber pangan melalui penggunaan air yang efektif dan efisien, seperti penerapan smart farming dengan sistem irigasi tetes dan sprinkler, sehingga penggunaan air bisa diminimalkan dengan hasil yang tetap optimal,” ujarnya.
Selain kegiatan pertanian, PMK juga aktif menjaga kawasan hulu melalui gerakan Bali Menanam dengan melakukan penanaman pohon di hutan dan daerah pegunungan. Praktik budidaya yang diterapkan PMK mengusung konsep agroforestri, dengan menanam beragam jenis tanaman untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus kelestarian air.
Sementara itu, Luh Yesi Candrika menyoroti Bangli sebagai wilayah yang memiliki kekayaan sumber dan aliran air, serta budaya lokal yang kuat dalam menjaga air melalui ritual dan perubahan perilaku masyarakat.
“Bangli memiliki keberuntungan geografis yang luar biasa dengan keberadaan Danau Batur, salah satu dari empat danau besar di Bali,” ujarnya.
Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta menjadi sumber air utama bagi sebagian besar areal persawahan di Bali. Selain Danau Batur, Bangli juga memiliki sejumlah mata air penting seperti Yeh Langse, Yeh Geroh, Cerenceng Kawat, Campuhan, Tirta Sudamala, hingga beji di Desa Bunutin. Wilayah perbatasan Bangli dengan Tampaksiring, Gianyar, juga menyimpan sumber air suci seperti Tirta Bulan, Tirta Soka, Gunung Kawi, Tirta Mangening, dan Tirta Empul.
Robi Navicula menambahkan, upaya menjaga air juga harus dimulai dari pengelolaan lingkungan sehari-hari, terutama dalam pengurangan pencemaran melalui pengelolaan sampah organik, plastik, dan limbah rumah tangga.
“Dengan lingkungan yang bersih, potensi pencemaran sumber air bisa ditekan sehingga keberlanjutan air untuk kehidupan tetap terjaga,” pesan Robi Navicula. *may
Komentar