Sangeh Monkey Forest Buka pasca Tragedi Pohon Tumbang, Kunjungan Wisatawan Kembali Normal
Sangeh Monkey Forest
Alas Pala
Wisatawan Mancanegara
Wisatawan Asing
pohon tumbang
Pura Pucak Sari
Objek Wisata
Nataru
MANGUPURA, NusaBali.com – DTW Alas Pala Sangeh (Sangeh Monkey Forest) kembali beroperasi setelah sempat ditutup pasca tragedi pohon tumbang akibat cuaca ekstrem yang menelan korban jiwa, Kamis (11/12/2025).
Objek wisata yang menawarkan keindahan hutan pala berusia ratusan tahun dan satwa kera ekor panjang ini ditutup selama sepekan sejak Kamis (4/12/2025). Sehari setelah puluhan pohon pala bertumbangan di Alas Pala yang merusak Pura Pucak Sari dan merenggut jiwa satu staf pengelola.
Selama sepekan ke belakang, Pengelola Sangeh Monkey Forest bersama pemerintah dan Desa Adat Sangeh bergotong-royong memulihkan aksesibilitas kawasan wisata. Pacaruan Durmanggala juga telah dilaksanakan, Jumat (5/12/2025), untuk membersihkan kawasan secara niskala.
“11 Desember ini adalah awal kembali dibukanya Sangeh Monkey Forest. Mudah-mudahan ke depan penataan Pura cepat dilakukan oleh Pemkab Badung yang kabarnya dimulai Januari 2026,” ujar Ketua Pengelola Sangeh Monkey Forest IB Gede Pujawan ketika ditemui, Kamis pagi.
Kata Pujawan, mengembalikan kondisi Sangeh Monkey Forest seperti sediakala memerlukan waktu. Untuk itu, objek wisata dibuka kembali setelah pemulihan fundamental selesai seperti clear area, menstabilkan psikologis para staf, dan pelaksanaan ritual pembersihan.
Pantauan NusaBali.com di lapangan, Kamis pagi, kegiatan pembersihan di areal Pura Pucak Sari yakni pura utama yang berlokasi di dalam hutan pala masih berlangsung. Suara ekskavator dan mesin pemotong kayu langsung terdengar begitu memasuki areal hutan pala.
Di saat yang sama, wisatawan kembali berdatangan dan memasuki hutan pala seperti biasa. Namun, kali ini mereka juga dapat menyaksikan jejak-jejak tragedi pekan lalu. Sebab, kerusakan pada Pura Pucak Sari sangat kentara dan dua bale gong di jaba sisi juga kini dibongkar dari tempatnya.
Wisatawan yang penasaran berhenti sejenak di depan Pura Pucak Sari sembari menanyakan pramuwisata mereka apa yang telah terjadi. Salah satu pramuwisata yang mengantar wisatawan di hari pertama Sangeh Monkey Forest buka lagi ini adalah Putu Martana, 43.
“Sebelum ke sini saya informasikan dulu sama tamunya, seminggu yang lalu ada pohon tumbang karena hujan—anginnya kencang. Kalau tamunya sih enggak bagaimana karena hal itu sudah terjadi,” beber Martana.
Martana yang biasa mengantar turis asal Spanyol ini mengatakan, wisatawan tidak merasa waswas berkunjung ke Sangeh Monkey Forest meskipun sudah tahu sempat terjadi tragedi pekan lalu. Sebab, kata dia, selagi cuaca mendukung maka tidak menjadi masalah bagi wisatawan.
“Kalau cuacanya bagus dan akses wisatawan sudah dapat dilalui seperti biasa, wisatawan itu tidak yang bagaimana dan tetap ingin datang,” lanjut Martana.
Sementara itu, Pujawan memperlihatkan WhatsApp-nya yang banyak dihubungi travel dan pramuwisata terkait pembukaan kembali objek wisata di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung ini. Kata dia, sejumlah wisatawan maupun pramuwisata sempat datang membawa turis bahkan ketika objek wisata masih tutup.
“Kami tidak izinkan walaupun katanya tetap ingin masuk sambil melihat situasi. Kami tidak mau kesannya menjual kesedihan. Selain itu, saat itu kami juga sedang bersih-bersih di dalam areal hutan,” kata Pujawan.
Pujawan menilai trafik wisatawan ke Sangeh Monkey Forest di hari pertama buka ini sudah mirip dengan trafik ketika low season sebelum bencana. Ia optimis, kunjungan ke objek wisata lawas di Badung utara ini dapat mencapai puncak yakni 1.500–1.800 orang per hari saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 nanti.
“Saat low season sebelum musibah itu kunjungan per hari 300–400 tamu. Kami berharap saat Nataru nanti Sangeh Monkey Forest setidaknya bisa seperti high season Agustus lalu yang meningkat 398 persen dari standar low season,” tegasnya. *rat
Selama sepekan ke belakang, Pengelola Sangeh Monkey Forest bersama pemerintah dan Desa Adat Sangeh bergotong-royong memulihkan aksesibilitas kawasan wisata. Pacaruan Durmanggala juga telah dilaksanakan, Jumat (5/12/2025), untuk membersihkan kawasan secara niskala.
“11 Desember ini adalah awal kembali dibukanya Sangeh Monkey Forest. Mudah-mudahan ke depan penataan Pura cepat dilakukan oleh Pemkab Badung yang kabarnya dimulai Januari 2026,” ujar Ketua Pengelola Sangeh Monkey Forest IB Gede Pujawan ketika ditemui, Kamis pagi.
Kata Pujawan, mengembalikan kondisi Sangeh Monkey Forest seperti sediakala memerlukan waktu. Untuk itu, objek wisata dibuka kembali setelah pemulihan fundamental selesai seperti clear area, menstabilkan psikologis para staf, dan pelaksanaan ritual pembersihan.
Pantauan NusaBali.com di lapangan, Kamis pagi, kegiatan pembersihan di areal Pura Pucak Sari yakni pura utama yang berlokasi di dalam hutan pala masih berlangsung. Suara ekskavator dan mesin pemotong kayu langsung terdengar begitu memasuki areal hutan pala.
Di saat yang sama, wisatawan kembali berdatangan dan memasuki hutan pala seperti biasa. Namun, kali ini mereka juga dapat menyaksikan jejak-jejak tragedi pekan lalu. Sebab, kerusakan pada Pura Pucak Sari sangat kentara dan dua bale gong di jaba sisi juga kini dibongkar dari tempatnya.
Wisatawan yang penasaran berhenti sejenak di depan Pura Pucak Sari sembari menanyakan pramuwisata mereka apa yang telah terjadi. Salah satu pramuwisata yang mengantar wisatawan di hari pertama Sangeh Monkey Forest buka lagi ini adalah Putu Martana, 43.
“Sebelum ke sini saya informasikan dulu sama tamunya, seminggu yang lalu ada pohon tumbang karena hujan—anginnya kencang. Kalau tamunya sih enggak bagaimana karena hal itu sudah terjadi,” beber Martana.
Martana yang biasa mengantar turis asal Spanyol ini mengatakan, wisatawan tidak merasa waswas berkunjung ke Sangeh Monkey Forest meskipun sudah tahu sempat terjadi tragedi pekan lalu. Sebab, kata dia, selagi cuaca mendukung maka tidak menjadi masalah bagi wisatawan.
“Kalau cuacanya bagus dan akses wisatawan sudah dapat dilalui seperti biasa, wisatawan itu tidak yang bagaimana dan tetap ingin datang,” lanjut Martana.
Sementara itu, Pujawan memperlihatkan WhatsApp-nya yang banyak dihubungi travel dan pramuwisata terkait pembukaan kembali objek wisata di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung ini. Kata dia, sejumlah wisatawan maupun pramuwisata sempat datang membawa turis bahkan ketika objek wisata masih tutup.
“Kami tidak izinkan walaupun katanya tetap ingin masuk sambil melihat situasi. Kami tidak mau kesannya menjual kesedihan. Selain itu, saat itu kami juga sedang bersih-bersih di dalam areal hutan,” kata Pujawan.
Pujawan menilai trafik wisatawan ke Sangeh Monkey Forest di hari pertama buka ini sudah mirip dengan trafik ketika low season sebelum bencana. Ia optimis, kunjungan ke objek wisata lawas di Badung utara ini dapat mencapai puncak yakni 1.500–1.800 orang per hari saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 nanti.
“Saat low season sebelum musibah itu kunjungan per hari 300–400 tamu. Kami berharap saat Nataru nanti Sangeh Monkey Forest setidaknya bisa seperti high season Agustus lalu yang meningkat 398 persen dari standar low season,” tegasnya. *rat
Komentar