nusabali

Desa Kesiman Kertalangu Kewalahan

Penuhi Permintaan Pasar dari Hasil Pengelolaan Sampah

  • www.nusabali.com-desa-kesiman-kertalangu-kewalahan

Masalah utamanya yang dihadapi adalah terbatasnya tenaga kerja yang mau bekerja mengelola sampah. Tanpa SDM yang cukup, kapasitas produksi tetap terbatas.

DENPASAR, NusaBali
Di tengah wacana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung pada 23 Desember mendatang yang memicu kekhawatiran sejumlah wilayah di Denpasar, Desa Kesiman Kertalangu justru menunjukkan kesiapan dengan menguatkan pengelolaan sampah berbasis sumber. 

Setiap hari, sekitar 15 ton sampah berhasil dikelola secara terpadu melalui kolaborasi pemerintah desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pihak swasta. Namun, keberhasilan ini sekaligus menghadirkan tantangan baru, yakni keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang membuat pihak desa kewalahan memenuhi tingginya permintaan pasar.

Perbekel Kesiman Kertalangu I Made Suena, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di desanya dimulai dari hulu, yakni pemilahan langsung dari sumber. Sampah yang diangkut dari rumah tangga hingga pelaku usaha telah dipilah antara organik, anorganik bernilai, dan residu.

“Kami tidak lagi bicara kumpul – angkut – buang. Sampah dari sumber sudah terpilah, dan itu diawasi langsung oleh tim kami di lapangan,” tegas Suena, Rabu (10/12).

Pengawasan dan pendampingan tersebut dilakukan oleh Tim PEPS (Pengawas Edukasi Pemilahan Sampah) yang rutin turun ke masyarakat. Tim ini tidak hanya memastikan pemilahan berjalan konsisten, tetapi juga mengedukasi warga tentang manfaat ekonomi dan lingkungan dari pengelolaan sampah berbasis sumber.

Dari total 15 ton sampah yang dikelola per hari, sekitar 7 ton merupakan sampah organik. Namun, kapasitas pengolahan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Desa Kesiman Kertalangu saat ini baru mampu menangani sekitar 4 ton per hari. 

Sampah organik tersebut diolah menjadi media tanam dan bahan baku budidaya magot. “Sampah organik kami proses menjadi produk jadi, bukan sekadar dikurangi volumenya. Baru residu terakhir yang kami kirim ke TPA,” ujar Suena.

Operasional pengangkutan dan pengolahan sampah didukung oleh 10 unit armada motor cikar (moci) dan empat unit truk milik BUMDes. Sementara itu, sampah anorganik bernilai ekonomi seperti plastik dan kertas disalurkan ke enam bank sampah yang tersebar di masing-masing banjar di wilayah Kesiman Kertalangu.

Hasil pengolahan sampah organik kini mulai menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Setiap bulan, TPS3R mampu memproduksi sedikitnya 300 sak media tanam. Produk ini telah memiliki pasar tetap melalui kerja sama dengan paguyuban stan bunga yang ada di wilayah Desa Kesiman Kertalangu. 

Sementara untuk pengolahan magot, desa menggandeng Magifarm, pihak swasta yang bergerak khusus di bidang budidaya magot. “Permintaannya sebenarnya tinggi. Media tanam kami terserap pasar dan terus diminta,” ucapnya.

Namun, tingginya permintaan justru menjadi persoalan baru. Dengan keterbatasan tenaga pengolah, produksi belum mampu ditingkatkan secara signifikan. Bahkan, untuk kebutuhan pengelolaan tanaman saja, permintaan mencapai sedikitnya 1.000 sak, sementara kapasitas produksi masih stagnan di angka 300 sak per bulan.

“Kami sedang berproses pengadaan satu unit mesin gibrig tambahan. Tapi masalah utamanya bukan hanya alat, melainkan tenaga kerja yang jarang mau bekerja mengelola sampah. Tanpa SDM yang cukup, kapasitas produksi tetap terbatas,” jelas Suena.

Meski begitu, pengelolaan sampah tetap memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian desa. Dari layanan pengangkutan sampah oleh BUMDes, pendapatan bersih mencapai sekitar Rp 4 juta per bulan. Secara keseluruhan, setoran pendapatan asli desa (PAD) dari empat unit usaha BUMDes, termasuk sektor pengelolaan sampah, pada tahun 2024 mencapai sekitar Rp 288 juta.

Ke depan, Pemerintah Desa Kesiman Kertalangu berharap dukungan lintas sektor, baik dalam bentuk penguatan SDM, pelatihan, maupun kerja sama lanjutan, agar pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada isu lingkungan, tetapi semakin kokoh sebagai penggerak ekonomi desa. “Kalau SDM bisa kami tambah, kapasitas bisa naik. Sampah bukan lagi beban, tapi peluang,” tandas Suena. 7 mis

Komentar