nusabali

Kursi Roda Tak Halangi Semangat Penari Disabilitas

Menari Karena Potensi, Kerap Tampil di Hotel dan Kantor Pemerintahan

  • www.nusabali.com-kursi-roda-tak-halangi-semangat-penari-disabilitas

MANGUPURA, NusaBali.com – Acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Puspem Badung, Rabu (10/12/2025), dibuka dengan Tari Puspanjali—namun sedikit berbeda. Bukan penari yang lincah berlari ke tengah panggung melainkan para penari yang lincah beraksi di atas kursi roda.

Begitu gamelan ditabuh para penabuh tunanetra dari Sanggar Seni Rwa Bhineda, empat penari dengan kursi rodanya mengikuti lantunan gending pengiring Tari Puspanjali. Tidak ada yang berbeda dari tarian mereka—hanya saja memaksimalkan gerak tari dengan fungsi anggota gerak atas.

Ayunan kepala, tangan, gerakan jari jemari hingga ‘sledetan’ mata ditarikan secara sungguh-sungguh meski tanpa bergerak dinamis dengan formasi atau variasi pola lantai. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama jajaran pejabat eselon II berdecak kagum dengan semangat para penari disabilitas binaan Yayasan Bunga Bali ini.

“Kalau penari pada umumnya kan memakai gerakan kaki. Bedanya, kami menari tanpa memakai gerakan anggota gerak bawah,” ujar Ni Komang Suyasning, 45, salah satu penari disabilitas yang tampil dalam acara yang berlangsung di Ruang Kertha Gosana, Kantor Bupati Badung.

Kata Suyasning, ia mulai menari dari atas kursi rodanya sejak 2008—namun sedari dini perempuan asal Tembuku, Bangli ini sudah punya keinginan menari. Sebab, sebelum berusia empat tahun, Suyasning lahir dan tumbuh seperti anak perempuan Bali pada umumnya.

Setelah didiagnosis mengalami polio di usia aktif bagi anak-anak, keinginan untuk menari itu tidak pupus begitu saja meski harus meninggu dua dekade lebih. Tahun 2008, asa itu tercipta sehingga Suyasning mulai menari di atas kursi rodanya—dan juga di hadapan banyak orang.

“Karena saya ingin membuktikan bahwa menari bukan untuk yang non disabilitas saja—kami yang disabilitas pun mampu melakukan hal yang sama walaupun sedikit berbeda,” tegas Suyasning ketika ditemui usai tampil, Rabu siang.

Ketua Pengelola Yayasan Bunga Bali I Nyoman Dana, 65, menuturkan program menari bagi penyandang disabilitas anggota gerak bawah ini dimulai tahun 2012. Program ini merupakan salah satu cara membentuk penyandang disabilitas yang mandiri dan mampu berkarya untuk diri sendiri.

“Ketika kami memulai menari di atas kursi roda ini, kami melihat potensi yang mereka miliki. Karena anggota gerak bawahnya saja yang tidak berfungsi maka ke atasnya masih baik dan bisa menari,” ungkap Dana ketika ditemui di sela acara, Rabu siang.

Seperti Suyasning yang sejak dini memiliki minat menari. Di saat yang sama potensi itu dapat direalisasikan lantaran anggota gerak atasnya masih berfungsi baik. Hal ini pun cukup memudahkan yayasan karena aktivitas yang dilakukan merupakan sesuatu yang memang mereka dambakan.

“Kami memiliki dua tim penari atau ada delapan orang yang bisa menari di atas kursi roda. Mereka ini juga sudah tampil di hotel-hotel, kantor pemerintahan, perguruan tinggi dan bahkan sampai ke Jogja dan Makassar,” jelas Dana.

Sementara itu, Yayasan Bunga Bali merupakan aksi kepedulian terhadap penyandang disabilitas di Pulau Dewata yang sudah aktif berkegiatan sejak 25 tahun silam. Lembaga nirlaba ini berfokus pada empat hal yakni kesehatan, fasilitas, ekonomi, dan pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas. *rat

Komentar