nusabali

MUTIARA WEDA: Pola Pikir ‘Telat Sadar’

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-pola-pikir-telat-sadar

tamas tv ajñāna-jaṁ viddhi mohanaṁ sarva-dehinām; pramādālasya-nidrābhiḥ tan nibadhnāti bhārata. (Bhagavad-gītā 14.8)

O Arjuna, ketahuilah: tamas, kualitas kegelapan/ketidaktahuan, lahir dari ajñāna (ketidaktahuan), menutup (menipu) semua makhluk berjiwa; itu mengikat (menjajah) melalui kelalaian (pramāda), kemalasan (ālasya), dan tidur (nidrā).

SECARA psikologis, manusia memiliki kecenderungan yang disebut normalcy bias, yakni pola pikir bahwa segala sesuatu akan tetap berjalan seperti biasa. Bias ini membuat orang meremehkan ancaman dan menunda tindakan preventif, karena otak lebih nyaman dengan kondisi stabil. Pemerintah dan masyarakat sering jatuh pada pola mental ini: selama belum terjadi bencana nyata, risiko dianggap sekadar wacana. Ketika hujan turun biasa-biasa saja, banjir terasa seperti sesuatu yang masih jauh; ketika lereng tampak tenang, longsor belum dianggap bahaya. Karena itu, langkah antisipatif kerap dianggap tidak mendesak.

Ada juga kecenderungan lain yang disebut hindsight bias, yakni kebiasaan baru menganggap suatu kejadian ‘jelas’ setelah ia terjadi. Ketika banjir besar atau tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, atau Sumatera Barat, barulah publik, pejabat, dan lembaga-lembaga terkait menyusun narasi bahwa ‘seharusnya’ kerusakan hutan dicegah atau tata ruang diperbaiki. Namun, kesadaran seperti itu muncul setelah bencana, bukan sebelum. Manusia lebih mudah menilai kejadian setelah fakta terungkap ketimbang melihat pola bahaya sebelum peristiwa terjadi.

Fenomena saling menyalahkan setelah bencana sering muncul dari mekanisme pertahanan psikologis: manusia ingin menjaga citra diri, sehingga kegagalan antisipasi diproyeksikan ke pihak lain. Padahal secara struktural, bencana biasanya merupakan akumulasi keputusan yang terlalu lama ditunda, pengawasan hutan yang tidak konsisten, penebangan liar yang diabaikan, dan tata ruang yang tak pernah ditinjau ulang. Pola pikir yang telat sadar ini adalah penyakit kolektif: kita baru melihat kebenaran ketika dampaknya sudah terasa menyakitkan.

Sloka di atas seakan menyingkap pola batin yang sama yang terjadi dalam kehidupan sosial kita. Banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya peristiwa alam; ia adalah cermin dari tamas dalam wujud modern.

Tamas sebagai ‘ketidaktahuan’ tampak ketika masyarakat dan pemerintah menganggap hutan sebagai ruang kosong yang bisa diambil seenaknya, tanpa memahami bahwa setiap pohon adalah penyangga hidup. Ketika penambangan, pembabatan, dan perubahan alih fungsi dilakukan tanpa kesadaran ekologis, itu adalah ajñāna-ketidaktahuan yang membutakan.

Lalu muncullah pramāda-kelalaian. Kelalaian dalam mengawasi hutan, kelalaian dalam menegakkan aturan, kelalaian dalam memperbaiki tata ruang. Selama langit masih cerah dan sungai masih tenang, kita merasa semua baik-baik saja. Inilah ‘tidur batin’ (nidrā) yang disebut Gītā—kondisi ketika manusia hidup, tetapi tidak bangun. Sloka ini sesungguhnya menggambarkan kondisi psikologis masyarakat modern: kita tahu ada bahaya, tetapi pikiran menunda, menyepelekan, dan menutup mata.

Normalcy bias membuat manusia percaya bahwa segalanya akan tetap normal: hujan akan seperti biasa, bukit tetap stabil, sungai tetap jinak. Karena pola pikir ini, tanda-tanda perusakan hutan di Aceh atau erosi di Sumatera Barat tidak segera dianggap ancaman. Orang tahu ada pembalakan liar, tetapi batin berkata, “Belum apa-apa kok.” Inilah yang disebut Krishna sebagai pramāda—kelengahan yang menipu pikiran.

Begitu bencana sudah terjadi, hindsight bias mengambil alih: manusia baru melihat dengan jelas apa yang sebenarnya sudah dia abaikan. Setelah banjir dan longsor menghancurkan desa dan menelan korban, barulah semua pihak saling menunjuk: “Seharusnya dulu kita jaga hutan itu.” Inilah bentuk lain dari tamas: bukan hanya lalai sebelum kejadian, tetapi sadar setelah terlambat. Penyesalan hadir dalam cahaya yang datang sesudah gelap menelan segalanya.

Untuk keluar dari jerat ini, Gītā mengajarkan agar manusia mengganti tamas dengan sattva—kualitas kejernihan dan kewaspadaan. Secara praktis, ini berarti menumbuhkan budaya antisipasi, bukan reaksi. Pemerintah dan masyarakat perlu membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga hutan, mengendalikan tambang, dan memulihkan DAS bukan kegiatan ‘ketika bencana datang’, tetapi justru agar bencana tidak datang sama sekali. Dalam psikologi modern, ini disebut premortem thinking: membayangkan risiko sebelum ia terjadi, sehingga langkah pencegahan diambil jauh lebih awal. 7

Komentar