nusabali

Unik, Sejumlah Warga Darmasaba Warisi Pamedalan Klasik nan Mungil

Berbentuk Angkul-Angkul dengan Tinggi Pintu Kurang 1,5 Meter, Hanya Boleh Dilalui Ida Bhatara

  • www.nusabali.com-unik-sejumlah-warga-darmasaba-warisi-pamedalan-klasik-nan-mungil
  • www.nusabali.com-unik-sejumlah-warga-darmasaba-warisi-pamedalan-klasik-nan-mungil

MANGUPURA, NusaBali.com – Ketika melintasi Jalan Antasura di Banjar Cabe, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Badung—ada pemandangan menarik di sisi barat jalan. Sejumlah pamedalan merajan bernuansa klasik paras-bata berdiri menghadap ke jalan raya. Lebih mencolok lagi adalah ukurannya yang mungil.

Pamedalan tersebut memiliki daun pintu ganda dengan tinggi kurang dari 1,5 meter. Sedangkan lebar daun pintu tersebut kurang dari dua jengkal tangan orang dewasa. Dibandingkan pemedalan kontemporer, pamedalan yang dimiliki sejumlah warga Darmasaba ini sangat kecil bahkan jika dilalui satu orang dewasa.

Kemudian, dilihat dari bentuknya, pamedalan merajan berukuran mungil ini memiliki tipologi bangunan angkul-angkul dengan pengawak di tengah yang diapit lelengen di kedua sisinya. Hanya saja, pada masing-masing lelengen tidak memiliki rong (lubang) palinggih yang biasanya berisi pada pintu masuk rumah.

Salah satu tetua yang merajannya memiliki pamedalan unik ini adalah Ni Made Sengkeg, 83. Kata perempuan kelahiran 1942 ini, pamedalan tersebut sudah ada ketika ia menikah muda sekitar 1950-an dan menetap di rumah mendiang suaminya ini.

“Saat saya sampai di sini (menikah), itu memang sudah ada seperti itu. Tidak pernah diubah-ubah,” ungkap Sengkeg didampingi menantunya, Ni Nyoman Janten, 71, ketika dikunjungi NusaBali.com, Selasa (9/12/2025).

Kata Sengkeg, sang ahli waris rumah yakni mendiang ibu mertuanya memiliki perawakan mungil—kemungkinan, kata dia, undagi mengambil sikut (ukuran) tuan rumah sebagai pedoman pembangunan pemedalan. Selain itu, lanjutnya, ibu mertuanya memang dikenal mampu kala itu karena menjadi pedagang.

“Kalau orang tua zaman dahulu yang mampu karena berdagang itu, hartanya memang larinya ke merajan. Membuat merajan yang bagus,” imbuh Janten.

Di sisi lain, Komang Erik, 39, sang pemilik pamedalan mungil lainnya menuturkan kisah senada. Kata dia, leluhurnya dahulu memang dikenal memiliki kemampuan ekonomi lebih. Hal itu ditandai dengan keberadaan bale daja kuno dan sepeda antik yang jadi barang mewah pada masanya.

“Setiap piodalan, pamedalan itu dibuka. Kalau ada piodalan besar, pamedalan itu hanya boleh dilalui Ida Bhatara. Jadi, ada yang menyerahkan dari dalam dan ada yang mengambil dari luar pamedalan,” tutur Erik yang rumahnya berada di depan Bale Banjar Cabe. 


Komentar