nusabali

Kelompok Studi Parasugeni FT Unud Gelar Parasugeni Festival 2025

Angkat Lomba Gender Wayang dan Tari Condong

  • www.nusabali.com-kelompok-studi-parasugeni-ft-unud-gelar-parasugeni-festival-2025

DENPASAR, NusaBali.com – Kelompok Studi Parasugeni Fakultas Teknik Universitas Udayana (FT Unud) menggelar Parasugeni Festival (Parfest) 2025, sebuah ajang lomba kesenian yang mempertandingkan lomba gender wayang dan lomba tari condong, pada 22 November 2025.

Untuk lomba gender wayang, kegiatan berlangsung di Wantilan Gedung Dekanat Fakultas Teknik Unud, sedangkan lomba tari condong digelar di Gedung Undagi Graha Fakultas Teknik Unud. Seluruh rangkaian lomba sekaligus pengumuman pemenang diselesaikan dalam satu hari pelaksanaan.

Panitia Inti Parasugeni Festival 2025, Anak Agung Sagung Mas Diandra Jashinta Putri (Diandra), 20, menjelaskan bahwa Parfest digelar sebagai kompetisi sekaligus perayaan seni yang terbuka bagi seluruh penggiat seni. Tahun ini Parfest mengusung tema “Buddhi Akrti Sangatih – Harmoni Seni dan Pikiran.”

“Festival ini menjadi ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mempertemukan berbagai bentuk seni dalam satu acara. Kami mengedepankan nilai sportifitas, kebersamaan, dan penghargaan terhadap budaya, dengan tujuan memupuk kolaborasi dan apresiasi seni di seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.


Menurut Diandra, Parfest 2025 merupakan pelaksanaan festival berlabel resmi Parasugeni untuk pertama kalinya. Kendati demikian, kelompok studi Parasugeni FT Unud telah rutin menggelar kegiatan lomba seni selama kurang lebih empat tahun terakhir sebagai bagian dari program kerja tahunan.

“Selain memberi ruang berekspresi, ajang ini juga memberikan output positif bagi peserta, mulai dari mendapatkan evaluasi langsung dari juri profesional, berjejaring dengan seniman dan mentor, membuka peluang kolaborasi, hingga turut berkontribusi dalam pelestarian seni dan budaya Bali,” jelasnya.

Ia juga menyinggung peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia seni. Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pencarian referensi maupun pengolahan ide, namun harus digunakan secara bijak.

“AI sebaiknya menjadi perpanjangan kreativitas manusia, bukan penggantinya, agar nilai orisinalitas, filosofis, dan kultural seni tetap terjaga,” tegas Diandra.


Komentar