Ibu–Anak Raih Gelar Doktor di Hari yang Sama, Menjadikan Pendidikan sebagai Warisan Abadi
Unik
Wisuda
Undiksha
Pendidikan
Akademik
Akademisi
Luh Putu Arsih Karnadi
Putu Dina Yuniarini
TK Sila Kumara
Yayasan Widya Sentana
SINGARAJA, NusaBali.com – Momen langka dan penuh makna tercipta pada Wisuda ke-78 Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Jumat (5/12/2025). Dua generasi dari satu keluarga, ibu dan putri, berdiri sejajar di podium akademik, sama-sama menyandang gelar doktor pada hari yang sama.
Mereka adalah Dr. Dr. Luh Putu Arsih Karnadi, S.E., Ak., M.Pd., M.AP., Pendiri Yayasan Widya Sentana, kelahiran Bangli, 24 Februari 1970, serta putrinya Dr. Putu Dina Yuniarini, S.E., S.Psi., Gr., M.Pd., Kepala Sekolah TK Sila Kumara sekaligus Pengelola PKBM Widya Sentana, kelahiran Denpasar, 19 Juni 1994.
Bagi keduanya, wisuda ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan puncak perjalanan panjang penuh perjuangan yang dijalani bersama sebagai ibu dan anak.
“Ini bukan hanya kelulusan, tetapi anugerah terindah dari Tuhan. Bisa mencapai puncak pendidikan di hari, tanggal, dan kampus yang sama adalah berkah luar biasa,” tutur Dr. Arsih haru.
Sebagai pendidik, Arsih menegaskan pendidikan tinggi bukan sekadar tuntutan profesi, melainkan amanah moral untuk memperluas kontribusi pada masyarakat. Prinsip itu pula yang diwariskannya kepada sang putri, Dina, yang kini mengelola pendidikan anak usia dini dan pendidikan kesetaraan di bawah naungan PKBM Widya Sentana, Kuta Utara, Badung.
Dina mengakui perjalanan studi doktoralnya tidak mudah. Di tengah tanggung jawab mengelola lembaga pendidikan sekaligus peran sebagai ibu rumah tangga, ia kerap berada di titik lelah.
“Ada masa ingin menyerah, tetapi kami saling menguatkan. Ibu selalu mengingatkan, ilmu harus sampai ke masyarakat, bukan sekadar jadi gelar,” ucap Dina.
Keduanya memiliki gaya akademik berbeda namun saling melengkapi. Arsih mengandalkan pendekatan kualitatif yang reflektif dan sistematis, sementara Dina lebih cepat menangkap analisis melalui metode kuantitatif dan pemanfaatan teknologi. Perbedaan itu justru menjadi ruang belajar bersama.

Momen paling emosional terjadi ketika ibu dan anak menjalani sidang terbuka di hari yang sama. Seusai sidang, tanpa kata, keduanya hanya saling menatap.
“Saya hanya berkata dalam hati, ‘Oh God, thank You so much, Your blessings is complete for us’,” kenang Arsih.
Kini, keduanya berkomitmen melanjutkan kiprah akademik melalui riset, publikasi ilmiah, serta pengembangan model pembelajaran berbasis budaya daerah yang berlandaskan ajaran Tri Hita Karana. Kolaborasi antara ilmu pendidikan dan ilmu agama akan menjadi fokus pengembangan ke depan.
Perhatian besar juga tetap diarahkan ke sektor pendidikan nonformal. Melalui PKBM Widya Sentana, mereka memperjuangkan program pendidikan kesetaraan, keaksaraan, penyetaraan ijazah, serta akses belajar bagi masyarakat yang belum tersentuh pendidikan formal.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Pendidikan adalah hak semua orang, termasuk para ibu yang ingin kembali bersekolah. Gelar hanyalah bonus, sedangkan manfaat bagi sesama adalah tujuan utama,” tegas Dina.
Momen wisuda bersama ini membawa pesan kuat tentang pendidikan lintas generasi, bahwa belajar tidak berhenti oleh usia, dan ilmu harus terus diwariskan.
“Pendidikan adalah warisan paling berharga yang bisa kami bangun bersama. Perjuangan yang dijalani bersama terasa jauh lebih bermakna,” pungkas Arsih.
Komentar