nusabali

Gebug Ende Pemuteran dari Ritual Hingga Atraksi Wisata

Tradisi Nunas Hujan yang Tidak Pernah Padam Sejak 1930

  • www.nusabali.com-gebug-ende-pemuteran-dari-ritual-hingga-atraksi-wisata

Tradisi Gebug Ende telah berakar sejak para leluhur mereka dari Seraya, Karangasem, bermigrasi ke Pemuteran, Gerokgak, Buleleng sekitar tahun 1930.

SINGARAJA, NusaBali
Gemerincing gamelan kembali memecah udara kawasan penyelenggaraan Pemuteran Bay Festival 2025, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Jumat (5/12) sore. Di sela desir angin laut, puluhan warga tua-muda berkumpul membentuk lingkaran. Di tengah arena, dua pemain bersiap ‘tarung’ dengan ‘senjata’ tameng kulit sapi dan tongkat rotan yang mengkilap dimakan usia. Inilah Gebug Ende, seni tarung tradisional yang sejak dulu dipercaya sebagai ritual nunas hujan (memanggil hujan) dan menjadi identitas budaya warga setempat.

Panglingsir Sekaa Gebug Ende Satru Prakanti I Nyoman Sukanata, mengisahkan bahwa tradisi ini telah berakar sejak para leluhur mereka dari Seraya, Karangasem, bermigrasi ke Pemuteran sekitar tahun 1930. Waktu itu desa belum definitif yang baru resmi terbentuk pada 1967. Namun tradisi Gebug Ende sudah dipraktikkan sebagai bagian dari adat masyarakat pendatang.

“Orang tua dulu membawa tradisi ini dari Seraya. Di Karangasem dulu juga untuk nunas hujan. Di Pemuteran berkembang karena banyak warganya berasal dari sana,” tutur Sukanata, Sabtu (6/12).

Dahulu, pementasan berlangsung di perempatan desa atau bawah taru ageng (pohon besar). Biasanya digelar pada bulan Januari atau sasih kapitu, ketika hujan tak kunjung turun. Warga mempersiapkan banten untuk ritual niskala dan memulai permainan setelah tirta dipercikkan ke arena.

“Yang mengadakan, dia yang memimpin. Tidak ada pemangku khusus,” tambah Sukanata.

Hingga kini, tradisi tersebut masih dipertahankan. Tahun lalu, Gebug Ende digelar tiga hari berturut-turut di areal parkir Pura Pemuteran. Aturannya tetap ketat karena berkaitan dengan adu fisik. Satu pasangan tampil 3–5 menit, dengan maksimal tiga kali pengulangan. Pukulan ke area vital seperti kepala bagian atas, dada kiri, dan tubuh dari kemaluan ke bawah dilarang keras. Jika terjadi pelanggaran maka saye (petugas piket) langsung menghentikan permainan.

Panglingsir Sekaa Gebug Ende Satru Prakanti I Nyoman Sukanata -IST 

Peralatan yang dipakai juga khusus dan dirawat serius. Tongkat rotan serta tameng kulit sapi diwariskan turun-temurun. Karena sebagian besar sudah usia, sekaa kini tengah membuat set baru untuk pemain dewasa, remaja, dan anak-anak untuk regenerasi. Total ada 20 anggota, termasuk para penabuh gamelan yang kini menjadi benteng pelestari Gebug Ende Pemuteran.

Seiring berkembangnya Pemuteran sebagai destinasi bahari dan konservasi, Gebug Ende kini juga memasuki ruang baru sebagai atraksi penunjang pariwisata. Tradisi ini semakin sering tampil dalam berbagai kegiatan budaya dan festival desa. Panggung terbesarnya adalah Pemuteran Bay Festival (PBF) yang rutin digelar setiap tahun, termasuk tahun ini.

Bagi Sukanata, perubahan ini sangat positif. Walau berawal sebagai seni sakral untuk nunas hujan, Gebug Ende kini juga berfungsi sebagai seni profan yang dapat dinikmati wisatawan tanpa menghilangkan nilai-nilai dasarnya.

“Ini salah satu cara agar seni Gebug Ende tetap hidup. Anggota sekaa juga sangat mendukung,” ucapnya.

Antusiasme penonton yang datang ke PBF membuat generasi muda semakin tertarik mempelajari seni ini. Sekaa Satru Prakanti kini dilirik untuk diajak bekerja sama dengan sekolah-sekolah guna membuka sesi pengenalan tradisi dan latihan rutin bagi anak-anak.

“Anak-anak banyak yang mau. Tidak dipaksa. Mereka senang, itu yang membuat kami optimistis,” kata Sukanata.

Kini Gebug Ende tidak hanya menjadi ritual adat yang diwariskan para leluhur dari Seraya. Ia telah menjelma sebagai ikon budaya Pemuteran, bertahan melewati perubahan zaman sekaligus tampil gagah di panggung pariwisata. Bagi masyarakat, inilah bukti bahwa tradisi tidak harus diam di masa lalu, namun tradisi bisa hidup, bergerak, dan tumbuh bersama desa yang menjaganya.

Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan bahwa Pemuteran merupakan contoh nyata dari pariwisata yang bertanggung jawab. Tidak hanya memulai dari konservasi alam, pariwisata Pemuteran yang berkembang saat ini, mengadopsi penuh kearifan lokal masyarakat setempat.

Wisata yang dibangun dan diinisiasi oleh masyarakat setempat benar-benar berbasis komunitas. 

“Desa ini sudah mendapatkan predikat sebagai desa wisata terbaik, sebuah penghargaan yang berawal dari rintisan Yayasan Karang Lestari. Ini adalah modal yang harus terus kita pertahankan, baik bidang konservasi maupun pelestarian seni, budaya, adat, dan tradisi di sini,” ujar Bupati Sutjidra. 

Pemuteran Bay Festival pertama kali digelar pada 2015 lalu. Sebelum pandemi Covid–19, event promosi wisata ini bernama Buleleng Bali Dive Festival (BBDF). 

Festival ini bertujuan untuk mempromosikan pelestarian lingkungan laut melalui kegiatan snorkeling, diving, bersih-bersih pantai, dan penenggelaman struktur terumbu karang. Ada pula penampilan atraksi budaya tradisional, pementasan musik hingga pameran UMKM.

Tahun ini, festival yang berlangsung 4–6 Desember ini menampilkan rangkaian kegiatan konservasi, pertunjukan budaya, pentas musik hingga aktivitas kreatif. Dari sisi lingkungan, selain penanaman struktur terumbu karang, digelar pula pameran foto, underwater photography, serta photo hunt di Bukit Mudeng-Udengan.

Sementara dari sisi budaya, Paiketan Krama Istri Pemuteran menggelar penampilan massal Tari Pendet disusul berbagai atraksi seni tradisi lainnya. Komunitas Bali Hard Enduro turut meramaikan lewat aktivitas trail yang menyasar segmen sport tourism. 7 k23

Komentar