nusabali

Wantilan Jagatnatha Jembrana Reyot

  • www.nusabali.com-wantilan-jagatnatha-jembrana-reyot

Kondisi interior wantilan juga jauh dari kata terawat. Lantai bangunan dipenuhi debu, material sisa atap yang berjatuhan, dan sampah yang berserakan.

NEGARA, NusaBali
Bangunan wantilan di area Kebun Raya Jagatnatha Jembrana, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana, Jembrana, kini dalam kondisi sangat memprihatinkan. Bangunan ini tampak reyot setelah nyaris satu tahun lebih mengalami kerusakan pada atap dan struktur penyangga. 

Balai serbaguna yang sedianya menjadi pusat kegiatan keagamaan, seni, budaya, dan pertemuan masyarakat ini tidak lagi aman digunakan, bahkan terancam roboh.

Kondisi bangunan wantilan saat ini menunjukkan kerusakan yang meluas dan mengkhawatirkan. Pantauan di lokasi memperlihatkan bagian atap genteng yang sudah banyak pecah dan melorot hingga meninggalkan lubang menganga pada bagian penutup utama bangunan. Struktur tiang penyangga dari kayu dan material lainnya juga tampak lapuk, membuat bangunan menjadi reyot dan membahayakan.

Wantilan tersebut telah resmi ditutup atau dinonaktifkan sejak mengalami kerusakan pada tahun 2024. Selain kerusakan struktural, kondisi interior wantilan juga jauh dari kata terawat. Lantai bangunan dipenuhi debu, material sisa atap yang berjatuhan, dan sampah yang berserakan.

Petugas di lokasi mengaku tidak berani melakukan pembersihan karena kondisi bangunan yang memang sudah rapuh. Sebagai bentuk kewaspadaan, imbauan keselamatan telah dipasang di area sekitar wantilan. Salah satunya imbauan bertuliskan Waspada Atap Rapuh!!!.

"Rusak sudah cukup lama. Sebelumnya sempat dipasang spanduk imbauan larangan beraktivitas di lokasi sekitar, tapi sudah rusak karena memang sudah agak lama dan tersapu angin," ujar salah seorang petugas jaga di Kebun Raya Jagatnatha, membenarkan kondisi yang sudah berlangsung lama tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jembrana Dewa Gede Ary Candra Wisnawa, membenarkan bahwa wantilan tersebut sudah lama tidak difungsikan karena kondisinya yang rusak. "Ya, memang kondisinya sudah rusak. Bangunannya sudah lebih dari satu tahun tidak dipakai karena kayunya lapuk, termasuk kayu penyangganya. Kerusakan ini sudah terjadi sejak tahun 2024 dan saat itu kami sudah merekomendasikan agar tidak digunakan," jelas Ary Candra.

Mengenai rencana perbaikan, Ary Candra menyampaikan bahwa pihaknya telah menyusun rencana rehabilitasi. Namun, dia belum dapat memastikan kapan pelaksanaannya dapat dimulai. 

Hingga saat ini, upaya perbaikan wantilan tersebut belum dapat dilaksanakan lantaran menunggu alokasi dana atau anggaran. "Rencana perbaikan sudah ada, tinggal menunggu anggaran. Karena efisiensi dari pemerintah pusat sangat ketat, saya belum bisa memastikan kapan bisa diperbaiki. Banyak hal yang menjadi prioritas. Namun mudah-mudahan pada 2026 bisa kita lakukan perbaikan," pungkasnya.7ode

Komentar