Pasca Pohon Tumbang, Sangeh Monkey Forest Tetap Buka Libur Nataru
Hanya Tutup Sepekan untuk Clear Area dan Ritual Pacaruan
Desa Adat Sangeh
DTW Alas Pala Sangeh
Alas Pala Sangeh
Sangeh Monkey Forest
Nataru
Libur Akhir Tahun
Natal
Tahun Baru
Pariwisata Bali
High Season
Objek Wisata
MANGUPURA, NusaBali.com – DTW Alas Pala Sangeh di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung akan tetap buka menyambut wisatawan libur Natal dan Tahun Baru 2026—meski baru saja tertimpa musibah akibat cuaca ekstrem, Rabu (3/12/2025).
Objek wisata Alas Pala Sangeh atau Sangeh Monkey Forest baru saja mengalami musibah pohon tumbang yang diakibatkan cuaca ekstrem. Musibah pohon tumbang ini menjadi tragedi ketika satu staf mereka menjadi korban jiwa pada peristiwa tersebut.
Selain itu, kerusakan parah juga terjadi pada Pura Pucak Sari yang berada di dalam Alas Pala akibat. Sebanyak 13 palinggih/bale mengalami kerusakan. Kerusakan paling parah terjadi di nista mandala yang menyebabkan dua bale gong hancur—salah satunya jadi lokasi korban tewas.
Ketua Pengelola DTW Alas Pala Sangeh IB Gede Pujawan menuturkan, pihaknya akan fokus membersihkan lingkungan di dalam hutan pala, termasuk Pura Pucak Sari. Fokus pembersihan ini utamanya terhadap dua bale gong di nista mandala yang sering dilalui wisatawan.
“Kami akan mengatensi sekali, melakukan tahap-tahap pembersihan di aksesibilitas jalan yang dilalui oleh wisatawan,” ungkap Pujawan ketika ditemui di lokasi, Kamis (4/12/2025) pagi.
Kata Pujawan, Sangeh Monkey Forest berupaya melakukan clear area dengan seksama sehingga tidak berdampak maupun menyisakan jejak traumatik di mata wisatawan. Meski, bekas kerusakan pada bale gong maupun sejumlah sudut Pura Pucak Sari masih akan terdeteksi.
Selama clear area ini, DTW Alas Pala Sangeh tutup selama kurang lebih sepekan. Di samping melakukan clear area, Desa Adat Sangeh juga akan melaksanakan ritual pacaruan atau pembersihan secara niskala, Sukra Umanis Langkir, Jumat (5/12/2025).
Meski begitu, Pujawan memastikan Alas Pala Sangeh akan tetap buka saat masa libur Natal dan Tahun Baru ini. “Benar, pada momen libur Nataru ini, Sangeh Monkey Forest tetap buka—mengingat Nataru adalah masa high season,” jelas Pujawan.
Pujawan juga mengaku siap jika Sangeh Monkey Forest dihindari wisatawan, pramuwisata, maupun agen perjalanan seperti kasus pohon tumbang Ubud Monkey Forest pada Desember 2024 silam yang menewaskan dua wisatawan asing. Kata dia, pihaknya terus berupaya menjaga keamanan wisatawan—meski musibah tidak dapat ditebak.
Sebagai catatan, Pengelola Sangeh Monkey Forest berhasil melakukan mitigasi ketika cuaca buruk menerjang Alas Pala—sehingga tidak membahayakan wisatawan, Rabu siang. Sebab, menjelang cuaca memburuk dan terjadinya tragedi, pengelola berhasil mengevakuasi wisatawan keluar dari hutan pala.
“Kejadian begitu cepat, angin puting beliung datang tepat di lokasi Pura—staf kami yang masih bertugas di dalam cepat mengevakuasi wisatawan biar keluar dari areal hutan,” tegas Pujawan mengilasbalik kronologi tragedi pada peristiwa yang terjadi Rabu siang. *rat
Selain itu, kerusakan parah juga terjadi pada Pura Pucak Sari yang berada di dalam Alas Pala akibat. Sebanyak 13 palinggih/bale mengalami kerusakan. Kerusakan paling parah terjadi di nista mandala yang menyebabkan dua bale gong hancur—salah satunya jadi lokasi korban tewas.
Ketua Pengelola DTW Alas Pala Sangeh IB Gede Pujawan menuturkan, pihaknya akan fokus membersihkan lingkungan di dalam hutan pala, termasuk Pura Pucak Sari. Fokus pembersihan ini utamanya terhadap dua bale gong di nista mandala yang sering dilalui wisatawan.
“Kami akan mengatensi sekali, melakukan tahap-tahap pembersihan di aksesibilitas jalan yang dilalui oleh wisatawan,” ungkap Pujawan ketika ditemui di lokasi, Kamis (4/12/2025) pagi.
Kata Pujawan, Sangeh Monkey Forest berupaya melakukan clear area dengan seksama sehingga tidak berdampak maupun menyisakan jejak traumatik di mata wisatawan. Meski, bekas kerusakan pada bale gong maupun sejumlah sudut Pura Pucak Sari masih akan terdeteksi.
Selama clear area ini, DTW Alas Pala Sangeh tutup selama kurang lebih sepekan. Di samping melakukan clear area, Desa Adat Sangeh juga akan melaksanakan ritual pacaruan atau pembersihan secara niskala, Sukra Umanis Langkir, Jumat (5/12/2025).
Meski begitu, Pujawan memastikan Alas Pala Sangeh akan tetap buka saat masa libur Natal dan Tahun Baru ini. “Benar, pada momen libur Nataru ini, Sangeh Monkey Forest tetap buka—mengingat Nataru adalah masa high season,” jelas Pujawan.
Pujawan juga mengaku siap jika Sangeh Monkey Forest dihindari wisatawan, pramuwisata, maupun agen perjalanan seperti kasus pohon tumbang Ubud Monkey Forest pada Desember 2024 silam yang menewaskan dua wisatawan asing. Kata dia, pihaknya terus berupaya menjaga keamanan wisatawan—meski musibah tidak dapat ditebak.
Sebagai catatan, Pengelola Sangeh Monkey Forest berhasil melakukan mitigasi ketika cuaca buruk menerjang Alas Pala—sehingga tidak membahayakan wisatawan, Rabu siang. Sebab, menjelang cuaca memburuk dan terjadinya tragedi, pengelola berhasil mengevakuasi wisatawan keluar dari hutan pala.
“Kejadian begitu cepat, angin puting beliung datang tepat di lokasi Pura—staf kami yang masih bertugas di dalam cepat mengevakuasi wisatawan biar keluar dari areal hutan,” tegas Pujawan mengilasbalik kronologi tragedi pada peristiwa yang terjadi Rabu siang. *rat
Komentar