nusabali

Warga Banjar Sega Trauma Banjir

  • www.nusabali.com-warga-banjar-sega-trauma-banjir

Rasanya biaya tidak sampai Rp 150 juta. Jika itu dibiarkan, keselamatan masyarakat terancam saat musim hujan.

AMLAPURA, NusaBali
Kelian Banjar Sega, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem I Komang Kariata mengaku penasaran karena dampak banjir berulang kali di daerahnya belum tertangani. Warga pun traumatis pascabanjir.

Banjar ini jadi langganan banjir setiap musim hujan. Trauma karena kali ini memasuki musim hujan. "Saya sudah melaporkan ke Dinas PUPR Perkim (Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman) Karangasem, juga ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) belum ada respons," jelas Kariata di Amlapura, Selasa (2/11).

Dia mengaku wilayahnya membutuhkan bantuan pelebaran gorong-gorong sekitar 2 meter, dan memperdalam sekitar 1,5 meter. Tujuannya, jika kembali terjadi banjir, air lebih lancar mengalir dan tidak melebar merendam pemukiman. Selain itu, warga perlu jembatan kecil untuk fasilitas mitigasi bencana. "Rasanya biaya tidak sampai Rp 150 juta. Jika itu dibiarkan, keselamatan masyarakat terancam saat musim hujan. Masyarakat trauma atas banjir yang terjadi di setiap hujan turun," tambahnya.

Banjir, katanya, selalu terjadi karena dapat kiriman air dari Bukit Lempuyang. Air meluap selanjutnya jatuh ke gorong-gorong dan meluber ke jalan raya. Akibatnya, jalan jadi rusak, banyak material berserakan di jalan, serta gorong-gorong tersumbat. Selanjutnya, air bah mengalir ke tengah-tengah pemukiman di Banjar Sega. Dirinya mengaku, telah mengirimkan video saat terjadi banjir kepada Dinas PUPR Perkim dan BPBD, juga telah melaporkan kejadian itu secara resmi. 

Dari Dinas PUPR Perkim, katanya, menjanjikan biaya mitigasi tahun 2026. "Saya tidak yakin janji itu, sementara APBD 2026 masih bermasalah, dilakukan efisiensi besar-besaran. Dampak pengurangan transfer dana dari pemerintah pusat hingga Rp 202,28 miliar," tambahnya.

Bukan hanya ancaman banjir, tambah dia, bencana alam yang selalu menimpa Banjar Sega, yakni tanah longsor dan pohon tumbang. Sebab struktur tanahnya labil, rawan terjadi pergerakan tanah. "Kalau soal tanah longsor, tinggal dilakukan evakuasi material. Tetapi bencana banjir ini, yang belum ada penanganannya," ujarnya.

Kabid Bina Marga Dinas PUPR Perkim I Wayan Surata Jaya mengatakan sebenarnya telah ada gorong-gorong untuk saluran air. Namun saat hujan debit air terlalu tinggi sehingga air meluap ke jalan. "Tahun 2026, gorong-gorong dilebarkan dan diperdalam lagi, kan anggaran telah disetujui melalui APBD 2026," jelas Surata Jaya.

Disinggung, apakah kena efisiensi? "Kan sudah disetujui anggarannya di DPRD, nanti pengerjaannya masuk program pemeliharaan rutin jalan,"tambahnya. Kata dia, tidak perlu khawatir. Perbaikan gorong-gorong yang diminta warga masyarakat akan terpenuhi tahun 2026. Jika kembali mendapatkan kiriman air, maka air bisa tersalur di gorong-gorong untuk dialirkan langsung ke sungai.7k16

Komentar