Inflasi Bali di Bulan November Stabil, Capai 0,40%
DENPASAR, NusaBali - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi bulan November 2025 sebesar 0,40% (mtm) dibandingkan Oktober 2025. Secara tahunan, inflasi tercatat 2,51% (yoy) dan secara tahun kalender mencapai 2,20%.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyebut angka 0,40% ini masih dalam kategori terjaga karena berada di bawah setengah persen, meski tekanan harga cukup banyak menjelang akhir tahun dan bertepatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Secara historis, Bali memang cenderung mengalami inflasi pada bulan November dalam empat tahun terakhir.
“Dengan tekanan berbagai komoditas dan momentum hari raya, inflasi November 2025 ini tetap relatif stabil,” kata Agus.
Dari 11 kelompok pengeluaran, 6 kelompok mengalami inflasi dan 5 mengalami deflasi. Dua kelompok terbesar penyumbang inflasi bulan ini yaitu Makanan, minuman, dan tembakau dengan Inflasi 0,75% dan andil 0,24%. Kelompok ini mendominasi inflasi karena kenaikan harga sejumlah bahan pangan.
Kemudian Perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan Inflasi 1,42% dan Andil 0,14%. Lonjakan terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Adapun Kelompok lain yang tercatat inflasi seperti Pakaian dan alas kaki (0,18%, andil 0,01%), Kesehatan (0,30%, andil 0,01%), Pendidikan (0,01%, andil 0).
Sementara kelompok yang mengalami penurunan harga yaitu Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (-0,04%), Perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga (-0,13%), Transportasi (-0,07%) Informasi dan komunikasi (-0,01%),Rekreasi, olahraga, dan budaya (-0,09%)
Salah satu komoditas yang menonjol dalam inflasi November adalah wortel, yang memberi andil 0,03% terhadap inflasi.
Agus menjelaskan bahwa pola inflasi wortel tahun 2025 berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, wortel baru mengalami inflasi pada Desember–Februari ketika pasokan menurun akibat musim hujan. Namun, tahun ini wortel mulai mengalami inflasi sejak September.
Menurutnya, lonjakan ini berkaitan dengan meningkatnya permintaan, salah satunya dari program MBG.
“Permintaannya banyak. Idealnya ini menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi, sehingga harga jual di tingkat petani juga ikut naik. Petani bisa lebih sejahtera ketika permintaan meningkat,” ujar Agus.
Saat ditanya sejak kapan fenomena ini terlihat, Agus menyebut permintaan sayur khususnya wortel terpantau meningkat dari berbagai laporan media dan pernyataan pelaku usaha yang terlibat dalam penyediaan MBG.
“Wortel itu yang paling disukai, katanya. Permintaan dari sektor itu memang meningkat,” jelasnya.
Terkait wilayah penyumbang permintaan tertinggi, Agus mengaku BPS belum memiliki data spesifik.
“Misalnya SPPG di Bangli, belum tentu hanya dipasok dari Bangli saja. Karena kebutuhan besar, bisa jadi pasokannya berasal dari Denpasar, Gianyar, atau daerah lain.”
Meski belum dapat menyebut angkanya, Agus menegaskan peningkatan permintaan wortel tersebut nyata dan berdampak pada inflasi pangan Bali tahun ini. Selain wortel, komoditas lain yang ikut mendorong inflasi adalah Bawang merah (andil 0,08%) dan Daging babi (andil 0,06%).
Dua komoditas tersebut memang secara historis selalu mengalami inflasi pada bulan November.
“Untuk bawang merah, biasanya karena kombinasi produksi yang sedikit turun dan permintaan yang meningkat. Jadi dua faktor itu berjalan bersamaan”, jelas Agus.
Meski harga sejumlah komoditas naik, BPS menilai inflasi Bali bulan November masih dalam batas stabil. Tekanan harga akhir tahun dan meningkatnya permintaan pangan tidak menyebabkan lonjakan yang berlebihan. Agus optimistis kondisi ini dapat menjadi momentum baik bagi petani, terutama pada komoditas yang mengalami peningkatan permintaan. CR81
Komentar