nusabali

Solidaritas Tionghoa Bali Salurkan 1.200 Paket Beras untuk Korban Banjir

  • www.nusabali.com-solidaritas-tionghoa-bali-salurkan-1200-paket-beras-untuk-korban-banjir

DENPASAR, NusaBali - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Denpasar Barat belum lama ini memantik gerakan solidaritas dari masyarakat Tionghoa Bali.

Melalui kegiatan bakti sosial yang digelar Minggu (30/11) di Banjar Beraban, Desa Dauh Puri Kauh, komunitas Tionghoa Bali berhasil menggalang dana hingga Rp 227,36 juta dan menyalurkannya dalam bentuk 1.200 paket beras berisi 10 kilogram per paket untuk warga yang terdampak paling parah.

Penyaluran bantuan dipusatkan di Banjar Beraban dan menjangkau sembilan banjar lain yang sebelumnya didata mengalami dampak banjir signifikan. Berdasarkan pendataan lapangan, bantuan disalurkan kepada 250 kepala keluarga (KK) di Banjar Beraban, 116 KK di Banjar Sumuh, 161 KK di Banjar Pengiasan, 159 KK di Banjar Jematang, 28 lansia di banjar yang sama, 90 KK di Banjar Tagtag Kelod, 120 KK di Banjar Tagtag Tengah, 40 KK di Banjar Tagtag Kaja, 42 KK di Banjar Balun/Belong, serta 150 KK di Banjar Mekar Buana Padangsambian. Bantuan dikemas dan dibagikan langsung kepada warga untuk memastikan seluruh paket diterima oleh keluarga-keluarga yang benar-benar membutuhkan.

Penggagas bakti sosial, Yetty Minawati, mengemukakan kegiatan ini dilakukan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Dia menyebut seluruh proses distribusi didasarkan pada data penerima yang sudah diverifikasi. “Kami bagikan 1.200 beras kepada warga di sembilan banjar, sesuai titik-titik yang terdampak banjir. Kami berikan bantuan beras kepada warga yang membutuhkan. Hal itu untuk meringankan beban warga terdampak bencana banjir,” ujar Yetty.

Penggagas lainnya, Hendra Pangestu, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan sosial tersebut. Dia menyatakan dukungan para donatur dan relawan menjadi kunci keberhasilan aksi kemanusiaan ini. “Saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan yang mendukung acara ini, biar ke depannya kita bisa bergerak lebih besar lagi,” ucapnya.

Tokoh adat Banjar Beraban Ida Bagus Agung Warasmena, mengapresiasi aksi solidaritas tersebut sebagai bentuk nyata persaudaraan antarkomunitas yang telah terjalin lama di Bali. Menurutnya, hubungan masyarakat Bali dan Tionghoa bukanlah hal baru dan telah mengakar kuat dalam sejarah. 

Dia menyebut keberadaan Kongco di kawasan Pura Batur sebagai salah satu bukti kedekatan budaya tersebut. Warasmena juga menggambarkan situasi banjir kali ini sebagai bencana terburuk dalam tiga dekade. “Ini adalah bencana banjir yang terbesar dan cukup mengagetkan masyarakat. Dampaknya sampai sekarang masih terasa,” katanya.

Warasmena berharap bantuan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan sungai dan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem. Dia mengajak warga memperbaiki pengelolaan lingkungan di bantaran sungai agar peristiwa serupa tidak memburuk di kemudian hari. 

“Mari kita jaga sungai supaya bersih dan menjaga kinerja-kinerja di bantaran sungai, kemudian masyarakat yang berada di sana juga berhati-hati dan selalu waspada dengan kondisi tak menentu,” tandasnya.

Apresiasi juga datang dari Kelian Adat Banjar Pengiasan Wayan Adnyana, yang menyampaikan terima kasih atas kepedulian komunitas Tionghoa Bali. Dia berharap hubungan baik antarkomunitas semakin kuat dan menjadi contoh solidaritas bagi wilayah lain. “Semoga terus terjalin kerja sama dengan baik, tetap rahayu dan sehat selalu,” tuturnya.

Di tingkat warga, bantuan beras ini langsung dirasakan manfaatnya. Salah seorang penerima dari Banjar Sumuh, I Made Mandra, mengungkapkan rumahnya berada tepat di sisi sungai sehingga terkena luapan air. Bantuan beras menjadi penting di tengah pemulihan pascabanjir. 7 tr

Komentar