Pangerebongan Kesiman Digelar Secara Ngubeng
Ngider Bhuana, Lomba Penjor dan Ngelawar Ditiadakan
DENPASAR, NusaBali - Prosesi Ngerebong yang akan dilaksanakan di Pura Agung Petilan, Desa Adat Kesiman, Denpasar Timur, Kota Denpasar pada Redite Pon Medangsia, Minggu (7/12) mendatang akan berbeda dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.
Prosesi upacara akan dilaksanakan secara ngubeng karena pura masih dalam tahap restorasi besar-besaran.
Bendesa Adat Kesiman, Jero Mangku Ketut Wisna, Minggu (30/11) mengatakan prosesi upacara tahun ini akan digelar ngubeng, yakni tanpa rangkaian perjalanan upacara lengkap seperti tradisi biasanya. Seluruh rangkaian utama akan difokuskan pada Aci Upakara di masing-masing payogan atau pura. Keputusan ini diambil karena Pura Agung Petilan sedang menjalani restorasi besar. Pamedal Agung ditargetkan rampung pada akhir 2025, sementara Gedong Agung diharapkan selesai sebelum pertengahan 2026. Dengan demikian, Pangerebongan 2026 mendatang diproyeksikan dapat kembali digelar seperti biasanya.
“Pelaksanaan tahun ini digelar ngubeng seperti saat pandemi Covid-19 dulu. Karena restorasi besar sedang berjalan, seluruh Aci Upakara dilakukan di payogan masing-masing,” ujar Jero Mangku Wisna. Selain prosesi inti, kegiatan budaya yang biasanya meramaikan Pangerebongan juga ditiadakan. Lomba ngelawar, lomba penjor, pergelaran kuliner, serta tabuh rah yang menjadi ikon Ngerebong dipastikan tidak digelar tahun ini karena format upacara dipusatkan secara internal. “Upacara kali ini ngubeng, jadi kegiatan penunjang seperti lomba-lomba atau tabuh rah tidak kita laksanakan,” jelasnya.
Jero Mangku Wisna menambahkan, Ida Bhatara dari sejebag (seluruh) Desa Adat Kesiman maupun dari luar wilayah seperti Sawangan, Pemogan, Bekul, dan wilayah lainnya pada tahun ini tidak akan lunga ke Pura Agung Petilan. Seluruh persembahan dipusatkan di pura atau payogan masing-masing wilayah. “Tidak ada lunga ke Pura Agung Petilan. Semua katuran upacara dilakukan di payogan masing-masing,” ujarnya.
Meskipun Aci Upakara difokuskan pada prosesi inti tanpa rangkaian pengilen seperti biasanya, seluruh prajuru dan penganyar tetap bersiaga penuh mengingat prosesi Pangerebongan memiliki potensi terjadinya kerauhan atau trans yang tidak dapat diprediksi secara sekala. Menurutnya, pola ngubeng bukan berarti prosesi berjalan tanpa dinamika. Pengalaman Umanis Galungan sebelumnya menunjukkan bahwa meskipun direncanakan ngubeng, tetap ada rangkaian upacara meski dalam skala terbatas.
“Konsep Ngerebong secara sekala tidak bisa dikondisikan. Bisa saja nanti ada kerauhan massal, kita tidak tahu situasinya. Jadi tetap sama seperti pengilen sebelumnya, tim dan prajuru tetap siaga,” jelasnya. Dia menegaskan bahwa tahapan pengilen di Kesiman biasanya berjalan mulai pengebekan pada Umanis Galungan, mapag di Paing Kuningan, hingga puncaknya pada Pangerebongan. Tahun ini seluruh prosesi juga dilaksanakan dalam format ngubeng, namun persiapan tetap mengikuti standar pengamanan adat.
Tradisi ngider bhuana yang biasanya menjadi bagian perjalanan Pangerebongan dipastikan tidak dilaksanakan tahun ini. Meski demikian, prajuru tetap mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi pada hari-H. “Karena ngubeng, rencana ngider bhuana tidak dilaksanakan. Namun situasi nanti tetap kita antisipasi,” tegasnya.
Dengan berbagai penyesuaian ini, pelaksanaan Pangerebongan Kesiman 2025 dipastikan berlangsung lebih sederhana, namun tetap menjaga esensi yadnya. Pihak desa adat berharap umat tetap khusyuk melaksanakan persembahyangan meskipun prosesi tidak berjalan seperti kondisi normal. Apabila restorasi Pura Agung Petilan berjalan sesuai jadwal, tahun 2026 mendatang Pangerebongan diproyeksikan dapat kembali dilaksanakan dengan tatanan lengkap sebagaimana tradisi turun-temurun yang menjadi ikon spiritual Desa Adat Kesiman. 7 mis
Komentar