nusabali

Setia Kawan Nasi Kuning

  • www.nusabali.com-setia-kawan-nasi-kuning

PARA lansia pasti punya kenangan asyik menyantap nasi kuning di Hari Raya Kuningan, seperti dialami Ketut Pangus, 67.

Ketika masa kanak-kanak yang ia habiskan di kota kecil Klungkung, ia justru lebih menikmati Kuningan tinimbang Galungan. Belum lepas tengah hari kesibukan Kuningan berakhir, bisa menikmati lungsuran. Kalau Galungan harus menunggu hingga besok.

“Hanya saat Kuningan aku dan saudara bisa merasakan nasi kuning,” alasan Pangus. Di hari lain, nasi kuning cuma ada sejumput kecil sebagai tumpeng buat sesaji. “Kupikir nasi kuning itu makanan dewa, hanya ada dalam banten. Jadi kalau Kuningan, aku ikut makan santapan dewa.”

Acap kalau tidak Kuningan, Pangus mengumpulkan tumpeng-tumpeng kuning sesaji itu, ditaruh di atas tamas, lalu ditaburi kacang sahur dan irisan kecil telur asin. “Nikmat sekali kusantap nasi kuning sedikit itu,” kenangnya. Ibu dan bibinya sering mengumpulkan lungsuran nasi kuning khusus buat Pangus.

Kenangan dan riwayat Ketut Pangus doyan nasi kuning menyebabkan hingga kini ia mengharuskan istrinya masak nasi kuning kalau Hari Raya Kuningan. Padahal ia bisa menikmati nasi kuning kapan saja, di banyak tempat: restoran, rumah makan berbintang, sampai kaki lima di warung kecil pinggir jalan utama yang padat, atau menyelinap di gang-gang kumuh. Tapi, paling nikmat, menyegarkan, sangat mengasyikkan, jika ia nikmati saat Kuningan. Mungkin karena ditemani sayur nangka, daging babi genyol, dan sate lilit. Kalau hari lain beli di warung, paling ditemani kerupuk dan mentimun.

Ada pedagang nasi kuning menggunakan sepeda motor, parkir di kaki lima juga. Beberapa penjual nasi kuning pakai rombong, sekalian menjual pisang goreng atau pulung-pulung ubi. Kalau kerupuk sudah tentu tersedia. Semua penjual nasi kuning pasti menjual kerupuk, beberapa dilengkapi keripik. Kerupuk dan keripik seakan menjadi karib setia nasi kuning.  

Harga seporsi nasi kuning kaki lima sampai akhir tahun 2025 ini ada tiga: Rp 5.000, Rp 7.000, dan Rp 10.000. Kayaknya, yang Rp 5.000 itu mau menyaingi harga nasi jinggo. Sajian lauk masing-masing harga ini – tempe, tahu, ayam sisit, telur, mie, dan teri – tidak beda banyak, cuma nasinya yang berlebih. “Kalau beli yang sepuluh ribu, bisa kenyang dari pagi hingga siang, tak perlu ngemil,” ujar banyak pembeli. 

Yang membedakan adalah sambalnya, menjadikan nasi kuning satu lebih lezat dibanding yang lain. Ada yang menambahinya dengan daun kemangi, sehingga nasi jadi harum, menggugah selera, memicu lapar.

Berbeda dengan gudeg, lawar atau capcai yang jelas asal-usulnya, nasi kuning bisa dibilang samar-samar riwayatnya. Entahlah, siapa yang memulai, dari daerah mana ia melejit dan menyebar ke seluruh negeri, kemudian diakui sebagai kuliner nusantara. Siapa pun kenal nasi kuning, seperti juga kita paham betul apa itu nasi goreng, yang intinya satu tapi bisa dikembangkan menjadi aneka nasi goreng dengan banyak nama, gelar, dan promosi rasa.

Ketut Pangus acap mendapat oleh-oleh roti jika cucunya berkunjung. Sering ia kecewa, karena yang dibawa roti mahal, dibeli di bakery terkenal, dikemas apik, dan sangat manis. Lezat memang, tapi berbahaya buat lansia. Kepada istrinya ia berujar, “Sepotong roti ini sama harganya dengan tiga bungkus nasi kuning.”

“Sudahlah, biar aku saja yang makan. Nanti kuganti dengan singkong rebus.”

Riwayat nasi kuning mengajarkan masyarakat tentang makna kesetaraan dalam kuliner. Tumpeng nasi kuning hadir dalam acara penting kaum petinggi, pejabat, dalam ritual selamatan, syukuran pelantikan, pengucapan sumpah, ulang tahun kenegaraan dan kerajaan, juga dinikmati oleh rakyat jelata. Nasi kuning memang cocok buat masyarakat dengan aneka ragam latar belakang dan asal-usul. Ia bukan kuliner buat memupuk gengsi. Malah cocok untuk merapatkan barisan kaum yang menjunjung pola hidup setia kawan.

Selamat menikmati nasi kuning di Hari Raya Kuningan. 7 

Komentar