Cuaca Ekstrem, Atap Rumah dan Senderan Jebol
NEGARA, NusaBali - Cuaca ekstrem melanda wilayah Kabupaten Jembrana dalam dua pekan terakhir kembali memicu kerusakan infrastruktur dan bangunan warga. Sebuah atap rumah warga dan senderan sungai di dua lokasi berbeda dilaporkan jebol.
Tidak ada korban jiwa. Namun, dua peristiwa tersebut menyebabkan kerugian material cukup signifikan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Jembrana I Putu Agus Artana Putra, Selasa (25/11), membenarkan adanya dua laporan kejadian akibat dampak cuaca ekstrem itu. Dua peristiwa itu pun telah dicek jajaranya yang melakukan kaji cepat ke lokasi pada Selasa kemarin.
Kejadian pertama adalah jebolnya atap rumah milik Fasliyah, warga Lingkungan Terusan, Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara. Sebelumnya, kerusakan awal atap rumah itu terjadi pada Rabu (10/9) lalu, akibat hujan deras yang mengguyur wilayah setempat.
Saat terjadi kebocoran atap dua bulan lalu itu, dilakukan penanganan sementara dengan pemasangan terpal. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi atap semakin memburuk dan akhirnya jebol pada Minggu (23/11) sekitar pukul 22.00 Wita. "Penyebabnya material konstruksi sudah lapuk ditambah curah hujan tinggi sehingga atap tidak mampu menahan beban," ujar Agus Artana.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut. Dari hasil kaji cepat jajaran BPBD, diketahui kerusakan atap rumah itu meliputi genteng, usuk, reng, dur, dan balok kayu pada area seluas 7 meter x 6 meter. "Estimasi kerugian sekitar Rp10 juta," ucap Agus Artana.
Selain kerusakan rumah warga itu, BPBD Jembrana juga sempat melakukan kaji cepat terkait jebolnya senderan sungai di Banjar Rukun, Desa Gumrih, Kecamatan Pekutatan. Peristiwa jebolnya senderan sungai di tepi jalan itu terjadi pada Kamis (13/11) sekitar pukul 20.00 Wita, saat debit air sungai meningkat akibat hujan deras.
Bagian senderan yang jebol memiliki ukuran tinggi sekitar 4 meter dan panjang 5 meter. Kondisi ini pun dikhawatirkan berdampak pada badan jalan di dekatnya. Sebagai langkah awal, telah dipasang garis polisi sebagai penanda untuk mencegah warga berada terlalu dekat ke tepi sungai.
"Kerusakan senderan itu diperkirakan menyebabkan kerugian sekitar Rp 5 juta. Kami lakukan koordinasi dengan perangkat desa dan instansi terkait untuk tindak lanjut perbaikan," kata Agus Artana.
Agus Artana menyatakan, potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih akan terjadi selama beberapa bulan ke depan. Ia pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, pohon tumbang, dan kerusakan bangunan selama musim hujan berlangsung.7ode
Komentar