Betapa Cepat Galungan Datang
ADA hari raya besar, ada yang kecil. Bagi orang Bali yang punya hari raya berderet-deret, Galungan dirayakan sebagai yang paling meriah dan sangat berarti.
Ada ungkapan bagi mereka yang dapat rezeki besar: “bahagia hati ini seperti ngegalung”.
Tak ada hari raya di Bali lebih ramai, lebih sibuk, dan riuh dibanding Galungan. Persiapannya berhari-hari, menanjak perlahan-lahan seperti mendaki gunung sebelum tiba di puncaknya di Rabu Kliwon Dungulan.
Mungkin karena Galungan punya puncak, ia hari raya yang sangat diresapi. Sanak saudara yang jauh, yang tersebar, di hari puncak ini diajak berkumpul. Berhari-hari sebelum hari puncak tiba, umat seakan dipanggil-panggil untuk merayakan. Itu sebabnya Galungan menjadi hari raya yang paling membuat kangen. Ia menjadi hari yang dirindukan, yang ditunggu-tunggu.
Tapi, masihkah kini Galungan sebagai hari raya yang ditunggu-tunggu seperti dulu, ketika Bumi tidak seriuh sekarang, dan hubungan kekerabatan demikian lekat? Dulu tujuh bulan sekali terasa sangat lama, sehingga Galungan terasa jauh. Tatkala suatu waktu ketika itu Galungan dirayakan, orang-orang selalu merindukannya agar ia cepat kembali. Dan mereka harus menunggu tujuh bulan lagi. Ah, betapa lama terasa. Anak-anak bertanya pada ibu dan nenek, “Berapa kali lagi kita harus tidur, agar bisa merayakan Galungan lagi?”
Boleh jadi karena Galungan satu dengan Galungan lain terasa lama, itulah yang menyebabkan Galungan selalu diharapkan cepat datang. Agar bisa menikmati lawar, jukut balung, kue kaliadrem, tape, yang memang dibuat hanya ketika Galungan. Setelah itu duduk-duduk, bertukar cerita, atau menyaksikan orang-orang lalu lalang dan barong ngelawang.
Hampir semua orang berpendapat, kesibukanlah yang membuag Galungan itu terasa lama atau cepat datang. Dulu umat punya sedikit kesibukan, sehari terasa lama, sebulan terasa jemu, banyak waktu buat bengong, antar-galungan begitu lama. Maka Galungan pun menjadi hari yang ditunggu-tunggu.
Sekarang umat dari waktu ke waktu sibuk, sehari begitu cepat berlalu. Bangun pagi, antar anak ke sekolah, menjemput, eh, sudah siang. Belum rasanya tiga pekan bayar cicilan, wah, harus bersiap-siap lagi bayar tunggakan. Tapi, kemudian hati lega, karena tak terasa setahun utang lunas. Cepat berlalu, namun, eh, mesti bersiap menyambut Galungan. Padahal belum lama ini sudah Galungan. Mengapa kini Galungan terasa cepat datang?
Rasanya belum lama sibuk bikin penjor, minta bantuan tetangga menancapkan, tahu-tahu sekarang sudah bersiap bikin penjor lagi, disertai persyaratan dari PLN agar penjor ditancapkan 2,5 meter dari kabel listrik. Masih jelas dalam ingatan, semester lalu anak sibuk ujian tengah semester genap menjelang Galungan, eh, sekarang semester ganjil, Galungan lagi.
Banyak ibu-ibu, bapak, kakek, nenek, yang masih ingat selepas Galungan lalu anak-anak, keponakan, cucu, sibuk mencari universitas dan sekolah, mereka kini ramai-ramai berkabar mau merayakan Galungan bareng di kampung.
Orang-orang kini merasakan betapa cepat Galungan datang. Itu berarti begitu cepat harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit buat berhari raya. Banyak umat yang terburu-buru mempersiapkan Galungan di tengah kesibukan kantor dan pekerjaan buat cari makan.
Maka masuk akal jika banyak yang mulai memperbincangkan, mengapa Galungan tidak setahun sekali saja ya? Kita bakal lebih khidmat merayakannya, lebih meriah, karena dana buat berhari raya bisa dipusatkan buat setahun sekali. Pasti akan terasa sebagai hari raya yang ditunggu-tunggu lagi seperti dulu.
Sebelum tahun 80-an pernah ada wacana Galungan nadi dirayakan sekali dalam dua kali Galungan. Cirinya, kalau nadi ada penjor, Galungan biasa tidak menancapkan penjor. Tapi Galungan tetap seperti biasa: ada lawar, sate, tum, tape, kaliadrem, jaja gina, dan sembahyang dengan khusuk. “Sekarang setiap Galungan, semua Galungan nadi. Hahaha,” komentar orang.
Kini, ketika umat semakin sibuk sehari-hari, mulai muncul lagi wacana tentang Galungan sekali setahun, biar hemat dan lebih terasa. Namun jauh lebih banyak yang tetap ingin tujuh bulan sekali. “Tak apa Galungan terasa cepat datang. Kan kita bisa libur, bisa mengaso sambil berhari raya,” ujar mereka yang menolak Galungan sekali setahun. 7
Komentar