nusabali

ST Wana Udaya Parwata Kuta Gelar Lomba Ogoh-ogoh Mini, Tapel, dan Sketsa

  • www.nusabali.com-st-wana-udaya-parwata-kuta-gelar-lomba-ogoh-ogoh-mini-tapel-dan-sketsa

MANGUPURA, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Wana Udaya Parwata Banjar Pengabetan, Kuta, Kabupaten Badung, sukses menggelar Lomba Ogoh-ogoh Mini, Tapel, dan Sketsa Ogoh-ogoh di Gedung Lotring, Kantor Camat Kuta, Minggu (9/11/2025). Kegiatan yang memperebutkan total hadiah jutaan rupiah dan piala berlapis kaca ini disambut antusias oleh peserta dari berbagai daerah, bahkan hingga luar Bali.

Wakil Panitia Penyelenggara, I Kadek Juanda Artha Prasetya alias Dekjo, menjelaskan lomba ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas di bidang seni ogoh-ogoh.

“Kami ingin memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berkarya sekaligus menjaga semangat gotong royong dan pelestarian budaya Bali. Lomba ini kami rancang agar Ogoh-ogoh tidak hanya identik dengan Nyepi, tapi juga bisa menjadi daya tarik wisata budaya di luar musim Nyepi,” ujar Dekjo.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari HUT Sanggar Kerthi Budaya dan program kerja tahunan ST Wana Udaya Parwata. Acara dibuka secara resmi oleh perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, mewakili Bupati Badung, serta dihadiri unsur Kecamatan Kuta, Bendesa Adat, tokoh masyarakat, dan seniman lokal.

Meski sempat diguyur hujan dan bersamaan dengan event serupa di Kedonganan, lomba tetap berlangsung meriah. Para peserta tetap tampil penuh semangat hingga akhir kegiatan.

“Cuaca memang tidak mendukung, tapi energi peserta luar biasa. Semua tetap semangat sampai acara selesai,” kata mahasiswa jurusan Manajemen Hospitality Politeknik Pariwisata Bali ini.
Jumlah peserta mencapai 80 orang, terdiri dari: tapel 25 peserta, sketsa ogoh-ogoh (25), ogoh-ogoh non mesin (21), dan ogoh-ogoh mesin (9).

Menariknya, peserta paling jauh datang dari Lombok, yakni Cilpaa Askara (Indira Chaitra), seniman tapel perempuan yang dikenal produktif berkarya di ajang budaya Bali.
Menurut Dekjo, perkembangan lomba ogoh-ogoh mini dan sketsa di sepanjang 2025 menunjukkan peningkatan signifikan.

“Antusias peserta luar biasa tinggi, baik dari segi jumlah maupun kualitas karya. Ini bukti semangat anak muda Bali dalam melestarikan budaya masih sangat kuat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sistem lomba dibagi dua kategori utama—mesin dan non-mesin—agar seluruh peserta memiliki kesempatan yang adil. Panitia juga menekankan nilai sportivitas agar tidak muncul kontra atau perundungan terhadap hasil karya peserta.

“Kami selalu menekankan agar semua pihak saling menghargai. Setiap karya punya keunikan sendiri, dan semua layak diapresiasi,” tegasnya.

Dekjo juga menilai kemajuan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), bisa menjadi alat bantu positif jika digunakan dengan bijak.

“AI bisa membantu dalam desain awal, tapi nilai utama ogoh-ogoh tetap ada pada kreativitas manual dan jiwa seni tradisional,” katanya.

Ke depan, panitia berencana memperbesar skala lomba agar dapat menjadi agenda tahunan berskala regional yang mendukung sektor pariwisata budaya.

“Kami ingin lomba ini menjadi ruang silaturahmi antar-ST dan komunitas seni, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di kalangan generasi muda,” pungkas Dekjo. *m03

Komentar