nusabali

HUT Mahasaba XIV FIB Unud Angkat Lomba Nasional Bertema Pelestarian Sastra Bali

  • www.nusabali.com-hut-mahasaba-xiv-fib-unud-angkat-lomba-nasional-bertema-pelestarian-sastra-bali

DENPASAR, NusaBali.com – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sastra Bali, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Mahasaba XIV tahun 2025, pada 23–24 Oktober 2025 di Auditorium Widya Sabha Mandala, Jalan Pulau Nias No.13, Sanglah, Denpasar.

Ketua Panitia HUT Mahasaba XIV, Ida Bagus Anom Pradnyana atau akrab disapa Tugus Anom (21), mengatakan perayaan tahun ini menghadirkan sejumlah pembaruan dan inovasi kegiatan. Salah satunya, panitia berhasil menambah dua lomba baru berskala nasional, yakni lomba pidato dan lomba dharmawacana berbasis sastra Nusantara.

“Tujuan utama kami adalah pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali. Di sisi lain, kami ingin menyediakan ruang berekspresi bagi generasi muda yang memiliki minat di bidang sastra Bali,” ujar Tugus Anom.

Rangkaian lomba tahun ini diikuti lebih dari 120 peserta dari berbagai kategori. Lomba nyurat lontar diikuti 80 peserta (55 kategori putri dan 25 kategori putra), lomba geguritan diikuti 18 pasang peserta, lomba pidato nasional diikuti 7 peserta, lomba dharmawacana nasional diikuti 5 peserta, dan lomba konten digital diikuti 11 peserta.

Dalam HUT Mahasaba XIV ini, lomba-lomba menghadirkan juri dari kalangan akademisi internal maupun eksternal FIB. Beberapa di antaranya yakni Prof. Dr. Putu Sutama, M.S., Dr. Drs. I Wayan Suardiana, M.Hum., dan Dr. Ida Bagus Made Wisnu Parta, S.S., M.Hum.

Tugus Anom menjelaskan, sistem lomba dibagi menjadi beberapa tingkatan. Dua lomba berskala nasional yakni dharmawacana dan pidato memperebutkan juara 1, 2, dan 3. Lomba nyurat lontar ditujukan bagi siswa SMA/SMK se-Bali, sedangkan lomba mageguritan dan konten digital dibuka untuk peserta umum di seluruh Bali.

Selain ajang lomba, panitia juga menyoroti pengaruh teknologi Artificial Intelligence (AI) terhadap pelestarian sastra Bali. Menurut Tugus, teknologi AI bisa menjadi peluang sekaligus tantangan.


“AI bisa membantu menganalisis teks sastra Bali dan mempermudah akses masyarakat terhadap karya sastra. Tapi di sisi lain, makna sastra tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pengaruh AI terhadap bahasa Bali. Di satu sisi, AI bisa menjadi alat penerjemah yang memudahkan pembelajaran bahasa Bali bagi generasi muda. Namun di sisi lain, penggunaan teknologi yang terlalu luas bisa menggeser fungsi bahasa daerah karena dominasi bahasa asing dalam sistem digital.

Sebagai mahasiswa Sastra Bali, Tugus menegaskan pentingnya penggunaan bahasa Bali dalam kehidupan kampus.

“Kami berusaha menjaga kebiasaan berbicara dalam bahasa Bali di lingkungan kampus. Itu bentuk kecil tapi nyata dalam melestarikan bahasa ibu kami,” ujarnya.

Tugus berharap HUT Mahasaba ke depan dapat terus menjadi pionir pelestarian dan pengembangan bahasa, aksara, serta sastra Bali, sekaligus memperluas jangkauan kegiatan ke tingkat nasional bahkan internasional.

“Harapan kami, Mahasaba bisa terus berkembang dan memberi ruang yang lebih luas bagi kreativitas generasi muda Bali,” pungkasnya. *m03

Komentar