Tradisi Mekotek Diabadikan Jadi Monumen Desa Wisata Munggu
Ada 32 Karakter dengan Ekspresi Berbeda, Dibangun di Kawasan Setra Raja Mengwi III
Mekotek
Desa Munggu
Raja Mengwi
Kerajaan Mengwi
Tradisi
Monumen Ngrebeg Mekotek
Patung
Cokorda Agung Nyoman Munggu
Blambangan
MANGUPURA, NusaBali.com – Desa Munggu yang berstatus desa wisata di Kecamatan Mengwi, Badung kini memiliki ikon baru dengan kehadiran Monumen Ngrebeg Mekotek. Ikon yang berlokasi di jantung desa ini mengabadikan sejarah, ritual, dan tradisi yang bermula dari abad ke-18 Masehi tersebut.
Bertepatan dengan Hari Suci Sugihan Jawa, Wraspati Wage Sungsang, Kamis (13/11/2025), monumen yang berdiri di atas lahan seluas 10 are di Simpang Munggu (Jalan By Pass Tanah Lot–Jalan Raya Munggu) ini diplaspas sekaligus diresmikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa.
Perbekel Desa Munggu Ketut Darta, 58, menuturkan monumen yang memotret roh desanya ini sudah didambakan warga sejak tahun 2013. Sebab, kata dia, tradisi sekaligus atraksi wisata budaya, mekotek, merupakan pintu yang membuka Desa Munggu ke gerbang pariwisata dunia seperti sekarang ini.
“Monumen yang kami idam-idamkan ini akhirnya dapat terwujud dan berdiri hari ini dan jadi salah satu cara kami melestarikan tradisi mekotek juga,” tutur Darta ketika ditemui di sela peresmian Monumen Ngrebeg Mekotek yang sekaligus didesain menjadi Taman Mekotek Desa Wisata Munggu.
Dijelaskan sang undagi (arsitek) Nyoman Ardana, 39, monumen berdimensi 5 × 5 meter dengan tinggi patung 6 meter ini digarap 15 seniman lokal Desa Munggu selama empat bulan dan tuntas Oktober lalu. Kata pria yang akrab disapa Man Paya ini, penggarapan monumen menguras pikiran meskipun mereka adalah pelaku tradisi mekotek itu sendiri.
“Pengerjaannya lumayan sulit karena untuk menyatukan (karakter patung) orang jadi banyak supaya kelihatan hidup itu cukup menguras pikiran,” beber Man Paya, seniman asal Banjar Kerobokan, Desa Munggu ini.
Monumen mekotek terdiri dari 32 karakter manusia bertelanjang dada, namun mengenakan destar dan kamen poleng (hitam-putih) sesuai pakaian prajurit di masa silam. Masing-masing memegang semacam galah, di mana ujung-ujung galah itu saling dipertemukan sampai membentuk kerucut.
Sebanyak 15 karakter dibuat menyatu satu sama lain dan berada di pusat kerucut. Sedangkan, 17 karakter lainnya mengelilingi kelompok karakter di dalamnya dan berdiri terpisah dari karakter lain. Karakter yang terlepas ini digarap terpisah dengan rangka tersendiri, begitu pula galah yang dibawa dirakit terpisah saat menyatukan karakter ke atas monumen.
Kata Man Paya, karakter dengan ekspresi dan pose mekotek yang tampak nyata ini tidak didesain dari awal—melainkan dicari bentuknya ketika penggarapan. Para seniman menggali dalam memori masing-masing, bagaimana tindak-tanduk mereka ketika menjadi peserta mekotek setiap Hari Suci Kuningan tersebut.
“Ekspresi masing-masing karakter juga kami buat berbeda-beda satu sama lain. Ada yang tertawa, menahan sakit, semua yang kami alami ketika melaksanakan tradisi mekotek,” jelas Man Paya.
Teknik pembuatan patung yang berdiri di atas bangunan panggung sekaligus akan jadi museum itu, kata Man Paya, sama seperti patung monumen pada umumnya. Pertama, dibuat rangka besi dengan bentuk kasar anatomi dari jaring baja. Kemudian, rangka tersebut ditutup campuran pasir-semen sebelum dihaluskan dengan acian semen (mill) dan difinising dengan cat.
Selain patung-patung pada monumen utama, ada dua patung patih di depan monumen dan ada pula relief yang menghiasi tembok Taman Mekotek Desa Wisata Munggu. Relief yang membentang sekitar 10 meter tersebut, kata Man Paya, justru dibuat lebih dulu sebagai basis untuk mengemas tradisi mekotek menjadi monumen.
Secara ringkas, relief tersebut menceritakan tentang asal muasal tradisi mekotek yang merupakan warisan I Gusti Agung Nyoman Munggu. Tokoh yang juga dikenal I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng merupakan putra bungsu Raja Mengwi I Ida Cokorda Sakti Blambangan yang ditugaskan memerintah di suatu wilayah di kawasan Alas Beraban (Desa Munggu).
Perbekel Desa Munggu Ketut Darta, 58, menuturkan monumen yang memotret roh desanya ini sudah didambakan warga sejak tahun 2013. Sebab, kata dia, tradisi sekaligus atraksi wisata budaya, mekotek, merupakan pintu yang membuka Desa Munggu ke gerbang pariwisata dunia seperti sekarang ini.
“Monumen yang kami idam-idamkan ini akhirnya dapat terwujud dan berdiri hari ini dan jadi salah satu cara kami melestarikan tradisi mekotek juga,” tutur Darta ketika ditemui di sela peresmian Monumen Ngrebeg Mekotek yang sekaligus didesain menjadi Taman Mekotek Desa Wisata Munggu.
Dijelaskan sang undagi (arsitek) Nyoman Ardana, 39, monumen berdimensi 5 × 5 meter dengan tinggi patung 6 meter ini digarap 15 seniman lokal Desa Munggu selama empat bulan dan tuntas Oktober lalu. Kata pria yang akrab disapa Man Paya ini, penggarapan monumen menguras pikiran meskipun mereka adalah pelaku tradisi mekotek itu sendiri.
“Pengerjaannya lumayan sulit karena untuk menyatukan (karakter patung) orang jadi banyak supaya kelihatan hidup itu cukup menguras pikiran,” beber Man Paya, seniman asal Banjar Kerobokan, Desa Munggu ini.
Monumen mekotek terdiri dari 32 karakter manusia bertelanjang dada, namun mengenakan destar dan kamen poleng (hitam-putih) sesuai pakaian prajurit di masa silam. Masing-masing memegang semacam galah, di mana ujung-ujung galah itu saling dipertemukan sampai membentuk kerucut.
Sebanyak 15 karakter dibuat menyatu satu sama lain dan berada di pusat kerucut. Sedangkan, 17 karakter lainnya mengelilingi kelompok karakter di dalamnya dan berdiri terpisah dari karakter lain. Karakter yang terlepas ini digarap terpisah dengan rangka tersendiri, begitu pula galah yang dibawa dirakit terpisah saat menyatukan karakter ke atas monumen.
Kata Man Paya, karakter dengan ekspresi dan pose mekotek yang tampak nyata ini tidak didesain dari awal—melainkan dicari bentuknya ketika penggarapan. Para seniman menggali dalam memori masing-masing, bagaimana tindak-tanduk mereka ketika menjadi peserta mekotek setiap Hari Suci Kuningan tersebut.
“Ekspresi masing-masing karakter juga kami buat berbeda-beda satu sama lain. Ada yang tertawa, menahan sakit, semua yang kami alami ketika melaksanakan tradisi mekotek,” jelas Man Paya.
Teknik pembuatan patung yang berdiri di atas bangunan panggung sekaligus akan jadi museum itu, kata Man Paya, sama seperti patung monumen pada umumnya. Pertama, dibuat rangka besi dengan bentuk kasar anatomi dari jaring baja. Kemudian, rangka tersebut ditutup campuran pasir-semen sebelum dihaluskan dengan acian semen (mill) dan difinising dengan cat.
Selain patung-patung pada monumen utama, ada dua patung patih di depan monumen dan ada pula relief yang menghiasi tembok Taman Mekotek Desa Wisata Munggu. Relief yang membentang sekitar 10 meter tersebut, kata Man Paya, justru dibuat lebih dulu sebagai basis untuk mengemas tradisi mekotek menjadi monumen.
Secara ringkas, relief tersebut menceritakan tentang asal muasal tradisi mekotek yang merupakan warisan I Gusti Agung Nyoman Munggu. Tokoh yang juga dikenal I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng merupakan putra bungsu Raja Mengwi I Ida Cokorda Sakti Blambangan yang ditugaskan memerintah di suatu wilayah di kawasan Alas Beraban (Desa Munggu).
Komentar