nusabali

MUTIARA WEDA: Si Paling Benar - Viparyaya

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-si-paling-benar-viparyaya

Viparyayo mithyājñānam atad-rūpa pratiṣṭham. (Yoga Sutra I.8)

Viparyaya adalah pengetahuan yang salah, persepsi keliru terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya.

DALAM kehidupan modern, gejala viparyaya, cara pandang yang keliru terhadap kenyataan, dapat ditemukan di mana saja, menembus batas profesi dan status sosial. Dalam bahasa psikologi, keadaan ini dikenal dengan berbagai istilah: cognitive distortion, denial, delusion, confirmation bias, egocentric bias, hingga cognitive dissonance reduction. Semua istilah itu menggambarkan satu hal yang sama: ketika pikiran manusia menolak melihat kenyataan sebagaimana adanya, dan lebih memilih versi kenyataan yang nyaman bagi egonya.

Orang yang terjebak dalam viparyaya biasanya melihat dunia melalui cermin bengkok. Dia mampu menangkap kesalahan sekecil apa pun pada orang lain, tetapi matanya buta terhadap kekeliruan dirinya sendiri. Dia menolak koreksi, menganggap pandangannyalah yang paling benar, dan setiap perbedaan dianggap sebagai ancaman. Dari luar, tampak tegas dan yakin; namun di dalam, dia sebenarnya sedang melindungi sesuatu yang rapuh.

Dia melihat dunia, tetapi bukan dunia sebagaimana adanya, melainkan bayangan yang sudah diputar oleh egonya sendiri. Di matanya, selalu ada yang salah pada orang lain. Dia bisa menyalahkan siapa saja dan di mana saja: di ruang seminar yang penuh wacana, di depan kelas tempat dia mengajar, di rapat kantor, di pertemuan keluarga, bahkan dalam percakapan ringan di warung kopi. Setiap ruang menjadi panggung baginya untuk menunjukkan bahwa dirinya paling tahu arah kebenaran.

Kata-katanya tajam, sering dibungkus seolah nasihat, padahal isinya kritik yang menyindir dan menyalahkan. Si A kurang ini, si B keliru itu. Dalam pikirannya, semua orang salah kecuali dirinya. Dia tidak sedang berdialog, melainkan sedang berdebat dengan bayang-bayangnya sendiri. Dunia menjadi cermin tempat dia mencari kesalahan, bukan kebijaksanaan.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi pada orang biasa. Ia bisa muncul pada siapa saja: dosen yang merasa paling tahu, guru yang tak mau belajar dari muridnya, pemimpin yang menutup telinga terhadap kritik, pegawai yang selalu menyalahkan rekan kerja, bahkan asesor yang menilai dengan prasangka pribadi. Dalam setiap profesi, selalu ada ruang di mana ego ingin berkuasa atas kebenaran.

Dalam istilah Yoga, ini disebut viparyaya-buddhi, pikiran yang terbalik arah kebenarannya. Sedangkan dalam psikologi modern, ini adalah bentuk distorsi kognitif dan penolakan realitas. Keduanya mengajarkan hal yang sama: bahwa musuh terbesar manusia bukanlah kebodohan orang lain, melainkan ketidaksediaan untuk melihat diri sendiri secara jernih.

Maka, perlahan dunia di sekitarnya pun ikut menjauh. Orang-orang mulai berhati-hati, menjaga jarak, dan menimbang setiap kata sebelum berbicara dengannya. Mereka tahu, satu kalimat yang jujur bisa disalahpahami, satu pendapat bisa ditanggapi dengan nyinyiran atau tuduhan. Maka, daripada beradu pandangan, mereka memilih diam.

Lama-kelamaan, ruang di sekitar orang seperti ini menjadi sunyi. Dia mungkin merasa dirinya kuat, yakin, dan berwibawa, tetapi sebenarnya dia berdiri di tengah kesepian yang dia bangun sendiri. Orang-orang hanya datang bila terpaksa, di rapat, di ruang kerja, di pertemuan yang tidak bisa dihindari. Di luar itu, semua memilih jalan lain. Tidak ada yang ingin bersinggungan, sebab setiap pertemuan terasa seperti ladang ranjau bagi hati.

Inilah ironi seorang yang terjebak dalam viparyaya: dia ingin diakui benar, tapi justru kehilangan sambungan dengan manusia lain. Dia ingin didengar, namun kata-katanya membuat orang bungkam. Dia mengira sedang memperjuangkan kebenaran, padahal yang dia bela hanyalah bayangan dari egonya sendiri. Perlahan, dia menjadi seperti menara tinggi yang menjulang di tengah kota, kokoh dari luar, tapi sepi di dalam. Orang-orang menatapnya dari jauh, bukan dengan hormat, melainkan dengan jarak yang hati-hati. 

Seorang yang hidup dalam viparyaya sesungguhnya tidak jahat, hanya belum jernih. Cermin batinnya buram oleh debu keangkuhan dan ketidaktahuan (avidyā). Dia membutuhkan bukan lawan, melainkan keheningan. Sebab hanya dalam keheningan dan kerendahan hati, dia akan melihat bahwa kebenaran tidak perlu dibela dengan kata-kata yang menusuk. 7

Komentar