ST Eka Sila Dharma Kedonganan Gelar Lomba Ogoh-Ogoh Mini dan Tapel se-Bali
MANGUPURA, NusaBali.com – Sekaa Teruna (ST) Eka Sila Dharma Banjar Kubu Alit, Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, menggelar Lomba Ogoh-ogoh Mini dan Tapel Ogoh-ogoh se-Bali bertajuk Gema Budaya ESD 2025, Minggu (9/11/2025) di Wantilan Desa Adat Kedonganan.
Kegiatan ini digelar dalam rangka HUT ke-38 Sekaa Teruna Eka Sila Dharma sekaligus serah terima pengurus baru periode 2025–2028. Ajang seni budaya ini menghadirkan tiga dewan juri, yakni seniman CenkCenk Bero, Arif Masriadi, dan Pasek Asta.
Ketua Panitia Gema Budaya ESD 2025, I Putu Indra Permana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan event penutup tahun 2025 yang dipersiapkan sejak Agustus lalu. “Kami ingin menciptakan ruang ekspresi bagi generasi muda agar tetap mencintai dan melestarikan seni ogoh-ogoh tradisional Bali,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Acara Oka Julian (19), mahasiswa STIKOM Bali, menjelaskan bahwa lomba ini mengangkat tema “Yowana Ngardi Dharma lan Dharma Angadeg Jagat”, yang bermakna generasi muda memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan moralitas.
“Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga media edukasi dan apresiasi terhadap seni budaya lokal,” ujar Oka.
Total peserta mencapai 51 kelompok dari tiga kategori lomba, yakni, Kategori Mesin: 6 peserta, Kategori Non-Mesin: 20 peserta, dan Kategori Tapel Ogoh-ogoh: 25 peserta.
Peserta terjauh datang dari Kabupaten Gianyar dan Karangasem, menunjukkan semangat tinggi para seniman muda. “Ada peserta yang sudah mengantar karya sejak dini hari meski hujan deras mengguyur Kedonganan,” tambah Oka.
Meski sempat diguyur hujan lebat, kegiatan tetap berlangsung semarak dengan dukungan penuh dari tokoh adat dan pemerintah setempat. Pembukaan lomba dilakukan oleh Jro Bendesa Adat Kedonganan disaksikan sejumlah undangan, antara lain Lurah Kedonganan, anggota DPRD Badung I Nyoman Sudana, Ketua LPM, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta Ketua Sabha Yowana Desa Adat Kedonganan.
Panitia memilih Wantilan Desa Adat Kedonganan sebagai lokasi kegiatan karena posisinya yang strategis di Catus Pata (titik nol desa adat) dan memiliki area luas untuk menampung karya dan penonton.
Lomba Gema Budaya ESD 2025 menggunakan sistem penilaian per kategori dengan total 21 penghargaan yang diperebutkan. “Kami tidak menerapkan sistem ‘tarung bebas’, karena ingin setiap karya dinilai secara objektif sesuai kategorinya,” terang Oka.
Lebih lanjut, panitia berharap kegiatan ini dapat digelar secara rutin setiap tahun dengan menambah kategori peserta pemula (SD, SMP, SMA). “Agar tradisi ogoh-ogoh terus hidup di kalangan anak-anak muda sejak dini,” katanya.
Menariknya, Oka juga menyoroti pengaruh teknologi AI (kecerdasan buatan) dalam proses kreativitas para peserta. “Sekarang banyak anak muda menggunakan AI untuk mencari ide dan referensi visual ogoh-ogoh. Ini positif selama tidak menghilangkan nilai tradisi dan pakem budaya,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya sportivitas dan anti-bullying dalam ajang seni. “Kami ingin menanamkan budaya apresiasi, bukan saling menjatuhkan. Semua karya pantas dihargai karena lahir dari kreativitas dan ketulusan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, ST Eka Sila Dharma berharap seni ogoh-ogoh dapat menjadi sumber ekonomi kreatif sekaligus daya tarik pariwisata budaya di Badung.
“Kami ingin agar kegiatan budaya seperti ini menjadi ikon baru Kedonganan dan memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” pungkas Oka. *m03
Komentar