Gebyar Seni Budaya Desa Pemecutan Kaja Angkat Nilai Taksu dan Pelestarian Tradisi Ngelawang
DENPASAR, NusaBali.com — Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, menggelar Gebyar Seni Budaya bertajuk “Guna Kalangon Samastha” sebagai ajang pelestarian seni dan budaya Bali di tengah derasnya arus modernisasi. Kegiatan berlangsung 1–2 November 2025, berpusat di Puri Agung Jro Kuta, Jalan Sutomo No 38, Denpasar Utara.
Pada hari pertama, digelar Lomba Ngelawang yang diikuti sejumlah Sekaa dari berbagai banjar di wilayah Desa Pemecutan Kaja. Sementara di hari kedua, dilangsungkan berbagai lomba seni tari dan tabuh, antara lain megender, mekendang tinggal, tari Gandha Kasturi, tari Pendet, tari Baris Tunggal, dan tari Margapati.
Ketua Panitia Pelaksana, I Gusti Ngurah Bagus Manu Raditya, menjelaskan bahwa Gebyar Seni Budaya tahun ini merupakan kegiatan tahunan yang menjadi wadah ekspresi dan kreativitas masyarakat desa.
“Kami mempersembahkan lomba ngelawang dan lomba tari serta karawitan se-Desa Pemecutan Kaja. Bahkan, ibu-ibu PKK juga ikut tampil menarikan Tari Gandha Kasturi,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan, Minggu (2/11/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh Perbekel Desa Pemecutan Kaja, LPM, BPD, penglingsir Puri Agung Jro Kuta selaku tuan rumah, serta Camat Denpasar Utara yang hadir pada malam penutupan sekaligus penyerahan hadiah.
Menurut Raditya, melalui kegiatan seperti ini, Desa Pemecutan Kaja berupaya mengimplementasikan nilai-nilai Vasudhaiva Kutumbakam (seluruh dunia adalah satu keluarga) serta Jagat Kerthi sebagai wujud keharmonisan masyarakat Bali.
“Lewat pergelaran seni, kami ingin mempersatukan masyarakat serta mengembangkan potensi sumber daya manusia dan alam. Meski zaman sudah modern, masyarakat Bali harus tetap memegang teguh taksu, pakem, dan nilai-nilai budaya yang adi luhung,” tegasnya.
Terkait perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini merambah dunia seni, Raditya menilai teknologi memang dapat menjadi alat bantu, namun seni sejati tetap lahir dari ide dan rasa manusia itu sendiri.
“Seni adalah hasil olah rasa dan cipta manusia. Teknologi bisa dimanfaatkan untuk memperkaya karya, tapi jangan sampai nilai dan maknanya hilang,” katanya.
Ia menambahkan, Lomba Ngelawang tahun ini memiliki makna penting karena tradisi ngelawang di Desa Pemecutan Kaja kini mulai jarang dijumpai saat Hari Raya Galungan dan Kuningan.
“Kami ingin masyarakat kembali memahami makna ngelawang, bukan hanya sekadar menarikan barong dan mencari uang. Ada nilai spiritual dan filosofi di baliknya,” jelas Raditya.
Tahun depan, panitia berencana menambah Lomba Baleganjur sebagai bentuk adaptasi terhadap tren seni kekinian. Adapun jumlah peserta lomba tari mencapai 188 orang, sedangkan lomba ngelawang diikuti sekitar 30–35 orang dengan formasi setiap sekaa terdiri dari 15–30 orang.
Raditya berharap ajang ini dapat terus digelar setiap tahun sebagai sarana pelestarian budaya dan hiburan masyarakat.
“Kalah menang hal biasa. Yang terpenting, kegiatan ini bisa membangkitkan semangat dan idealisme generasi muda agar tetap mencintai seni dan budaya Bali,” pungkasnya. *m03
1
Komentar