nusabali

Menjelang Galungan, Pengusaha Penjor di Denpasar Raup Berkah Meski Diterpa Kenaikan Harga Bahan

  • www.nusabali.com-menjelang-galungan-pengusaha-penjor-di-denpasar-raup-berkah-meski-diterpa-kenaikan-harga-bahan

DENPASAR, NusaBali.com – Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, sejumlah pengusaha penjor di Denpasar mulai kebanjiran pesanan. Meski demikian, mereka tetap menghadapi tantangan akibat kenaikan harga bahan baku di pasaran.

Salah satunya adalah Flamboyan Penjor, usaha penjor yang berlokasi di Jalan Sedap Malam, Banjar Kebonkuri Kelod, Kesiman, Denpasar Timur. Pemilik usaha, Dani Adriawan, yang juga bekerja sebagai staf di salah satu kantor notaris, mengatakan bisnis penjor ini berawal dari hobi yang kemudian berkembang menjadi usaha musiman setiap perayaan Galungan.

“Saya sudah menekuni usaha penjor ini sejak empat tahun lalu. Awalnya hanya untuk menyalurkan hobi, tapi lama-lama menjadi kegiatan produktif setiap menjelang Galungan,” ujar Dani saat ditemui, Minggu (9/11/2025).

Menurutnya, penjualan penjor untuk Galungan yang jatuh pada 19 November kali ini telah dimulai sejak akhir Oktober lalu, tepatnya setelah Tumpek Bubuh. Namun, Dani mengaku tahun ini ia hanya memproduksi sekitar 30–35 penjor, lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Jumlahnya saya kurangi karena waktu yang terbatas dan harga bahan baku di pasaran yang terus naik. Kami menyesuaikan agar kualitas tetap terjaga dan harga tetap terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya.

Harga penjor yang ditawarkan bervariasi tergantung ukuran dan kelengkapan. Untuk penjor standar dibanderol mulai Rp300 ribu, sedangkan penjor lengkap dengan sanggah dan perlengkapan lainnya dijual sekitar Rp400 ribu.

Dani mengungkapkan, tantangan utama tahun ini adalah melonjaknya harga bahan baku, terutama ental (daun kelapa muda) yang menjadi komponen utama pembuatan penjor. “Kalau dulu harga bahan masih bisa naik 5–10 ribu rupiah, sekarang bisa melonjak dua sampai tiga kali lipat. Misalnya, bahan yang dulu Rp10 ribu sekarang bisa sampai Rp25 ribu hingga Rp35 ribu,” katanya.

Meski demikian, Dani berupaya menjaga harga agar tetap wajar. “Kami sadar Galungan adalah hari besar yang penuh pengeluaran. Bukan soal tidak ikhlas beryadnya, tapi kami ingin membantu masyarakat agar bisa tetap membuat penjor tanpa terbebani harga,” ucapnya.

Proses pembuatan penjor dilakukan secara gotong royong bersama istri dan saudara-saudaranya di halaman rumah. Menurutnya, kebersamaan dalam membuat penjor menjadi bagian dari rasa syukur menyambut kemenangan Dharma melawan Adharma.

“Harapan saya, semoga ke depan harga bahan bisa stabil lagi. Kalau naik sedikit menjelang hari raya masih wajar, tapi sekarang kenaikannya terlalu tinggi. Mudah-mudahan pemerintah bisa memperhatikan kondisi ini,” harapnya.

Meski dihadang inflasi dan mahalnya bahan baku, semangat pengusaha penjor seperti Dani tak surut. Di tengah aroma persiapan Galungan yang mulai terasa di Denpasar, mereka tetap berkreasi demi menjaga tradisi dan keindahan penjor di setiap rumah umat Hindu Bali. *m03

Komentar