Pura Desa dan Puseh Keliki Gelar Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, hingga Ngusaba Nini
GIANYAR, NusaBali.com – Suasana sakral menyelimuti Pura Desa, Puseh, dan Bale Agung Desa Adat Keliki, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, saat digelarnya Karya Agung Mamungkah, Mupuk Pedagingan, Ngenteg Linggih, Ngusaba Nini, Pedudusan Agung, dan Mepedanan, pada Buda Umanis Julungwangi, Rabu (5/11/2025) yang bertepatan dengan Purnama Kalima.
Karya agung ini menjadi momentum besar bagi krama Desa Adat Keliki, yang terakhir kali menggelar upacara serupa sekitar 30 tahun silam. Persiapan karya telah dilakukan sejak Juli 2025 dan melibatkan seluruh komponen masyarakat desa, mulai dari krama banjar, PKK, hingga sekaa teruna.
“Persiapan sudah dimulai sejak bulan Juli lalu. Karya agung tahun ini meliputi mamungkah, ngusaba nini, melaspas, ngenteg linggih, ngusaba desa, dan beberapa rangkaian lain,” ujar Jro Bendesa Adat Keliki I Made Ariasa saat ditemui di sela-sela persiapan puncak karya.
Menurutnya, karya ini dipuput oleh tiga sulinggih (Tri Sedaka) yakni Ida Pandita, Ida Pandita Buda, dan Rsi Bunjangga Tiga Warna. “Secara dresta, karya agung di Desa Adat Keliki biasanya digelar setiap tiga dasawarsa. Namun karena beberapa kendala pembangunan dan renovasi pelinggih sebelumnya belum tuntas, karya baru bisa dilaksanakan tahun ini,” jelasnya.
Ariasa mengungkapkan, total dana yang dihabiskan untuk karya ini mencapai sekitar Rp4 miliar, bersumber dari swadaya 255 krama desa dan sekitar 500 krama banjar. “Kami juga menjalankan prosesi ngodak Ida Sesuhunan di Pura Desa dan Puseh. Tidak hanya bangunan yang direnovasi, tetapi seluruh aspek spiritual dan fisik kami rawat dan upacarai,” imbuhnya.
Ia bersyukur, meski sempat dilanda kekhawatiran akibat bencana banjir di beberapa wilayah Gianyar, persiapan karya tetap berjalan lancar. “Wilayah kami berada di dataran tinggi, jadi aman dari banjir. Tapi kami tetap waspada. Persiapan kami atur dengan sistem giliran agar tidak mengganggu pekerjaan krama,” katanya.
Selain tantangan cuaca, kenaikan harga bahan upacara akibat inflasi juga sempat menjadi perhatian. Namun berkat perencanaan matang, termasuk penyusunan RAB dan observasi harga sejak dua tahun lalu, kendala tersebut dapat diantisipasi. “Apapun tantangannya, jika dijalani dengan ikhlas, pasti ada jalan keluar,” tegasnya.
Keunikan Pura Desa Adat Keliki, lanjut Ariasa, terletak pada keberadaan Bale Agung yang menjadi simbol persatuan antara Desa Adat, Desa Dinas, dan Kecamatan. “Pura Desa kami berada di titik tengah yang menghubungkan wilayah Keliki Kangin di Kecamatan Tegallalang dan Desa Keliki serta Kelusa di Kecamatan Payangan,” tuturnya.
Karya agung ini juga menjadi yang kedua selama Ariasa menjabat sebagai bendesa adat. “Dulu karya agung pertama belum begitu dikenal karena belum ada sentuhan teknologi dan media sosial seperti sekarang,” ujarnya.
Puncak karya yang dihadiri Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, anggota DPR RI, DPRD, Bupati Gianyar, Perbekel Keliki, dan Camat Tegallalang itu berlangsung meriah dan penuh makna. Ariasa berharap karya ini menjadi sumber kekuatan spiritual bagi keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat.
“Astungkara, karya labda karya, tan hana upadra. Semoga seluruh masyarakat Bali selalu sejahtera dan sehat. Karya ini bukan hanya kegiatan adat, tapi juga ajang memperkuat seni, budaya, dan semangat gotong royong generasi muda,” pungkasnya. *m03
Komentar