nusabali

Sisi Lain Pura Nagasari di Banjar Kutuh, Sayan, Ubud

Benteng Spiritual Hingga Pusat Kesuburan

  • www.nusabali.com-sisi-lain-pura-nagasari-di-banjar-kutuh-sayan-ubud

Pura Nagasari adalah stana Hyang Widhi dalam manisfestasi Tri Upa Sedana, yakni tiga dewi penganugerah pencerahan, kemakmuran, rezeki, untuk kesejahteraan umat manusia.

GIANYAR, NusaBali
Krama Desa Adat Kutuh, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar,  menggelar Karya Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan, Mapedudusan Agung, Menawa Ratna, puncaknya pada Buda Umanis Julungwangi, 5 November 2025. Karya ini bertepatan piodalan nadi karena berbarengan dengan Purnama Kalima.

 Sebelum puncak karya, di pura setempat digelar upacara Mlaspas, Macaru lan Rsi Gana, Mendem Padagingan pada Anggara Umanis Wariga, Selasa (21/10) siang.

Pura Nagasari merupakan salah satu pura kuno yang menyimpan kisah spiritual dan sejarah panjang. Bagi krama Banjar Adat Kutuh, Desa Sayan, pura di atas lahan 1,7 hektare ini bukan sekadar tempat sembahyang. Nagasari adalah benteng spiritual, penjaga keseimbangan alam, serta pusat kesejahteraan jagat Sayan dan sekitar.

Berdasarkan naskah-naskah kuno dan penelitian arkeologi, Pura Nagasari diyakini sudah berdiri sejak masa kerajaan Mengwi. Bendesa Adat Sayan AA Gde Rai Sugiarta mengatakan, dalam beberapa manuskrip sejarah yang mencatat cerita – cerita tentang wilayah Sayan, mengisahkan tentang I Gusti Agung Banyuning dipakai pacek (penguasa) di Desa Sayan oleh Raja Mengwi I Gusti Agung Ngurah Agung Bima Sakti (Cokorda Sakti Blambangan). Selanjutnya Sayan dibawah kepemimpinan I Gusti Agung Banyuning membangun pura, salah satunya  Pura Nagasari. Seiring  perkembangan dari masa ke masa, pura ini dipelihara oleh penguasa Ubud Cokorda Putu Kandel yang tinggal di Sayan dan Ida Cokorda Gde Kandel di Ubud, putra dari Peliatan.

Pamangku Pura Nagasari I Nyoman Bawa menyebutkan bahwa pada masa kejayaan kerajaan, Mengwi pernah terjadi pemberontakan dengan Desa Sayan. Ketika itu Pura Nagasari dipakai sebagai pertahanan (benteng) terakhir untuk menangkis serangan musuh. Berkat restu Ida Bhatara-bhatari di pura ini, krama Desa Sayan terselamatkan dari serangan tersebut. Pamangku ini menambahkan bahwa Pura Nagasari adalah milik Cokorda Sayan yang merupakan penguasa tunggal Desa Sayan. Namun,  belakangan karena sesuatu hal, pura ini menjadi tanggung jawab krama Dusun Kutuh bersama penguasa Puri Sayan.

Di pura ini terdapat 10 buah batu atau batu megalit di palinggih Arca Batu dan Lingga-Yoni sebagai media pemujaan. Dari bukti-bukti arkeologis tersebut, Pura Nagasari merupakan sebuah warisan budaya yang memiliki nilai sangat penting. Para peneliti benda-benda purba menduga di lokasi pura ini dipercayai sebagai tempat pemujaan jauh sebelum agama Hindu masuk ke Bali (Badra, 2017). Mengacu penelitian tersebut, Tim Peneliti dari Balai Arkeologi Bali, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2017), melaporkan hasil penelitiannya bahwa di Pura Nagasari terdapat tiga buah puncak Lingga atau Ciwabhaga, yakni simbol Dewa Ciwa. Dalam mitologi Hindu disebutkan, bahwa lingga dianggap sebagai simbol Dewa Ciwa dan yoni dianggap simbol saktinya. (Holt 1967, 24). Lingga juga sebagai lambang Bhatara Sri Amerta dan berfungsi mengusir segala bencana serta menganugerahkan kebahagiaan dan kesuburan. Penelitian ini juga menemukan Pura Nagasari merupakan salah pura kuno untuk mohon kesuburan dan kesejahteraan kepada para roh leluhur, Dewa-Dewi, dan segala menifestasi Tuhan, selain benteng untuk keselamatan bersama.

Yajamana Karya di Pura Nagasari Ida Pedanda Gde Putra Watulumbang dari Griya Watu Lumbang, Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Badung, menegaskan  Pura Nagasari adalah stana Hyang Widhi dalam manisfestasi Tri Upa Sedana, yakni tiga dewi penganugerah pencerahan, kemakmuran, rezeki, untuk kesejahteraan umat manusia. Tri Upa Sedana adalah Ida Bhatara Saraswati (ilmu pengetahuan), Ida Bhatara Rambut Sedana (uang/kekayaan), Ida Bhatara Sri (padi/kesejahteraan). Fungsi – fungsi pura tersebut terbaca dari keberadan sejumlah palinggih, antara lain, berupa Naga dan Wana-ra  sebagai simbol amertha atau kesuburan. Palinggih Melanting sebagai stana Dewa Sedana atau Rambut Sedana. ’’Dari kajian artefak palinggih, kita dapat yakini bahwa Pura Nagasari yang dibangun pada masa lampau ini diamatkan sebagai pusat untuk memohon kamerthaan (kesejahteraan) jagat Sayan,’’ jelasnya.

Ida Pedanda mengakui, secara harfiah Nagasari terdiri dari kata naga dan sari. Naga bukan hanya sekadar ular raksasa, melainkan makhluk suci yang berperan penting dalam proses penciptaan, menjaga, dan menguatkan spiritualitas alam semesta beserta isinya. Sedangkan sari berarti zat utama atau terbaik, esensi. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa Pura Nagasari adalah tempat pemujaan yang diyakini sebagai pusat kekuatan spiritual (sari) melalui perlindungan dan kekuatan alam semesta.
 
Pura Nagasari memiliki tiga lawa atau tempat suci yang berfungsi untuk menyangga dan menjaga kesucian pura dan wawidangan Banjar Adat Kutuh baik secara sekala dan niskala. Pujawalidi  tiga pura ini bersamaan dengan di Pura Nagasari. Tiga pura dimaksud, pertama Pura Beji terletak sekitar 100 meter ke arah timur laut dari Pura Nagasari, yang terdiri dari palinggih Padmasana dan Pawedan. Di jaba pura, sisi kiri dan depan dilengkapi telaga atau kolam. Krama Banjar Adat Kutuh dan sekitar memfungsikan Pura Beji sebagai tempat untuk mohon tirta (air suci).

Kedua, Pura Wanasari berada di barat laut dari posisi Pura Nagasari. Di dalam pura terdapat palinggih Padma Naga Taksaka. Di posisi babaturan palinggih terdapat sepasang patung Paksi berbadan manusia. Di depan Padma berupa patung Celuluk, dalam Calonarang sebagai pengikut Rangda. Di depannya, patung Celuluk dengan ukuran lebih besar, dan di sekitarnya ada beberapa patung Kera. Di area utama mandala terdapat patung Paksi (burung) di kiri dan patung Maruti/Hanoman. Dua patung ini tidak hanya menjadi simbol penjaga kesucian area pura, melainkan juga spirit untuk menjaga kelestarian dan keharmonisan semesta,  binatang dan tetumbuhan, untuk kehidupan yang lebih baik. Rangkaian patung - patung ini  diamanatkan sebagai simbolisasi ketulusan umat untuk menjaga kelestarian wana yang dihuni kawanan Kera, pelbagai jenis burung (Paksi) dan binatang lain. Mandala pura hanya berpagar hutan hingga terkesan kebersyukuran krama kepada alam sekitar menyatu tanpa batas.

 Krama Banjar Adat Kutuh kerap menyebut pura ini dengan nama Pura Ring Alas. Wana ini berfungsi sebagai hutan desa yang bermanfaat untuk menjaga keseimbangan hayati dan ekosistem. Satu hal unik, di pura ini krama menghaturkan sesajen sejenis Labaan Jangkep atau hidangan lengkap. Kelian Banjar Adat Kutuh I Ketut Parsa menjelaskan, isi labaan itu pelbagai jenis buah-buahan yang bisa dimakan manusia dan binatang. Misalnya, jagung, pisang, ketela, dan umbi-umbian lainnya. Labaan yang dilengkapi tandingan (rangkaian) nasi dan lauk-pauk ini dipersembahkan saat tajeg surya, tengai tepet atau matahari sedang berada tepat di atas ubun-ubun.

Persembahan ini disertai pantangan. Saat hari ‘H’ upacara Malabaan itu semua krama termasuk pamangku pura dilarang keras nunas atau memakan makanan hasil olahan atau racikan saat ngayah di Pura Nagasari, sebelum prosesi upacara usai. Menurut Ketut Parsa, dari cerita para tetua di banjar setempat, pernah terjadi pengabaian pantangan itu. Akibatnya, krama yang sedang melaksanaan ayah-ayahan untuk upacara diganggu oleh suara-suara aneh. ’’Ada juga krama karahuan dan kesurupan sehingga suasana pura beraura gaib,’’ ujarnya.

Labaan Jangkep dimaksud berupa buah-buahan yang bisa dimakan manusia dan binatang. Lungsuran labaan ini diberikan kepada kelompok kera atau binatang lain yang menghuni hutan, dikenal dengan istilah Magandu. Menurut Ketut Parsa, secara sekala Magandu ini berfungsi untuk mewujudkan sikap cinta kasih kepada makhluk Dwi Pramana (sabda/bersuara dan bayu/bertumbuh), hewan atau binatang.

Ketiga, Pura Melanting di barat daya dari posisi Pura Nagasari. Terdiri dari palinggih Babaturan dan Pawedaan. Di pura ini krama melaksanakan dua jenis upacara. Pertama, Piodalan yang bersamaan dengan di Pura Nagasari. Kedua, piodalan Rambut Sedana pada Buda Wage/Cemeng Kelawu. Khusus saat Piodalan Buda Wage Kelawu, upacara yang dihaturkan hanya banten apekoleman dan persembahan khusus berupa Labaan Nasi Selem (nasi berwarna hitam). Krama di Desa Adat Kutuh khususnya tangkil (berbhakti) untuk memohon keberlimpahan rezeki, kelancaran usaha, dan keberuntungan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperkuat keyakinan atas linggih atau stana Ida Bhatari Melanting, krama Banjar Adat Kutuh telah mendak dan ngalinggihang Ida Bhatari Melanting yang berstana di Pura Melanting, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.7lsa

Komentar