nusabali

Kasus Hak Asuh Anak di Bali Berujung Gugatan dan Laporan ke Polisi

  • www.nusabali.com-kasus-hak-asuh-anak-di-bali-berujung-gugatan-dan-laporan-ke-polisi

DENPASAR, NusaBali.com - Perjuangan seorang ayah asal Bali, Nyoman Asian Adi Putra, kini memasuki babak panjang. Ia harus menempuh jalur hukum untuk bisa kembali bertemu dengan dua buah hatinya yang hingga kini belum dipulangkan ke Bali oleh sang mantan istri, Intan Permata, meski telah ada kesepakatan hak asuh bersama.

Kisah ini bermula dari kesepakatan antara keduanya setelah resmi bercerai tiga tahun lalu. Berdasarkan kesepakatan tersebut, hak asuh dua anak mereka yang masing-masing berusia lima dan enam tahun disepakati sebagai hak asuh bersama. Artinya, baik Nyoman Asian maupun Intan Permata memiliki hak yang sama dalam membesarkan dan merawat anak-anak mereka.

“Status anak-anak adalah hak asuh bersama. Jadi, kami sepakat untuk berbagi waktu dalam pengasuhan yang sudah berjalan tiga tahun,” tutur Nyoman Asian Adi Putra dengan nada lirih, Jumat (7/11/2025).

Namun, ketenangan itu sirna pada pertengahan Juni 2025. Kala itu, sang mantan istri meminta izin membawa anak-anak berlibur ke Surabaya dan Gorontalo usai acara kelulusan sekolah. Asian, yang masih berstatus duda, dengan tulus mengizinkan. Ia tak pernah menyangka izin sederhana itu akan menjadi awal dari kerinduannya yang panjang.

“Saat itu saya izinkan, karena rencananya anak-anak hanya diajak jalan-jalan sampai akhir Juni. Mereka dijemput oleh neneknya dan dijadwalkan pulang ke Bali pada akhir bulan,” kisahnya.

Namun, waktu berlalu. Anak-anak tak juga kembali ke Bali seperti yang dijanjikan. Ketika Asian mengingatkan agar mereka pulang sebelum 10 Juli untuk mengikuti prosesi mewinten di sekolah, balasan pesan dari sang mantan istri justru membuat hatinya hancur.

“Dia malah kirim pesan kalau anak-anak akan dikembalikan tahun depan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian, nomor kontaknya diblokir. Komunikasi pun terputus total.

Asian sempat mencoba berkomunikasi lewat pengasuh anak. Namun, setelah video call diketahui oleh mantan istri, ibu kandung, dan suami barunya, pengasuh itu ditegur keras. “Anak-anak sempat bilang mau pulang ke Bali, tapi setelah itu semua kontak terputus,” kenangnya.

Merasa tak berdaya, Asian kemudian melapor ke Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) untuk meminta mediasi dan mempertemukan dirinya dengan anak-anak. Namun, justru kuasa hukum sang mantan istri yang merespons panggilan mediasi itu, bahkan menggugat Asian ke pengadilan.

Namun  dalam setiap panggilan sidang, baik mantan istri maupun ibu mertuanya tak pernah hadir. Di sisi lain, kabar yang sampai ke Asian menyebutkan bahwa kedua anaknya kini berada di Gorontalo.

“Sebagai ayah, saya sangat khawatir dengan kondisi mereka. Sudah berbulan-bulan saya tidak bisa bertemu, tidak tahu bagaimana keadaan mereka,” ucapnya dengan nada sedih.

Dalam proses hukum yang berjalan, muncul pula isu bahwa anak-anak disebut mengalami trauma terhadap sang ayah, berdasarkan hasil pemeriksaan psikolog di Gorontalo. Namun, informasi itu segera diluruskan oleh pihak Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Gorontalo melalui koordinasi dengan UPTD PPA Provinsi Bali.

Menurut keterangan resmi, hasil pemeriksaan psikologis tersebut hanya untuk keperluan pemantauan tumbuh kembang anak, bukan untuk alat bukti persidangan.

Nyoman Asian menilai isu itu merupakan bentuk opini yang sengaja digiring untuk menyudutkan dirinya. “Ada video lama di TikTok yang diunggah lagi dengan narasi negatif, bahkan ada surat kaleng ke instansi tempat saya bekerja. Isinya sama dengan bukti yang dipakai di persidangan,” ungkapnya.

Atas situasi itu, Asian akhirnya melapor ke Unit PPA Polresta Denpasar. Ia menduga ada unsur niat tidak baik dari pihak mantan istri saat mengajak anak-anak berlibur namun tidak mengembalikannya sesuai kesepakatan.

“Kami melapor ke PPA Polresta karena dalam chat ajakan libur itu ada dugaan pelanggaran dan niat tidak baik,” jelasnya.

Kini, Nyoman Asian hanya berharap proses hukum berjalan transparan dan berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak-anak. Ia juga memohon agar komunikasi dengan kedua buah hatinya segera dipulihkan.

“Saya hanya ingin anak-anak bisa kembali ke Bali, agar kami bisa berkumpul lagi dan mereka bisa menjalankan upacara keagamaan seperti biasa,” tutupnya lirih.

Komentar