Cokorda Mengwi: Ngrastiti Jagat dan Implementasi Tri Hita Karana
Dari Karya Mapedudusan Pura Penataran Agung Pucak Mangu
MANGUPURA,NusaBali - Setelah parikrama Segara Kertih, Danu Kertih dan Wana Kertih Puncak Karya, Mapedudusan Agung, Mapeselang, Memasar lan Menawa Ratna digelar di Pura Penataran Agung Pucak Mangu, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung pada purnama kalima, Wrespasti Umanis, Juluwangi, Rabu (5/11).
Upacara dihadiri Ida Cokorda Mengwi XIII, Bupati Badung Wayan Adi Arnawa dan Ketua DPRD Badung Anak Agung Anom Gumanti, Astapuri Mengwi dan masyarakat.
Upacara mapadudusan digelar pukul 14.00 WITA dipuput Ida Pedanda (Yajamana) dari Geriya Sidemen Munggu, Ida Pedanda Gede Mas Pratama dari Geriya Tegeh, Ida Pedanda Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari Ubud. Sementara upacara mapeselang lan mapasaran dipuput Ida Pedanda Made Pemaron Sidemen dari Geriya Pemaron Munggu, Ida Pedanda Bodha dari Geriya Purnawati Karang Embang, Ida Pedanda Gede Simpangan dari Geriya Simpangan Buduk, Mengwi dan Ida Pedanda Istri Rai Mas.
Ida Cokorda Mengwi XIII mengatakan, upacara serupa pernah digelar 15 tahun lalu, saat dirinya masih menjabat sebagai Bupati Badung. Makna karya Agung ini untuk ngrastiti kerahayuan jagat, memohon kesejahteraan umat. "Upacara sebelumnya pernah dilaksanakan 15 tahun lalu, makna upacara ini untuk ngrastiti kerahayuan jagat, memohon kesejahteraan umat," ujar Ida Cokorda Mengwi XIII, di sela-sela pelaksanaan puncak karya, Rabu (5/11).
Menurut Ida Cokorda Mengwi, sebelum puncak karya kemarin, rangkaian upacara sudah digelar sebagai makna mengembalikan keharmonisan alam beserta isinya. Rangkaian upacara dimulai dengan Mapekelem (Segara Kertih) dengan sarana kerbau di Segara Seseh, Kecamatan Mengwi Badung pada Kamis (30/10), Mapekelem di Danau Beratan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan pada Sabtu (1/11) serta melaksanakan prosesi Wana Kertih di hutan kawasan Pura Pucak Mangu dengan melepas berbagai binatang langka yang digelar pada Anggara Kliwon, Juluwangi, Selasa (4/11). "Seluruh rangkaian upacara yang digelar mulai Segara Kertih, Danu Kertih dan Wana Kertih hingga puncaknya di Purnama Kalima, merupakan implementasi dari konsep Tri Hita Karana, yang bermakna menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa, keharmonisan manusia dengan manusia, keharmonisan manusia dengan alam atau lingkungan. Dengan pelaksanaan falsafah Tri Hita Karana ini diharapkan jagat Bali akan harmonis sehingga memberikan kesejahteraan untuk umat," ujar Bupati Badung periode 2005-2010 dan 2010-2015 ini.n Nat
Komentar