Melihat Tradisi Ngigel Desa Adat Nagasepaha, Desa Nagasepaha, Kecamatan/Kabupaten Buleleng
Krama Negak Wajib Ngayah Tiap Dua Tahun Sekali
Tidak ada syarat khusus, juga tidak ada aturan saklek soal busana atau pakem, masing-masing penari diberikan waktu lima menit untuk menari
SINGARAJA, NusaBali
Sebuah tradisi unik yang terus dirawat turun temurun hingga hari ini masih lestari di Desa Adat Nagasepaha, Desa Nagasepaha, Kecamatan/Kabupaten Buleleng. Setiap dua tahun sekali, krama lanang (pria) yang berstatus krama negak (asli), akan tampil menari di areal Pura Desa Nagasepaha. Tradisi ini disebut Ngigel Desa. Tanpa pakem khusus dalam gerakan, tanpa aturan seragam, setiap penari menari sesuai naluri, kemampuan, kreasi, dan kenyamanan masing-masing.
Tradisi Ngigel Desa ini menjadi bagian dari rangkaian piodalan Pura Desa yang jatuh pada Purnama Kelima, Buda Umanis Julungwangi, Rabu (5/11). Namun Ngigel Desa baru digelar pada Wayonan sehari setelah puncak piodalan, Wraspati Paing Julungwangi, Kamis (6/11). Momentum ini sekaligus menjadi penutup rangkaian piodalan di desa setempat.
Satu per satu penari keluar dari mandala utama Pura Desa dan langsung menari di madya mandala. Iringan tetabuhan dari sekaa gong mengalun, menambah suasana sakral sekaligus meriah. Di sinilah daya tariknya. Tidak ada gerak sama yang wajib diikuti. Para penari mengekspresikan rasa bakti, kreativitas, sekaligus keyakinan mereka lewat gerakan bebas.

Kelian Desa Adat Nagasepaha, Jro Mangku Made Darsana. -LILIK
Busana yang dikenakan pun penuh kreasi. Ada yang memilih tampil layaknya penari Bali lengkap dengan badong, udeng hingga saput prada. Ada pula yang simpel dan serba putih sesuai warna sakral upacara Dewa Yadnya. Semua diterima. Semua sah. Karena inti tradisi ini bukan pada keseragaman, namun pada esensi yadnya dan kesinambungan warisan leluhur.
Kelian Desa Adat Nagasepaha, Jro Mangku Made Darsana mengungkapkan Ngigel Desa telah diwarisi dari para tetua sejak dahulu dan wajib hadir setiap dua tahun sekali. “Sesolahan Ngigel Desa ini memang sudah kami laksanakan turun-temurun dari leluhur dan hanya ada di rangkaian piodalan Pura Desa,” ujar Darsana. Sebelum menari, krama melinggih akan dijemput (dipendak) dari Balai Banjar oleh krama saye (piket), diiringi baleganjur. Sesampainya di pura, mereka akan duduk di bale panjang sebelum menari. Tidak ada syarat khusus. Tidak ada aturan saklek soal busana atau pakem. Masing-masing penari diberikan waktu lima menit untuk menari.
Di penghujung tarian, penari kemudian menyentuh api damar sebagai penanda tarian sudah dilaksanakan. Yang menarik lagi, pembagian krama setiap dua tahun juga bergilir. Sebagian akan menjadi krama saye yang bertugas menyiapkan sarana prasarana upacara, sementara sebagian lainnya menjadi krama melinggih yang hanya fokus menjalani tradisi Ngigel Desa ini. Sistem rolling ini memastikan setiap krama akan mendapatkan giliran pada waktunya.
Made Alit Budiarta, salah satu krama yang baru dua kali mendapat tugas ngayah ngigel desa, mengaku sudah menyiapkan diri sejak jauh hari. Bahkan dia belajar menari kepada tetua dan kerabat yang sudah berpengalaman. “Karena ini tradisi kami di sini, sudah sepantasnya wajib dilaksanakan. Tentu ini menjadi kebanggaan kami sebagai krama. Meskipun tidak bisa, itu tantangan yang bisa dipelajari,” ungkap Alit. 7 k23
Komentar