nusabali

Sebagian Wilayah Bali Sudah Masuk Musim Hujan

BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem

  • www.nusabali.com-sebagian-wilayah-bali-sudah-masuk-musim-hujan

BMKG juga memperingatkan meningkatnya potensi siklon tropis di wilayah selatan Indonesia, terutama pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara yang dapat memicu peningkatan curah hujan.

MANGUPURA, NusaBali
Sejumlah wilayah di Bali mulai diguyur hujan seiring masuknya awal musim hujan 2025-2026. Berdasarkan analisis Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bali, sebagian besar wilayah Bali akan memasuki musim hujan secara bertahap, dengan puncak terjadi pada Januari hingga Februari 2026. BMKG pun memberikan peringatan masyarakat agar waspada terhadap cuaca ekstrem saat musim hujan seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bali, Aminudin Al Roniri menjelaskan bahwa awal musim hujan di wilayah Bali bervariasi. Sekitar 1 Zona Musim (ZOM) atau 5 persen wilayah telah mengalami musim hujan sejak September, 9 ZOM atau 45 persen wilayah memasukinya pada Oktober, dan sisanya 10 ZOM atau sekitar 50 persen akan menyusul pada November.

“Daerah yang sudah memasuki musim hujan pada bulan Oktober yaitu ZOM 433 (Bangli bagian Selatan, Karangasem bagian selatan, dan Klungkung bagian utara),” ujarnya dalam rilis resmi pada Rabu (5/11).

Sementara itu, sembilan 9 ZOM di Bali diperkirakan mulai mengalami hujan pada November ini. Wilayah tersebut meliputi ZOM 417 (Sebagian besar Jembrana), 419 (Jembrana bagian utara dan Tabanan bagian barat), 420 (Jembrana bagian timur dan Tabanan bagian barat), 421 (Buleleng bagian selatan), 422 (Tabanan bagian utara, Badung bagian utara, Gianyar bagian utara dan Bangli bagian tengah), 423 (Buleleng bagian tengah dan selatan, Tabanan bagian utara dan Badung bagian utara), 429 (Karangasem bagian tengah), 431 (Tabanan bagian tengah, Badung bagian tengah, dan Gianyar bagian tengah), 432 (Tabanan bagian tengah, Gianyar bagian selatan, dan Badung bagian tengah).

“Dilihat dari titik pos hujan, hingga 31 Oktober 2025 terdapat titik pos hujan yag sudah masuk musim hujan, di antaranya adalah Pos Pupuan, Bajera, Bebandem, Duda, dan Sidemen,” lanjutnya.

Adapun 25 titik pos hujan lain menunjukkan indikasi akan memasuki musim hujan pada November, antara lain Pos Hujan Palasari, Negara, Yehembang, Pulukan, Sumber Klampok, Busungbiu, Suraberata, Munduk, Pelaga, Baturiti, Petang, Luwus, Candikuning, Wanagiri, Gitgit, Kahang-kahang, Abang, Singarata, Susut, Buruan, Meliling, Bongan, Banjarangkan, dan Ngurah Rai. BMKG juga memprediksi puncak musim hujan tahun 2025–2026 akan terjadi pada Januari (9 ZOM atau 45 persen) dan Februari (11 ZOM atau 55 persen).

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa hujan kini mulai meluas dari wilayah barat menuju timur Indonesia dan akan terus meningkat intensitasnya dalam beberapa pekan mendatang. Hingga akhir Oktober, 43,8 persen wilayah Indonesia atau setara 306 ZOM telah resmi memasuki musim hujan.

“Kita sedang memasuki periode transisi menuju puncak musim hujan. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang, terutama di wilayah selatan Indonesia yang mulai terpengaruh sistem siklon tropis dari Samudra Hindia,” ujarnya.

BMKG memprediksi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Bali, Nusa Tenggara, Jawa, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi Selatan, serta Papua Tengah. Dwikorita menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini cukup aktif dipengaruhi oleh Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby dan Kelvin, serta anomali suhu muka laut positif di perairan Indonesia. Kondisi ini memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan potensi badai.

Dia juga memperingatkan meningkatnya potensi siklon tropis di wilayah selatan Indonesia, terutama pesisir selatan Jawa hingga Nusa Tenggara. “Siklon tropis di Samudra Hindia dapat memicu peningkatan curah hujan secara drastis dan menyebabkan banjir besar di wilayah pesisir,” katanya.

Dwikorita juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi secara mendadak. Ketika hujan lebat turun disertai petir dan angin kencang, masyarakat disarankan untuk menjauhi area terbuka, pohon, atau bangunan yang rapuh. Cuaca terik yang masih terjadi di beberapa wilayah juga memerlukan perhatian dengan menjaga asupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung kulit. Selain itu, tambah dia, kesiapsiagaan terhadap potensi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor perlu terus ditingkatkan, terutama di wilayah dengan topografi curam dan daerah aliran sungai.

“Apabila dapat dimitigasi dengan tepat, maka musim hujan dan puncak musim hujan yang diprediksi akan lebih panjang dari normalnya ini, akan menjadi bermanfaat bagi pertanian dan untuk mendukung ketahanan pangan,” imbaunya seraya menegaskan pentingnya masyarakat untuk memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG. 7 ol3

Komentar